Edi Purwono adalah sulung dari sepuluh bersaudara, dengan jarak usia antara 2-3 tahun. Maka antara Edi Purwono si sulung dengan Endang Hari Luhkitasari, si bungsu, mencapai selisih 25 tahun. Si bungsu itu seumur dengan sulung dari Edi Purwono, Asti Fitria Damayanti (Pipit). Wajar, dalam kehidupannya semasa kecil dan remaja, maka Edi Purwono, harus lebih banyak berusaha agar mampu mengurus dirinya sendiri, dan membantu kedua orangtuanya, almarhum Soejono dan almarhumah Soeharijatoen, untuk ikut menjaga adik-adiknya yang banyak. Edi Purwono jelas nggak ingin lebih memberati kedua orangtuanya yang sudah repot dengan adik-adik yang jumlahnya banyak dan masih membutuhkan bantuan dibanding menolong dirinya sendiri.
Seperti Edi Purwono cerita sebelumnya, yang mirip anak ayam yang besar di luar sarang sejak ditetaskan, maka sejak dini ia sudah sangat terbiasa mengurus keperluannya sendiri. Sejak kelas 4 SR (Sekolah Rakyat, sekarang SD, Sekolah Dasar) dia sudah tak perlu bantuan orangtuanya, seperti untuk belajar, cari sekolah, mengurus surat-surat yang diperlukan, mencuci dan menyetrika baju, bahkan tak cuma keperluannya sendiri, tetapi juga keluarga. Bahkan sampai mereparasi sepeda, nambal ban, dan mengecatnya, supaya kelihatan baru. Dan sesuai topik, tukang masak, juga mempersiapkan makanan. Salah satu ‘kegenitan’ yang dimiliki oleh Edi Purwono kecil, sampai remaja, dan mungkin sampai jadi embah, eyang, adalah berusaha mengambil alih semua yang mungkin untuk ditangani. Yang lain silahkan menikmati saja. Kalau bisa ……..
Karena berkeinginan kuat untuk melayani keluarga, adik-adik dan orangtua serta seisi rumah lainnya (sekitar 6 orang lagi adik dan keponakan bapak dan ibu yang dititipkan untuk dibesarkan di rumah kami), maka kalau sekedar menanak nasi, membuat nasi goreng, atau masakan gampang lainnya, selalu Edi Purwono berusaha mengambil alih perannya. Dengan penuh kebanggaan ia melihat para penikmat layanannya yang merasa pas dan berselera. Kebanggaan untuk melayani dengan baik itulah kredo pribadi yang tertanam sejak kecil, remaja, dan berbuah lebat ketika dewasa dan embah-embah. Semangat melayani dan membaikkan orang yang dilayani itulah yang membuat Edi Purwono bersemangat untuk menyongsong hidup, seberat apa pun yang akan terjadi dan ia hadapi. Pelatihan dan semangat ingin melayani itulah yang melatih otak kanan Edi Purwono, untuk berusaha agar mampu melepaskan diri dari semua sergapan jebakan yang menghalangi hidupnya. Sebagai tambahan, shio Macan dan zodiak
Taurus yang melekat di tubuhnya, kalau membaca ramalan horoskop, bernafaspun akan ia nomor duakan, jika ia harus mendahulkan orang lain yang membutuhkan dirinya. Waduh ….. bernafas kok nomor dua, sih … ?
Rasa keinginan tahunya yang terlalu besar, mengenai berbagai hal, agar lebih bisa mempersiapkan sebuah medan dan kualitas pelayanannya kepada yang memerlukan, dan ingin memperbaiki keenakan pihak-pihak yang ingin dan bisa ia layani, maka hampir tak ada hal-hal yang terus digalinya, sepanjang bahwa itu adalah ‘ilmu katon’.
Berbagai jenis kebisaan pun ia kuasai, meski dalam taraf dasar, tak ahli-ahli benar, namun setidaknya untuk sekedar bertahan diri, survival, bisa ia kuasai. Bahkan muncul pula kreasi-kreasi baru, yang tujuannya adalah tetap mampu memberikan pelayanan yang lumayan baik, dengan effort serta biaya murah. Maklum, dengan orang tua yang cuma tentara, mulai dari pangkat rendah, maka kehidupan serba terbatas adalah sudah menjadi kebiasaannya sepanjang hidup. Setiap ada persoalan yang dihadapkan kepadanya, maka otak kanannya segera mencari solusi, bagaimana agar hemat. Sebab hanya dengan hemat itulah ia bisa merealisasikan kebutuhan itu. Kalau harus mahal, nyerahlah dia. Itu kelemahannya, yaitu kalau sudah harus mengeluarkan biaya besar!
Setiap kali ia datang makan ke tempat-tempat makan, yang populer dan banyak pengunjungnya, maka yang segera berputar di otak Edi Purwono adalah selalu ingin meng-ATM-kannya. ATM? Ya, Amati, Tiru dan Modifikasi! Jika mereka bisa, kenapa aku ‘why not’?
Salah satunya adalah ketika ia makan pangsit mie di sebuah depot, bernama Palapa, yang saat itu seperti wabah yang mampu membuka cabang di berbagai sudut kota di Surabaya. Dengan gayanya, Edi Purwono pun sok-kenal-sok-dekatt, dengan boss depot, yang sedang mempersaipan diri meramu bahan-bahan untuk disajikan sebagai pangsit mie. Gaya yang biasa ia lakukan ialah menunjukkan wajah kekaguman! Dengan modal wajah kagum tersebut, maka lawan bicaranya sdah akan tersanjung. Lagak itu telah mampu menghipnotis lawan bicara, untuk kemudian mengeluarkan semua rahasia yang coba dikorek oleh Edi Purwono! Kena dia!
Setelah semua info mengenai pangsit mie diterima, maka sebelum pulang Edi Purwono menyempatkan diri mampir ke supermarket yang sedang menjelang tutup, berbelanja semua kebutuhan bikin pangsit mie. Dan sampai di rumah, seisi rumah sudah pada masuk ke kamar tidur, maka Edi Purwono sibuk di dapur! Dan setelah pangsit mie siap disantap, sudah disajikan rapi di meja makan, dibangunkanlah anak-anaknya, untuk dipaksa mencicipi masakan ayahnya!
Anak-anak Edi Purwono adalah komentator kuliner yang sangat baik. Edi Purwono membiasakan untuk banyak makan di tempat-tempat yang khas, yang artinya enak dan… murah! Kemampuan keuangannya yang terbatas tak pernah bisa mengajak ke tempat makan yang mahal (belakangan, setelah mereka berpenghasilan sendiri, justru mereka sendiri yang pergi ke tempat-tempat makan yang mahal, dan ayahnya, cuma kebagian diceritain saja …..).
Sebagai komentator kuliner, maka yang Edi Purwono tunggu, adalah komentar mereka. Dengan berharap-harap cemas Edi Purwono menunggu apa komentar mereka setelah dipaksa menikmati masakan ayahnya. Sebuah kebahagiaan besar, dan menambah kepercayaan diri, adalah ketika mereka merasa enak. Enak, dad….!
Tetapi sekedar bisa, dan mampu menyajikan secara enak, bukan tujuan utama dari Edi Purwono yang selalu ketakutan melarat, dan ingin mencari uang demi mendukung keluarga, adalah bahwa semua kebisaan itu harus dapat menghasilkan uang. Jangan heran, dalam 2-3 hari kemudian Edi Purwono pun memproklamirkan diri sebagai penjual pangsit mie. Ada yang dibawa ke kantor untuk dijajakan di kantin kantor, atau disetorkan ke supermarket! Selain juga menerima pesanan melalui telepon dari para tetangga, menyediakan untuk keperluan arisan ibu-ibu, dan lain sebagainya. Sering pula terjadi, ketika ia sedang ada di kantor, menerima telepon dari rumah, karena ada pesanan untuk arisan, di mana para ibu-ibu peserta arisan menambahkan pesan ketika memesan makanan, ‘yang masak harus pak Edi lho!. Terpaksalah pulang sebentar, masak, lalu balik ke kantor lagi!
Yang lain adalah ayam goreng. Di kota Pandaan, sekitar 40 kilometer selatan Surabaya, menuju ke kota Malang, ada tempat makan ayam goreng Pak Soleh. Lokasinya masih harus menyusuri jalan desa ke arah Timur Pandaan, lalu masuk kejalan desa berkilo-kilometer lagi ke dalam. Pokoknya tempat itu sangat remote (jangan pergi sendiri, kalau gak ingin kesasar, mending ajak aku … he.. he.. he..).
Di tempat makan pak Soleh itu yang makan bukan main banyak. Banyak rombongan menggunakan bis pariwisata yang panjang berdatangan. Kalau sudah begitu, meja-meja makan yang berbentuk gubuk dan lesehan akan seperti pasar yang hiruk pikuk. Makan jadi kikuk, karena ketika kita makan, di sekitar tempat kita makan sudah dirubung banyak orang, yang antri untuk menggantikan tempat yang sedang kita gunakan makan. Mereka seperti menonton kami yang sedang makan! Coba, risih, nggak? Padahal risih, kan? Toh begitu hal yang sama juga akan kami lakukan ketika terlambat datang dan tak menemukan pondok (gubuk) kosong! (sekarang warung itu makin luas, dengan menempati lapangan desa beberap puluh meter dari lokasinya semula yang pekarangan rumah pak Soleh, toh masih ramai sekali, dengan ritual yang juga sama ‘nonton orang makan’!).
Siapa tak tertarik? Bisa di-ATM, kan?
Alhamdulillah, lidah Edi Purwono punya kelebihan untuk mampu memperkirakan, kira-kira bumbu-bumbu apa saja yang ia rasakan ketika mencicipi makanan. Dengan ketakjuban melihat kelarisan dan enaknya makan ayam goreng pak Soleh, maka ia pun sudah segera tahu, bagaimana menghasilkan masakan seperti itu. Bahkan, unsur ‘M’-nya pun ia kembangkan melalui otak kanannya, agar lebih enak, dan … seperti biasa .. lebih murah!
Maka, segeralah Edi Purwono meracik ramuan bumbu yang diperlukan untuk mencoba meng-T-kan ayam goreng pak Soleh. Dan nyatanya…. berhasil! Salah satu pujian yang membuatnya makin ‘pede’ adalah pujian yang datang dari buliknya, yang bilang, ‘yo.. masih enak ayam buatanmu, le….! Padahal ia juga salah satu penikmat ayam goreng pak Soleh tadinya!
Wuah… rasanya ya seperti ketika Edi Purwono dikereni, digodblessi, dan diinspiringi ketika tampil di blog! Bahagia sekali, sebab ia mampu menghadirkan, sekali lagi, bentuk layanan publik yang tak mengecewakan!
Dan seperti cerita pangsit mie, yang akhirnya mengantarkannya menjadi penjual pangsit mie, maka ayam goreng yang berhasil ia ATM-kan itu juga mendorong ia menjadi penjual ayam goreng. Sayang, semuanya masih belum berbentuk depot atau warung, cuma delivery order saja.
Kini, kemampuan masak Edi Purwono bukan cuma dua macam itu tadi, tetapi sudah banyak. Mau kepiting asem manis, atau udang, yang bahkan kuahnya yang asem manis itu masih jadi rebutan anak-anak dan menantunya, sampai dibawa ke kantor, meski sudah nggak ada lagi kepiting atau udangnya? Bakso? Goreng-gorengannya? Siomay dan batagor? Bahkan yang inipun Edi Purwono sempat menggunakan Kijangnya untuk menjajakan jualan siomay dan batagornya di pinggir jalan, tiap Sabtu dan Minggu pagi! Jangan tanya kalau cuma sekedar chinese food, sea food, steak, bahkan hingga kue-kue seperti onde-onde, ote-ote porong, minuman sari dele, semua telah dicoba buat! Atau nasi tim ayam jamur?
Salah satu original recipe dari Edi Purwono adalah martabak mie. Kenapa mie? Ya, kalau pakai daging, pertama mahal, kedua dia kan nggak bisa jalan sendiri ke supermarket beli daging cincang? Mau coba bikin martabak mie? Begini:
Kalian mesti sedia wajan teflon, diameter 25-30 centimeter. Untuk bikin kulit martabak, biar gak gampang lengket. Bikinlah adonan untuk kulit, coba saja sekitar 150-200 gram teping beras dan jumlah yang sama tepung terigu. Beri garam sedikit, lalu beri air agar encer, yang kalau dituang di wajan bisa langsung melebar dan tipis. Sekali lagi, jangan terlalu asin.
Isinya, gunakan mie instan. Ambil saja mie-nya, lalu lemaskan seperti kalau masak mie instan. Rajang bawang bombay dan bawang pre (bawang daun) tipis-tipis. Campur dengan mie yang sudah lemes, kocok telur tiga butir, dan beri bumbu gulai yang beli jadi saja. Aduk sampai rata.
Siap-siap bikin kulit. Panaskan wajan, jangan terlalu panas, olesi dengan minyak tipis-tipis saja. Lalu tuangkan adonan kulit, puter-puter wajan sampai rata. Setelah itu ambil sesendok isi, yang mie dan telur tadi. Ratakan seluas 10 centimeter persegi. Lalu lipat kulit membentuk segi empat. Balik-balik, biar rada kering. Angkat.
Ulangi lagi membuat kulit martabak, beri isi lagi, tapi jangan dilipat dulu. Tetapi ambil martabak yang sebelumnya, letakkan di atas sebaran mie yang terbentang, lalu di atasnya lagi tebari dengan adonan mie lagi, baru dilipat, Bolak-balik, agar sedikit matang.
Terakhir, tuangi wajan (kalau bisa yang lain) dengan minyak cukup banyak, lalu gorenglah martabak yang sudah jadi sampai kulitnya kering. Sudah. Silahkan makan!
Kebisaan masak itulah yang kini akan aku coba manfaatkan untuk mulai buka warung pangsit setelah lebaran ini. Tempat sudah disewa, tinggal cari pembantu yang akan banyak datang setelah lebaran usai. Saran serupa juga dilakukan kepada Pipiet, karena rupanya ia juga sering meniru serba apa yang bisa dimasak oleh ayahnya selama ini. Tiap pagi ia sudah bawa makanan yang dijual di kantin kantornya, dan usai lebaran ini pula ia juga akan membuka warung di garasi rumahnya. Ia akan juduli warungnya dengan nama Kike’s Rumah Mie, Ki adalah Kiki dan Ke adalah Keke, dua bidadari kecil kekasih Nonno. Agar rencananya tak melempem, maka Edi Purwono sudah mendesain banner dan kartu-nama untuk promoso, tinggal dicetak. Tiap hari ditanya, ‘sudah dicetak?’. Dari ayahnya ia telah terprovokasi untuk segera pensiun dini, dan membuka usaha sendiri (berdasarkan pengalaman ayahnya yang terlalu loyal, dan akhirnya berhenti bekerja, dipensiun dengan amat terpaksa, tanpa memiliki
apa-apa sebagai hasil kerjanya berpuluh-puluh tahun lamanya).
Warung pangsit adalah langkah pertama. Langkah berikut, seperti pernah Edi Purwono bilang, dia mau ‘bisnis angin’! Apa itu? Bisnis angin adalah istilah dari Edi Purwono untuk berbisnis roti. Sebab dari secuil adonan akan menghasilkan roti yang menggelembung besar yang bisa dijual cukup untung. Padahal, di tengah roti itu kan cuma angin? Lipat-lipat lho marginnya!
Ada lagi yang lain? Sampai akhir 2009 ini masih yang dua itu dulu. Kalau modal sudah terhimpun lagi pasti ada rencana-rencana lainnya! Jangan lupa, yang ada dalam rencana Edi Purwono bukan sekedar buka warung semata, tetapi juga jurus-jurus pamungkas pemasarannya! Otak kanannya seperti tak hendak berhenti.
Salamku!
Posted by vizon on September 2, 2009 at 10:13 am
aha… dapat istilah baru nih Om, ATM: Amati, Tiru dan Modifikasi… mantap!
semoga rencana-rencana usahanya berhasil ya Om. ntar pas pembukaan, aku diundang ya, hehe…
Posted by edipurwono on September 2, 2009 at 12:04 pm
Seperti yang aku bilang, Viz, terlalu banyak kisah-kisah sukses yang beredar di depan kita, untuk dengan gampang, sebenarnya, untuk diikuti. Ilmu ATM, adakah salah satunya. Itu tak butuh penggalian dari nol, folloe the leader saja. Jika mereka berhasil, maka jalan yang sama, kemungkinan besar juga akan berhasil, kiranya, sambil memohon pula ridho Tuhan, tentu.
Tak perlu ragu untuk meng-kopi-paste, wannabe, atau apa lah namanya. Dengan ATM maka segela jejak lama tak akan kelihatan lagi, kok. Terimakasih sajalah buat para pendahulu, yang kita ATM-i itu. Pasti akan ketemu, yang sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Sukur-2 kita punya temuan yang lebih hebring?
Salamku
Posted by bandit pangaratto on September 2, 2009 at 10:28 am
Pelajaran memasak yang berharga…
senang bacanya..
Posted by edipurwono on September 2, 2009 at 12:07 pm
Kalau suka masak-masak yang ngawur-ngawur, nanti deh akan aku tulis lagi yang lain. Rencananya mau nulis resep La Pitza (pizza gulung goreng). Maunya… La Pitza adalah Lala Pipit Mirza ….
Salamku
Posted by bandit pangaratto on September 8, 2009 at 8:45 am
Saya pasti tak tega memakannya Pak…
Diabadikan saja..
hhahahahah
SAlam Perantau
Posted by jeunglala on September 2, 2009 at 1:28 pm
Dad..
Aku jadi kangen pas masih sering dimasakin capcay n nasi goreng sama Papiii… huhuhu…
Tapi emang bener, masakanmu itu, Dad, RRRUUUAARRRR BIASA! Aku adalah saksi hidup betapa masakanmu nggak kalah sama masakan restoran.
Cap caymu? Top!
Nasi goreng? Duh. Yang ini malah jadi juara RW kan? (inget nggak, Dad, pas Papi ikut lomba masak Bapak-Bapak yang akhirnya mereka keder semua dan nggak jadi lomba? hihihi)
Pangsit? Ya Allah… uenak!
dan yang paling sip markusip adalah Nasi Tim Ayammu.
Sumprit, Dad.
Aku takut batal puasa cuman karena mbayangin betapa enaknya masakanmu….. hehe
Sehat terus ya, Dad!
Love love you
Miss miss you!
Posted by edipurwono on September 2, 2009 at 4:31 pm
Aduh ….., nanti bapak-bapak pada marah kalau dibilang takut lomba kalau aku ikut.. padahal memang … Lomba nyaris batal, kan, karena selama aklu boleh ikut (lagi) maka gak ada yang daftar lomba. Kasihan, ya, aku. Kok dijauhi seperti penyakit sampar atau kusta saja .. hi .. ha.. he… (ketawa tri-in-wan).
Bagaimana dengan masakanku yang ‘kepiting saus telur’? Kayaknya kamu yang paling getol ngabisin, deh. Atau udang yang oleh-olehnya mas Mirza dari Tarakan? mBak Ira sampai bumbu-bumbunya pun dia bawa ke kantornya …. ka .. ki.. he ..! Kalian berebut di meja makan pula!
Love you full!
Posted by kelly amareta on September 3, 2009 at 1:59 pm
waaa…, ko kelly engga bisa masak enak ya ?
(
kalah jauh sama pak Edi
huaaaa…..
Posted by albertobroneo on September 3, 2009 at 6:18 pm
wah jadi ngiler membaca tulisan ini…
smoga sukses dengan bisnis-bisnisnya Pak..
makasih juga ilmu ATM-nya, kayaknya bisa bermain-main dengan M-nya utk mendapatkan hasil optimal
Posted by edipurwono on September 4, 2009 at 7:04 am
Makasih … makasih … makasih ….
Berbagai impian sudah ngantre di benak, tinggal kesempatan ada modal atau tidak. Sayang mesti setahun berdiri dulu, bisa dapat pinjaman UKM. Tapi, masa setahun saja nggak sabar, setelah 60 tahun begina-begini saja? Atau sama-sama kita gabung bareng bikin bisnis bersama? Di antara blogist? Kita pikirkan.
Salamku
Posted by oculy on September 3, 2009 at 6:58 pm
ha ha ha bisnis angin … klo makan roti berarti makan angin
Posted by EDI PURWONO on September 24, 2009 at 12:13 pm
Makanya, jangan banyak-banyak makan roti, bisa masuk angin, nanti. Ketipu kan, sama roti? Tapi kalau aku yang bisnis roti, harap situ bersedia banyak-banyak ketipu, beli rotiku. Makin banyak ketipu olehku, akan aku doakan masuk sorga, deh!
(Di sana ada nggak, ya, agen roti?)
Salamku