Memperkenalkan bisnis jasa pengolahan data di tahun awal karirku, 1974, tak terlalu sulit, kuanggap. Sebab hampir kebanyakan perusahaan atau instansi besar, yang banyak urusannya, banyak pegawainya, luas cakupan wilayahnya, banyak produknya, sistem produksi dan pemasaran yang rumit, memerlukan aneka perhitungan yang sulit, rumit, panjang berjenjang, yang pada akhirnya harus bermuara menjadi sebuah informasi yang membantu para pemimpin usaha atau instansi dalam memudahkan pengambilan keputusan penting, demi kesuksesan usahanya, maka hampir tak ada alasan untuk tak menggunakan komputer. Continue reading
1 Oct
Moeljono Jadi Manajer, Aku Tidak!
Sebelum pulang ke homebase Surabaya, ada beberapa bulan aku mesti masih tinggal di Jakarta, untuk mulai berlatih jadi programmer atau Analis Sistem beneran. Di Pansystems Jakarta kan sudah lama ada, jadi selalu ada yang bisa dikerjakan. kalau pulang ke Surabaya, mau ngerjakan apa? Lagian komputer di Surabaya juga belum ada! Continue reading
30 Sep
Ketika Training Komputer di Jakarta
Tahun 1974, bulan September, awal bulan, aku sampai di Jakarta, setelah nunggang bis semalaman, bersama rekan sejawatku, Moeljono, peserta test masuk yang terakhir harus kami ubek-ubek cari almost seharian. Naik bis malam, sangat dingin. AC bis nggak bisa dikecilkan. Dan selama berjam-jam, he.. he.. he.. aku harus menghirup ‘gas buang’ Moeljono, yang katanya kembung. karena gak tahan AC. Padahal, ambune…. rek…! Buauuuukkkk….! Bedhes! Continue reading
17 Sep
Menyerah itu Mudah
Tak ada pekerjaan yang paling mudah dilakukan di dunia ini, Bintang kecilku, selain satu kata, menyerah. Kau tak perlu memikirkan apa-apa lagi, cukup kau katakan saja, sudahlah, aku menyerah saja, lalu hentikan semua pekerjaanmu, upayamu, menyerahkan semuanya kepada pemberi kepercayaan yang kau sudah rasakan sebagai tak mampu lagi kau teruskan, menyerah. Putus di situ, sudah. Continue reading
10 Sep
Penggal-Penggal dalam Karir (Pekerjaan)
Sebuah iklan nampang di koran, mengundang sarjana atau sarjana muda eksakta, untuk mengisi peluang kerja di bidang EDP (bukan Edi Purwono, tapi Electronic Data Proceessing, yang komputer). Iseng-iseng, aku mencoba mengirimkan lamaran, setidaknya, kalau cuma Sarjana Muda Eksakta, aku punyalah. Apa lagi, kala itu, tahun 1974, peluang kerja di bidang komputer, opo ora hebat? Komputer yang cuma bisa aku lihat di film-film. Alkisah, lamaran pun dikirim. Dan hari test-pun tiba. Continue reading
9 Sep
Membesarkan Anak-Anakku
Tadinya aku mau bilang, ‘mendidik anak-anakku’. Tapi aku pikir, sombong sekali, sih … Sebab, menurutku, baru disebut ‘mendidik’ itu kalau kita sudah memiliki sebuah sistem tertentu yang jelas, baik konsep, implementasi maupun sasarannya. Mendidik lebih dekat ke arah membentuk, sesuai dengan selera si pembentuk tersebut. Apa yang ia mu, itulah yang dijadikan acuan ketika melakukan proses pembentukan yang disebut mendidik tadi. Lha, saya … ? Continue reading
8 Sep
Aku Suka Nyanyi
Aku, Edi Purwono, suka nyanyi. Jangan salah, suka nyanyi, bukan penyanyi. Apa lagi bersuara merdu, mendayu-dayu, dengan vibra, yang menggetarkan dan menarik hati. Wah … jauuuuuuhhh…. Gak, lah. Tidak sebaik mbahku kalau nyanyi. Bahkan anak-anakku sering jail, katanya ‘Dad …. pantesnya Dad ini nyanyi di televisi, bukan hanya di kamar mandi’. Wah … tersanjungnya aku…! Emang kenapa? Dengan enteng anak-anakku mengutarakan alasannya, mengapa menyarankan aku nyanyi di televisi. Katanya, ‘Kalau dad nyanyi di tivi, aku kan bisa matikan tuh tivi! Kalau dad nyanyi di kamar mandi, gimana matikannya? Kan nggak ada remotenya? Kan nggak mungkin aku bunuh kamu, daad…?’. Yah ……!? Continue reading
7 Sep
Kemarin Itu adalah Masa Lalu
Kemarin memang sudah lewat, Nonno, seperti kau bilang, sudah jadi masa lalu. Lalu apa pentingnya pula kau katakan itu padaku?Adakah sesuatu yang istimewa dari pernyataanmu itu, sehingga aku mesti dengarkan lagi? Aku pikir semuanya sudah sangat jelasnya, kemarin sudah lewat, dan jadi bagian masa lalu. Apa istimewanya? Continue reading
2 Sep
Tukang Masak!
Edi Purwono adalah sulung dari sepuluh bersaudara, dengan jarak usia antara 2-3 tahun. Maka antara Edi Purwono si sulung dengan Endang Hari Luhkitasari, si bungsu, mencapai selisih 25 tahun. Si bungsu itu seumur dengan sulung dari Edi Purwono, Asti Fitria Damayanti (Pipit). Wajar, dalam kehidupannya semasa kecil dan remaja, maka Edi Purwono, harus lebih banyak berusaha agar mampu mengurus dirinya sendiri, dan membantu kedua orangtuanya, almarhum Soejono dan almarhumah Soeharijatoen, untuk ikut menjaga adik-adiknya yang banyak. Edi Purwono jelas nggak ingin lebih memberati kedua orangtuanya yang sudah repot dengan adik-adik yang jumlahnya banyak dan masih membutuhkan bantuan dibanding menolong dirinya sendiri.
Seperti Edi Purwono cerita sebelumnya, yang mirip anak ayam yang besar di luar sarang sejak ditetaskan, maka sejak dini ia sudah sangat terbiasa mengurus keperluannya sendiri. Sejak kelas 4 SR (Sekolah Rakyat, sekarang SD, Sekolah Dasar) dia sudah tak perlu bantuan orangtuanya, seperti untuk belajar, cari sekolah, mengurus surat-surat yang diperlukan, mencuci dan menyetrika baju, bahkan tak cuma keperluannya sendiri, tetapi juga keluarga. Bahkan sampai mereparasi sepeda, nambal ban, dan mengecatnya, supaya kelihatan baru. Dan sesuai topik, tukang masak, juga mempersiapkan makanan. Salah satu ‘kegenitan’ yang dimiliki oleh Edi Purwono kecil, sampai remaja, dan mungkin sampai jadi embah, eyang, adalah berusaha mengambil alih semua yang mungkin untuk ditangani. Yang lain silahkan menikmati saja. Kalau bisa …….. Continue reading
31 Aug
Aku, Edi Purwono : Tabloid yang Terhenti
Tabloid IT yang aku pegang di urusan keredaksiannya itu menjadi sebuah tabloid yang cukup membuat nyali beberapa penerbit media komputer lain yang berbentuk majalah rada jerih (cemas). Sebagai bentuk yang tabloid seperti itu dengan mudah ia bisa dipasarkan tak ubahnya koran-koran biasa, yang bisa murah. Beda dengan majalah yang harus rada eksklusif en…. mahal. Mana tak pantas pula kalau majalah terbit mingguan, kecuali majalah berita. Akan sedikit elit kalau terbitnya bulanan. Kan mahal? Nanti kalau keseringan muncul duit pembacanya kan cepet abis?
Format tabloid sangat menguntungkan. Bisa terbit secara mingguan, dam dengan demikian mampu memuat perkembangan-perkembangan terakhir dunia IT yang beberapa hari lalu terjadi. Sementara kalau bulanan, persiapannya sendiri sudah hampir sebulan, maka mereka ketinggalan dengan perkembangan terbaru dua bulan yang lalu. Dan karena sudah terlanjur ketinggalan, maka biasanya mereka membuat tulisan yang diusahakan lengkap. Padahal untuk lengkap sama sekali, mesti menunggu berita-berita 1-2 bulan lagi. Sementara aku, di tabloidku, main tabrak lari saja. Jika kurang lengkap, ya tunggu minggu depan di edisi berikut. Kan nggak terlalu lama kalau mau penasaran, bukan?
Beda yang lain, adalah bahwa di kebanyakan media IT lain mengandalkan para penulis yang ‘hanya’ berpengetahuan komputer. Fresh-fresh graduare dari sekolah IT yang belum cukup pengalamannya di implementasi. Mereka gampang kagum dan terkesima oleh kemajuan teknologi tertentu, yang menurut mereka hebat, sementara di tataran implementasi masih belum ketahuan. Masih nunggu teknologi tersebut benar-benar mateng dan teruji. Pun pula tak mudah bagi organisasi-organisasi bisnis untuk pindah platform. Mereka takut sistem informasi yang sudah jadi andalan kegiatan bisnis mereka terganggu, yang membuat kegiatan bisnis menjadi rada tersendat.
Sementara, aku sebagai pemimpin redaksi tabloid IT-ku, sudah hampir 20-tahun malang melintang sebagai konsultan sistem komputerisasi di banyak perusahaan besar merupakan jaminan bahwa aku bakal tahu persisi mengenai apa sebenarnya informasi It yang dibutuhkan oleh para praktisi. Selain aku juga perlu menyampaikan perkembangan terbaru di bidang IT, aku juga bisa menuliskan mengenai opiniku tentang manfaat, resiko, dan berbagai hal lain terkait perkembangan tersebut dan hubungannya dengan implementasi pengolahan data di berbagai ‘user’ komputer. Sebagai konsultan IT pula maka aku punya keberanian tinggi (kan aku Edi Purwono?) untuk tampil di berbagai seminar. Bahkan aku pernah jadi host sebuah acara tetap TVRI Surabaya, mengenai IT. Makin moncer saja tabloidku jadinya….! Belum lagi aku juga banyak diminta mengajar, sebagai dosen, di sejumlah perguruan tinggi.
Seperti aku pernah cerita sebelumnya, di tabloid IT yang aku kelola itu aku cuma ngurusin soal keredaksiannya saja. Menjamin bahwa bahan-bahan sudah siap naik cetak pada waktunya. Kalau libur lebaran malah bisa-bisa dalam seminggu harus bisa menerbitkan tiga edisi sekaligus. Karena percetakan akan tutup, para agen juga tutup, dan pengasong pada mudik.
Karena aku berpengalaman menjadi redaksi tunggal, maka aku hampir tak kesulitan mempersiapkan tabloid tersebut, meski harus digeber seperti rapelan tadi. Bahkan para anak-buah penulisku pun tak perlu ikut gemetar harus mengejar deadline. Biarpun mereka tak mengirimkan tulisannya, aku tak mempersoalkan. Tau-tau sudah terbit. Eh… begitu itu, mereka cuma bilang, ‘e.. kok sudah terbit ya… Padahal aku belum nulis apa-apa…’.
Tabloid yang aku kelola tersebut merupakan kerjasama modal, antara bossku yang memang bergerak di bisnis IT, dengan kelompok media terkemuka dan terbesar di Surabaya. Dari pihak bossku, kami bertanggungjawab soal keredaksian, sementara dari mereka soal pemasaran, pencetakan, promosi dan iklan. Katanya mereka jago-jago di urusan itu.
Tujuh tahun sudah tabloidku terbit, tanpa pernah kesulitan jadwal terbit, dan content keredaksiannya. Sampai suatu saat ada kabar menyambar bak geledek, tabloid tidak bisa lagi dicetak. Perintah boss pihak ‘sana’ yang memerintahkan hal tersebut. Kenapa? Tabloid ternyata punya hutang kepada percetakan milik pihak ‘sana’ tadi cukup besar. Harus dilunasi!
Saat itulah aku baru diajak bicara di luar urusan keredaksian. Sebab tak cuma tabloid dihentikan cetaknya, juga para awak tabloid pun tak diberi gaji. Pokok berhenti, begitu saja! Aku sih masih punya gaji dari bossku di mana aku bekerja, tidak dari tabloid. Tapi bagi mereka yang cuma melulu bekerja di tabloid IT?
Usut punya usut, aku baru tahu bahwa selama ini telah terjadi penyelewengan di urusan non-keredaksian. Tagihan iklan ditilep sama bagian iklan. Demikian juga di urusan distribusi-sirkulasi-langganan. Tagihan tak disetor ke kantor. Lalu yang pegang urusan internal pun banyak bikin penggelapan. Misalnya tiba-tiba ada tagihan servis komputer, beli ina-ini, entertain klien yang tak jelas. Gimana tidak, semuanya di satu tangan, ya pegang duit, ya ngurusi keperluan kantor. Aku mana tahu? Padahal aku sudah mengusahakan sehemat dan sepelit mungkin. Rasanya aku seperti disabotase mentah-mentah. Ditelikung dan dibokong habis. Dikhianati secara terang benderang! Tabloid yang sudah merupakan separuh nafasku, begitu saja harus lepas! Justru oleh kalangan sendiri!
Dalam beberapa bulan, teman-teman redaksi masih bertahan. Rata-rata mereka masih bujangan, dan masih terima kiriman orang tua mereka, karena masih kuliah. Sekali-sekali mereka masih mampir ke kantorku, sekedar silaturahmi denganku.
Saat itu aku kebetulan punya penghasilan tambahan dari sejumlah proyek pengembangan komputerisasi dan konsultasi komputer. Sehingga meski cuma sedikit, kecil-kecilan, para mantan redaksiku masih bisa aku sangoni, setidaknya separuh dari gaji mereka sebelumnya.
Tak tahan melihat masa depan mantan redaksiku yang begitu saja diklemprakkan oleh boss membuat aku punya gagasan, untuk menerbitkan majalah IT sendiri. Karena duit tak banyak, maka majalah itu kami rencanakan terbit bulanan saja. Mereka setuju, dan pindahlah ‘kantor’ mereka ke rumahku. Sempat muncul hampir setengah tahun, enam edisi, tiba-tiba tabloid IT yang semula dipingsankan oleh boss ‘sana’ berencana terbit lagi. Boss ‘sana’ menggandeng investor lain, sehingga para awak penulis yang semula kerja di rumahku, direkrut lagi. Aku? Tidak termasuk. Sebab aku kan memang punya kerjaan di bossku sendiri.
Akibatnya, majalah IT yang terbit dari rumahku itu pun mengulang sejarah awal penerbitan tabloid-ku dulu. Cuma ada Edi Purwono. Majalah sudah punya pasar, pembaca dan pelanggan sudah meliputi Indonesia Raya, masa harus berhenti. No way, kan?
Untung cuma bulanan, maka aku masih punya waktu yang sangat berlebih untuk menerbitkannya sendiri. Ya nulis, ya nge-layout, ya bawa ke percetakan, ya nggendong ke sana-sini untuk promosi, cari iklan, nganter ke agen, kirim ke pelanggan, semuanya aku lakukan secara paripurna. Di boks redaksi, agar tidak terlihat melompong, maka aku isikan nama-nama seperti Edi Purwono, Edi Pribadi, Masedi Sorangan, nama anak-anakkua yang kala itu masih SD, termasuk anak ketigaku yang almarhum (aku beri dia jabatan koresponden luar negeri!),
Majalah itu sempat terbit setahun, dengan segala jerih payah yang super melelahkan. Lalu tiba-tiba badai krisis moneter menghantam dunia. Proyek-proyek komputerisasi dan konsultasi banyak distop. Perusahaan lebih berkonsentrasi untuk menyelamatkan diri dari sergapan badai krismon (krisdayanti montok?) tersebut. Maka sumber penghasilanku menciut. Penjualan majalah juga berkurang, sementara harga-harga naik lima kal lipat. Ya harga kertas, ongkos cetak, angkutan, dan lain-lainnya. Maka dengan gagah berani aku putuskan menghentikan penerbitan pribadiku tersebut! Agen-agen, terutama luar Surabaya, karena tak aku kirimi majalah baru, duit penjualan edisi lalu pun tak mereka kirimkan. Komplit bin sempurna en.. paripurna sudah!
Sampai hari ini aku masih suka penasaran untuk punya atau terlibat dalam urusan media. Sayang, belum pernah ketemu sama pemodal. kalau saja ada, aku berani menjamin kalau mampu menghadirkan media yang pasti menguntungkan, laku, dan diminati. Semua rahasia pemasaran, distribusi, dan trik-trik soal media sudah dalam genggaman. Soal content, tak perlu ragu. Silahkan mau model apa. Mau majalah wanita, boleh! Majalah IT dan teknologi? Tak soal. Majalah berita dan bisnis, wuah… aku jago juga, kok!
Cuma penerbitan media memang sebuah bisnis yang bermodal gajah, namun dengan keuntungan tikus di awal-awalnya. Perlu dayatahan cukup. Kalau mau jadi gede, aku yakin bisa melakukannya. Tak soal dengan makin surutnya kapasitas penglihatanku. Asal ada yang menuntun aku, atau mengantarkanku, semuanya pasti bisa diatasi. Otak ini adalah otak milik Edi Purwono, yang sudah sangat teruji dan terlatih menghadapi berbagai cobaan berat. Otak ini selalu bisa menghadirkan solusi-solusi yang mampu menembus persoalan apa pun. Insya Allah.
Salamku.
Recent Comments