Kemarin memang sudah lewat, Nonno, seperti kau bilang, sudah jadi masa lalu. Lalu apa pentingnya pula kau katakan itu padaku?Adakah sesuatu yang istimewa dari pernyataanmu itu, sehingga aku mesti dengarkan lagi? Aku pikir semuanya sudah sangat jelasnya, kemarin sudah lewat, dan jadi bagian masa lalu. Apa istimewanya?
Permata. Jika kemarin itu memang sudah lewat, sudah pastilah itu. Jika kemarin itu sudah jadi bagian dari masa lalu kita, tak perlu banyak debat mengenai hal itu. Tetapi tentang bagaimana kita mengingat-ingat masa lalu itu, lalu apa nian yang akan membuat pengaruh pada hari ini dan esok hari, di situlah soalnya.
Keberhasilan dan kegagalan adalah cerita-cerita biasa yang terjadi dalam kehidupan. Keberhasilan bukan sebuah jatah dan hak, tetapi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Kegagalan juga bukan hukuman, atau kutukan, yang seolah-olah kita pahami sebagai takdir. Tidak, kegagalan adalah sebuah resiko biasa, karena kita telah melakukan sesuatu dan belum tercapai. Jika kau tak hendak gagal, maka lakukan seperti orang lain, yang tak pernah berbuat apa-apa dalam hidupnya. Kegagalan itu justru ada, dan terjadi, karena kita sudah melakukan sesuatu. Dan dengan telah melakukan sesuatu itu pula, maka harapan untuk berhasil sangat terbuka, dibanding kau tidak melakukan sesuatu.
Keberhasilan dan kegagalan adalah sesuatu yang sudah terjadi. Kita bisa mengatakan apakah usaha kita menemui kegagalan, atau dibilang berhasil, karena sesutau itu sudah terjadi. Sebuah proses yang usai. Sebelumnya, mana kita tahu? Tak ada yang bisa mengatakan, oh.. kau gagal, Permata kecil. Atau, hebat.. kau berhasil,nak.
Karenanyalah, segala sesuatu yang sudah bisa diberi predikat, apakah itu kegagalan, atau keberhasilan, adalah sebuah proses yang pernah kau lakukan, yang kini sudah usai. Ia telah menghiasi bagian dari masa lalu kita. Kemarin, atau bahkan baru saja, beberapa saat lalu. Keberhasilan dan kegagalan itu adalah sesuatu yang sudah lewat, kemarin, bisa kau anggap demikian.
Keberhasila dan kegagalan cuma tinggal dalam catatan, ketika kita mulai menapaki hari baru. Catatan itu permanen, tak akan berubah. Berhasil ya berhasil, gagal ya gagal. Sebab waktu memang tak bisa diputar balik, cuma karena kita ingin merubah catatan itu. Sudah terjadi, dan kemarin pun ceritanya sudah lewat, selesai. Kemarin adalah seperti sebuah cermin, yang bisa kita pandang, namun tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan.
Keberhasilan memang membahagiakan. Sebab itulah hasil dari jerih payah kita, yang sudah kita perjuangkan dan kita kerjakan dengan baik selama ini. Tetapi keberhasilan cuma sebuah catatan belaka, bagi sebuah episod kehidupan kita. Keberhasilan bukan menjanjikan keberhasilan lain berikutnya, meski bukan berarti bahwa keberhasilanmu itu adalah sesuatu yang untung-untungan belaka. Keberhasilan itu tetap sebuah prestasi yang pernah kau buat, namun jangan pernah bermimpi dengan mudah kau mengulanginya lagi. Bahkan dengan cara yang sama, jaminan itu tak pernah ada. Kemungkinan? Bisa saja. Namun namanua saja kemungkinan, maka masih tersedia ruang untuk terjadi hal yang sebaliknya. Siapa sangka, justru yang lain itulah yang dapat giliran muncul?
Kegagalan pun demikian halnya. Lagi-lagi itu cuma sebuah catatan belaka, yang mencoba memberitahumu kalau kau kali ini tak berhasil memenuhi kualifikasi guna memenangkan pertandingan yang sedang kau hadapi, sekiat tenaga pun kau sudah berusaha mengatasinya, sebenarnya.
Cuma agak sedikit berbeda halnya, bahwa jika keberhasilan belum memberimu jaminan bisa kau ulang lagi dengan gampang, maka kegagalan justru sebaliknya. Jika kau masih mengulang cara yang sama, maka ada kemungkinan kau masih mengalam keberhasilan, tetapi untuk kegagalan sudah dapat dipastikan akan terjadi sebuah kegagalan lagi. Peluang terjadinya sangat besar. Jika keberhasilan merupakan catatan yang harus dicoba sekali lagi, maka jangan lakukan untuk catatan mengenai kegagalan. Namun satu hal yang sama dari keduanya, dua-duanya adalah sebuah catatan, sebuah masa lalu, yang sudah lewat.
Keberhasilan memang membahagiakan, dan untuk sebagian orang memang patut dirayakan. Pesta-pesta pun bisa diadakan. Tetapi terlarut dalam suasana bius kebahagiaan dan kesenangan, karena keberhasilan, harus cepat-cepat diakhiri. Sebab, keberhasilan bukan tujuan dan hasil akhir dari sebuah perjalanan hidup panjang yang masih terbentang di depan. Bahkan boleh dibilang, keberhasilan adalah baru satu anak tangga naik yang berhasil kita atasi, sementara masih banyak anak tangga berikut yang harus kita naiki.
Anak tangga itu tak cuma jumlah anak tangganya yang tidak kita pernah tahu berapa banyaknya, namun juga bagaimana alam mengatur tinggi rendahnya. Tangga itu pun bukan jalan khusus untuk kita saja, namun milyaran orang lain sedang berada dalam jalur naik di anak-anak tangganya. Semua berusaha untuk semakin naik, dan juga bila terpaksa menahan orang lain agar tak segera bahkan gagal menapak naik.
Terbius oleh sebuah keberhasilan sama halnya dengan memberikan jalan lempang bagi pesaing-pesaing kita untuk lebih mudah dan segera naik, meninggalkan kita. Terlena oleh sebuah pesta keberhasilan seperti menempatkan kita dalam buaian nyenyak masa lalu. Jika tak awas, maka kegagalan nan bertubi-tubi pasti akan terjadi.
Demikian halnya dengan kegagalan, yang sebenarnya tak lebih dari sebuah catatan di masa lalu. Sudah terjadi. Dan itu memang menyedihkan. Bukan hal yang aneh ketika kesedihan mendera seseorang, ketika ia mengalami kegagalan. Bukan seuatu yang tabu, dan juga bukan hal yang memalukan. Namun, jangankan mengalami kegagalan, bahkan keberhasilan pun tak boleh berlama-lama terlarut, konon pula jika mengalami kegagalan. Bersedih boleh. Menyesal tak dilarang. Namun berkepanjangan dalam penyesalan adalah sesuatu yang patut dihindari secepatnya.
Tak perlu kita berlarut-larut menyesali kegagalan, sebab kegagalan itu toh bukan tujuan kita dalam menjalankan tugas kita. Tak ada terbetik sedikitpun niat kita untuk gagal. Maka kegagalan sepantasnya segera dievaluasi guna mengetahui kenapa seperti itu terjadinya. Penyesalan saja tak akan pernah berhasil menemukan penyebab kegagalan tersebut. Penyesalan yang panjang tak juga mampu menukarnya menjadi sebuah kebahagiaan. Karena gagal adalah gagal.
Terlalu memmikirkan masa lalu seperti memenjarakan diri kita, memasung langkah kita, apa pun yang terjadi dengan masa lalu itu, keberhasilan atau kegagalan. Hidup terus berjalan, dan sudah pasti meninggalkan masa lalu semakin jauh. Masa lalu harus sekedar jadi bahan renungan, menarik pelajaran yang berarti, untuk kita pakai sebagai referensi ketika menapak menuju masa depan. Membanggakan sebuah keberhailan cuma dilakukan oleh orang yang bodoh, yang tak siap menghadapi masa depan. Mempertahankan kesedihan karena kegagalan juga hanya dilakukan oleh orang yang bodoh, yang menganggap semua sudah berakhir dan jadi kiamat. Ia telah menyepelekan Tuhan, yang masih bersedia menawarkan kemungkinan untuk berhasil di hari-hari berikutnya. Jika Tuhan pun sudah ia sepelekan, lalu apa yang bisa kita anjurkan kepadanya?
Masa lalu adalah sebuah cermin, ketika kita ingin menatap apa yang sudah terjadi kemarin. Menggunakan masa lalu sebagai cermin, untuk mengawal kita menapak di masa depan, adalah sebuah keharusan. Masa lalu memberikan kita banyak pelajaran berharga, yang dapat kita gunakan sebagai penopang perjalanan hidup mendatang. Namun sebagai sebuah cermin, itu tak lebih dari bayangan. Mengikatkan kita pada bayangan masa lalu bisa membuat kita sama sekali sulit dan enggan berberak maju. Terlalu berlama-lama di depan cermin tetap tak memberikan arti apa pun untuk perjalanan hidup kita di depan. Masa lalu adalah sebuah cerita belaka.
Sama sekali menafikan masa lalu pun juga tak boleh terjadi. Masa lalu adalah sebuah rangkaian cerita panjang, penuh dengan catatan keberhasilan dan keagalan, jatuh bangun, yang bukan tidak mungkin akan memberikan warna tertentu terhadap perjalanan hidup kita di masa yang akan datang. Masa lalu adalah sesuatu yang sudah pernah terjadi dalam hidup kita, yang kita bisa mempercayainya. Sementara masa depan masih belum lagi datang, bekum ada cerita-ceritanya, dan entah apa pula yang akan terjadi kemudian. Masih akan kita rencanakan.
Masa lalu memang tak boleh dilupakan begitu saja, tetapi jangan membuatnya menjadi penyebab terkendalanya langkah-langkah masa depan kita. Masa lalu hanya kita perlukan agar kita lebih hati-hati dalam mengayun langkah, bukan sesuatu yang harus kita bawa-bawa sehingga membuat beban kita menjadi lebih berat ketika hendak melanjutkan langkah. Merindukan masa lalu juga tak pernah ada gunanya, sebab semuanya sudah berubah. Jika pun bukan diri kita yang berubah, kondisi sekitar pun juga sudah banyak berbeda. Padahal, kejadian masa lalu yang kita rindukan itu terbangun bukan karena peristiwa itu sendiri, namun juga karena ada banyak pengaruh lain yang menyertainya. Kerinduan mendatangkan masa lalu terlalu berat untuk bisa dilakukan, sebab kita harus mengembalikan semua keadaan sama seperti ketika kejadian masa lalu itu terjadi. Sementara banyak hal berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya.
Terpana dan terikat pada masa lalu tak ubahnya kita menggadaikan sisa kehidupan kita pada sebuah kemustahilan, sehingga akan terbuang sayang semua milik kita yang berharga saat ini. Keberhasilan dan kegagalan tak lebih dari sebuah catatan, yang hanya berarti sebagai sebuah referensi, namun tak bisa berubah menjadi kenyataan.
Jika kemarin adalah masa lalu, perubahan cara pandang seperti apakah yang harus aku lakukan, Nonno? Bukankah masa lalu tak bisa kita abaikan begitu saja? Bukankah masa lalu adalah juga bagian dari sejarah kita sendiri? Jika kita tak boleh menengoki sejarah kita sendiri, jangan-jangan kita malah tersesat dibuatnya?
Permata kecilku. Tak ada larangan untuk menatap masa lalu. Bagaimana pun masa lalu merupakan penggalan dari kehidupan yang sedang kita jalani. Bahkan masa lalu itu pula yang sudah berhasil menempatkan kita pada sebuah posisi yang kita diami saat ini. Apakah keu berada dan disebut pemenang, atau pecundang. Semua predikat yang kau miliki, bagaimana pun, adalah berdasarkan peran yang kita kerjakan di masa lalu. Namun terikat dengan masa lalu, lalu hanya terpaku kagum atau mengeluhkan masa lalu, bukan hal yang patut kita panjang-panjangkan, demi untuk sebuah predikat baru bagi semua hal yang kita lakukan hari ini, dan hari-hari berikutnya. Predikat itu tak bisa kita minta dari sebuah masa lalu, tetapi lebih tergantung kepada apa yang akan kau lakukan pada langkahmu berikutnya, ketika masa lalu lewat.
Menafikan masa lalu juga bukan hal yang bijak. Masa lalu tak ubahnya sebagai sebuah buku pelajaran, yang terbuka setiap saat untuk kita pelajaari ketika kita butuhkan. Buku pelajaran itu merupakan kumpulan peristiwa yang pernah terjadi. Di situ kita bisa melihat catatan-catatan pengalaman yang pernah terjadi dan berlangsung secara nyata. Kita perlu mempercayainya. Jika begini, maka akan begitu. Tetapi kalau dibegitukan, terbukti begini. Secara relatif kita bisa menggunakan sebagai pedoman. Agar tak salah arah, dan tersesat. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, lebih-lebih esok, yang terbentang panjang di depan. Namun catatan masa lalu yang kita miliki telah melatih kita agar tampil dalam kewaspadaan, kesiapan untuk menghadapi berbagai hal, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.
Permata kecilku. Malam sudah larut. Tidurlah. Semoga esok jauh lebih baik dan mudah kau lewati, karena kau telah menjalani harimu kali ini sampai selesai. Apa yang terjadi siang tadi tak harus membuatmu berhenti melangkah meneruskan perjalanan. Pesta, bagaimana pun sudah usai. Rintihan kedukaan pun, tak akan mengembalikan semua apa yang hilang. Esok kita berusaha lagi, dengan penuh semangat, dan … semoga berhasil.
(Permata kecil itu bangun, memeluk Nonnno-nya, dan menciuminya dengan deras. Di telinga Nonno-nya ia berbisik perlahan, ‘Nonno, semoga esok masih akan datang menyambangi kita berdua. Ya .. berdua, Nonno, dan aku’. Lalu ia rebahkan diri, tersenyum, membiarkan Nonno0nya menutup pintu, setelah sebuah selimut ditutupkan oleh Nonno di tubuhnya. ‘Selamat malam, Nonno. Pagi esok aku harus masih ketemu Nonno. Ijinkan permintaan sederhana ini, Tuhan’, bisiknya.
Selamat malam, Permata ……..