Membesarkan Anak-Anakku

Tadinya aku mau bilang, ‘mendidik anak-anakku’. Tapi aku pikir, sombong sekali, sih … Sebab, menurutku, baru disebut ‘mendidik’ itu kalau kita sudah memiliki sebuah sistem tertentu yang jelas, baik konsep, implementasi maupun sasarannya. Mendidik lebih dekat ke arah membentuk, sesuai dengan selera si pembentuk tersebut. Apa yang ia mu, itulah yang dijadikan acuan ketika melakukan proses pembentukan yang disebut mendidik tadi. Lha, saya … ?

Aku lebih suka menyebut membesarkan mereka saja. Ini lebih bisa saya pertanggungjawabkan, karena aku memang kemudian bekerja mencari nafkah, untuk menyediakan mereka makan agar tu,nuh besar, dan sehat. Kalau ada sakitnya, lalu cepat-cepat dibawa ke orang pinter yang namanya dokter. Hyga ada sedikit tambahan es krim, agar ada variasinya, jangan cuma nasi dan empal saja, to? Bagian dari proses membesarkan mereka juga mengajaknya jalan-jalan, rekreasi, biar mereka berlarian dan sehat. Atau jangan bosan selalu di rumah, yang mengurangi selera makan mereka, sehingga tak membesar-besar, jadinya. Coba…. yang aku lakukan jauh lebih ke ‘membesarkan’ mereka saja. Mendidik? Aku tak bermaksud mengklaim soal itu (mangkanya, jangan suka komen kalau kebisaan Lala nulis itu karena aku, nanti dia marah sama aku, trus, siapa yang bantu mosting tulisanku?).

Aku percaya, Tuhan tidak ingin main-main dengan mahluk ciptaan Bliouw. Aku yakin, ada misi khusus yang dititipkan kepada setiap mahluk yang Bliouw turunkan ke muka bumi ini. Dan aku yakin pula, semua misi itu positip adanya. Masa Tuhan main-main, ya …. dibikin ngawur sajalah, sejadi-jadinya, apa kata nanti, deh! Kalau sampai saja Tuhan berbuat seperti itu, maka rasanya aku perlu meninjau kembali ketaqwaanku kepada Bliouw. Wong ngawur kok disembah? Tak u’u, ya…..!

Misi yang diembankan Tuhan kepada manusia ciptaan Bliouw memang merupakan sebuah misteri, yang memerlukan kepintaran, kearifan, dan kebijaksanaan dalam vara kita berpikir, serta mempertimbangkan sesuatu. Yang jelas, pasti positip. Ke mananya, ya itulah yang masih terus perlu diungkap, baik oleh orang tua seperti aku kepada anak-anakku, atau kalian sendiri, untuk mampu menggali dan mengembangkan potensi dirimu. Kesempatan pun sudah tersedia, yaitu sepanjang umurmu! Coba, opo ora hebat Bliouw ini?

Berbagai kemungkinan misi yang dititipkan kepada manusia untuk dikembangkan secara positip itu, kalau mau ngomong rada ngilmiah, berbentuk susunan protein yang membentuk mata rantai DNA yang disebut gen. Tiap gen merupakan nagian-bagian dari bakat yang akan menjadi tulang punggung dan penggerak untuk menjalankan misi yang Bliouw titip kepada anak-anak manusia. Masing-masing inti gen juga saling pengaruh-mempengaruhi, yang membuat bahan baku misi tertentu bisa dicapai. Cuma, tetap saja masih banyak pertanyaan nan misterius, lalu misiku sebenarnya apa? Ayo dong, katakan, ya Pangeran ….! Lha kalau rahasia-rahasiaan seperti ini, nanti aku kesasar, dimarahin?

Sebagai ortu, aku juga tetap tidak akan diberi tuhan wangsit (wangsit mie?) mengenai apoa misi Bliouw kepadaku, atau kepada anak-anakku. Itulah sebabnya, mengapa aku tak berani mengklaim telah ‘mendidik’ anak-anakku, seperti aku sudah mengetahui tulisan Bliouw mengenai misi mereka, tetapi aku cuma membesarkan saja. Sembari…. lha yang ini deh …. mencoba memberikan mereka wawasan, seperti pupuk, yang akan menumbuhsuburkan potensi-potensi merek yang sudah mereka bawa sejak lahir, dalam bentuk inti protein dalam rantai DNA mereka (yang mungkin sebagian, besar atau kecilnya kemudian baru ketahuan belakangan, apakah itu sumbangan gen dari almarhumah, atau dari aku, seperti Lala yang suka nulis… he .. he .. he… jelas dari mana asalnya, kan?).

Kesempatan menumbuhkan potensi-potensi itulah yang aku lakukan, dengan menyediakan tempat pembibitan yang aku jaga, dengan memberi mereka makan cukup, bergizi, dan bergusi (enak terasa di gusi mulutnya). Banyak anak-anak yang punya potensi tertentu, karena dilahirkan dalam suasana gizi buruk, tak mengalami pertumbuhan yang baik, padahal Bliouw pasti tak membeda-bedakan racikan bumbu untuk membentuk potensi itu kepada masing-masing anak manusia yang dititahkanNya turun ke bumi!

Aku pun tak berpretensi faham mengenai potensi terbaik apa yang anak-anakku punya, lalu mengusahakan memompanya, sedemikian rupa sesuai bayangan yang ada di aku. Aku tak ingin menyalahi apa yang digariskan oleh Titah Langit, yaitu misi yang ingin dilakukan oleh Tuhan melalui mereka. Aku tidak ‘nggege mangsa’, sok tau, mentang-mentang sedang berkuasa teerhadap anaknya sendiri. Maka, biarlah potansi-potensi itu berkembang sesuai kodratnya saja. Tak lebih.

Seseorang mungkin tidak berbakat lompat tinggi, tapi kalau disuruh lari, kencengnya bukan main, ya jangan disuruh menekuni olahraga lompat tinggi, dong! Kapasitas otaknya untuk matematika tak terlalu moncer, tapi jangan ditanya kalau soal menyanyi, misalnya, maka ya janganpaksa dia ikut les matematika, biar nanti masuk IPA, bisa jadi dokter. Lha bakat dan potensinya gak di situ, je ….. Protein dalam struktur DNA-nya sama sekali tak menyuport sama sekali. Apa lagi bapak ibunya ya tergolong bego soal matematik, mana mungkin bisa menurunkan DNA yang moncer soal matematika? Anak-anak lebih suka kepada alam, tertarik kepada fenomena-fenomena isi jagad, lha kok malah dipaksa ikut les piano, wong ngentut aja fals…..? Mendidikkah itu?

Jelas bukan! Itu lebih pantas disebut melawan takdir! Menantang misi Tuhan! Bahkan memperkosanya, kalau aku bilang, sih! Anak-anak dipaksa dengan sangat kasar (karena mengingkari potensi-potensi yang sudah mereka bawa dalam DNA mereka), menjerumuskannya pada lorong-lorong gelap yang membingungkan dan mengacaukan logika sang anak, hanya karena orang tua tak ingin kalah dengan tetangga sebelah. Mereka les piano, anaknya juga dileskan. Malah ditambah gitar dan okulele plus ketipung. Anak tetangga dipanggilkan guru melukis, anaknya juga disuruh belajar (dan harus lebih pintar pula! Wuih…!) yang ditambah juga dengan kepandaian mematung serta mengukir. Lha dalah …. jagad dewa batara…..! Sebenarnya, yang mau pamer itu anak-anak atau orangtuanya?

Satu hal yang jelas, dalam kesempatanku membesarkan anak-anakku adalah bekal pengalaman dan pemahamanku yang cukup bayak, mengenai kehidupan ini, baik secara filsafati, atau secara praktis dan realiti. Aku diberi kemampuan oleh Gusti Allah untuk menggunakan logika secara baik (dan itulah sebabnya aku menyukai bekerja di IT, karena cuma ada on-off saja, salah-benar saja, gak ada yang grey area!). Kemampuan itulah yang memungkinkanku untuk memandang berbagai persoalan dengan cara yang lebih cermat, tak akan mengambil keputusan sebelum semua informasi lengkap, dan memilih secara positip solusi untuk keluar dari masalah tersebut.

Itulah sebabnya, ketika ada seseorang mengajakku berbicara, maka di otakku seperti tergambar sebuah peta aliran jalan, yang merangkai penggal-demi-penggal dari informasi yang masuk, sambil cairan otakku pun ikut memberi andil mengenai kira-kira gambaran lengkapnya nanti akan seperti apa. Seperti hafalnya aku mengenai jalan-jalan di kota Surabaya, sehingga ketika aku diajak menuju ke suatu tempat tertentu, maka dalam otakkua segera tergelar sebuah peta yang terbaik untuk menuju ke tujuannya nanti. Jika dalam implementasinya nanti salah, dan cukup besar, maka segera otakku memmprotes. Jika salahnya masih bisa ditolerir, maka sebuah gelaran eoad-map baru segera dibentuk. begitu.

Maka seringkali aku ketemu dengan orang-orang, yang katanya ingin mengadukan persoalannya kepadaku, tetapi marah, ketika aku menyela, bahwa yang ia lakukan tersebut salah, atau kurang pas, atau bisa diperbaiki. Biasanya kalau mereka memang ingin minta bantuan solusi, mereka dengan senang hati menerima selaanku tadi. Tapi karena sebenarnya mereka mau pamer, dan ingin dianggap benar, sekedar cari dukunganku, maka mereka suka marah. Dengerin dulu!, hardiknya ……

Berbeda dengan masa kecilku dulu, ketika orangtuaku membiarkan aku lepas begitu saja, tanpa memberikan aku wawasan-wawasan yang cukup dalam melihat hidup, maka kini aku mencoba menyampaikan apa yang aku pahami soal hidup, masa depan, karir, bahkan persoalan-persoalan sosial, ekonomi hingga politik, kepada anak-anakku sejak mereka kecil. Aku menganggap mereka seperi teman bicara yang sepantar. Misalnya, bagaimana melihat sepak terjang kroni-kroni politik Orde Baru, apa yang mereka lakukan, dan apa akibat yang ditimbulkan, dan lain sebagainya, sejak mereka SD! Gila, ya…?

Aku beli semua jenis bacaan, koran, majalah, buku-buku, hampir setiap hari, dan setiap edisi. Ada majalah Bobo, Kawanku, Gadis, Femina, Kartini, Tempo, harian Kompas, Jawa Pos, sejumlah novel, atau ajaran-ajaran filsafat dari Kahlil Gibran, semua komplit. Silakan saja, bacaan mana yang menarik minat mereka.

Tujuanku adalah membiasakan mereka membaca, memperluas wawasannya, dan bisa menimbang-nimbang secara baik dan seksama, mana yang disebut kebaikan, kebenaran, dan nilai-nilai positif itu adanya. Bahkan, dengan membaca banyak tulisan, aku juga berharap mereka berkehendak untuk bisa menulis! Sebab dengan menulis itulah kita bisa mengungkapkan apa yangkita inginkan, pikirkan, dan ingin kita raih. Bisa sebagai sebuah pernyataan sikap dari diri pribadi, agar dikethui oleh orang lain, dalam sebuah nuansa yang penuh harmoni. Dengan kebisaan menulis, maka mereka tak akan takut ditugaskan untuk membuat paper, laporan, skripsi atau berkomunikasi lainnya. Tulisan yang bagus tentu akan jadi nilai plus di mata pembacanya. Kalau pembaca itu atasannya di tempat kerja, maka ia akan jadi syaf andalan, yang mudah untuk tak cocok pada suatu posisi, agar segera dipromosikan lagi. Itu manfaat dari kepandaian menulis, lho, salah satunya!

Memberika mereka wawasan, bahwa jalan menuju ke arah kesuksesan bukan hanya satu jalan saja yang disediakan Tuhan. Aku banyak memberikan gambaran kepada mereka, mengenai apa yang disebut sukses, dan bagaimana terapannya di berbagai sendi kehidupan. Sekedar penjual nasi goreng dengan gerobak dorong berkeliling kampung pun bisa jadi ilustrasi, mengenai jalan memperoleh sukses, setidaknya finansial. Bayangkan, setiap porsi nasi goreng itu kurang dari 100 gram (jatah beras tentara, yang makannya pasti banyak, adalah 100 gram beras sekali makan, sehingga mereka dapat jatah 10 kilo sebulan). Beras sekilo, ditambah air, akan jadi nasi yang beratnya lebih sekilo. Jika sepiring nasi 100 gram, maka sekitar 10-12 piring nasi goreng terjual. Beras sekilo, kalau untuk nasi goreng, malah harus cari yang murah, sebab kalau yang mahal gak enak. Beras murah taruhlah 5-ribu rupiah. Tambah saus bumbu nasi goreng, telur, dan gas untuk masak, maka paling mahal butuh 10-ribu.
Jika seporsi nasi goreng dijual 4-ribu, bayangkan untuk 10 porsi? 12 porsi? Jika semalam ia menghabiskan 5 kilo beras, berapa untungnya? kalau dia jualan mulai pagi, sampai malam, lalu habis 10 kilo? Wuah …. jangan remehkan penjual nasi goreng yang didorong-dorong itu! (Coba, berapa gaji kalian?).Fs

Atau aku mencoba menganalisa orang jual nasi pecel pincuk, yang kalau dihargai 2500-rips sudah dianggap … kok murah, ya …?. Padahal lihatlah pada pincuk peceel yang kalian beli, nasinya cuma sedikit sekali. Kurang dari 50 gram. kalau sekilo beras, jadi 1.5 kilo nasi, dan masing-masing pncuk cuma 50 gram, apa nggak 25-30 pincuk? Kecambah sekilo 2-3-ribu, udah sekresek besar. Padahal untuk pincuk pecelmu cuma sejimpit saja! Pasti kurang dari 50-rupiah untuk harga kecambah. Lalu sayur yang lain juga cuma berjimpit-jimpit saja. Trus bumbunya juga paling 2-3 sendok yang sudah diencerkan pakai air banyak. Paling sepincuk nasi pecel dengan lauk tempe seiris hanya butuh 6-7-ratus rupiah. Kalau dijual 2500, berapa untung mereka? Kalau mereka sehari bisa jual yang menghabiskan 5-kilo beras, bandingkan dengan gaji kalian!

Itulah berbagawi wawasan yang aku sampaikan kepada anak-anakku, dio setiap kesempatan aku bertemu, seperti ketika mengantarkan mereka karena kebetulan berangkat bareng ke sekolah dan aku ke kantor. Sepanjang pertemuan selalu aku tanamkan cerita-cerita itu kepada mereka. Dan tak cuma itu, juga mengenai para atlit, seniman, profesi, apa saja, yang bisa mereka gunakan sebagai referensi mereka ketika kepada mereka dihadapkan pilihan-pilihan tertentu dalam hidup mereka kemudian. Aku ajak mereka untuk selalu berpikir optimis dan positip.

Demikian juga soal pilihan sekolahnya. Yang aku sampaikan cuma kalau sekolah ini, maka akan jadi begini, dan kendala-kendala yang harus diatasi adalah ini-itu, dan masa depannya akan seperti apa, di samping resiko-resiko serta keberhasilan yang akan ditemui kelak akan seperti apa. Jangan asal jadi mahasiswa, mbuh … mau milih jurusan apa, pokok kuliah! Sebab, dengan menanamkan wawasan-wawasan seperti itu mereka bisa membuat takaran sendiri yang membandingkannya dengan kemampuan apa yang mereka andalkan. Jika mereka ragu, maka kewajibankulah untuk membangkitkan keyakina mereka, bahwa jangan takut kalah! Jika akhirnya harus kalah, maka itu terjadi setelah melalui perjuamgan dan kerja keras, bukan menyerah dan kalah sebelum bertanding! Aku tanamkan fighting spirit yang menggegelegak!

Kini aku merasa sudah membesarkan mereka sekuat yang aku bisa. Mungkin masih sangat jauh dari sempurna, sebab yang tahu adalah para anak-anakku sendiri. Aku hanya menjadi pelayan yang mengantarkan mahluk-mahluk titipan Tuhan melalui aku ini, untuk berada di panggng kehidupan mereka saja. Sebagai pelayan dari anak-anakku, yang menikmati layananku, mereka sendirilah yang akan menilaiku, apakah layanan yang disediakan oleh ayahnya ini mencukupinya, atau kurang.

Oleh karena itu, anak-anakku sekalian, melalui tulisan ini aku minta maaf kepada kalian, karena tidak mendidikmu dan memberikan layanan yang terbaik seperti yang kalian harapkan. Ayahmu cuma bisa menyediakan apa yang ada selama ini, sementara aku tahu, kamu tak punya pilihan lain kecuali hidup bersama ayahmu yang sangat jauh dari kesempurnaan. Bahkan sekedar ayah yang baik saja, aku takut, untuk mengakuinya! Kini jalan hidup sepenuhnya terserah kepada kalian, aku sekedar mengantarkan kalian saja ……! Tak lebih ….!

Salamku.

6 responses to this post.

  1. Hore…dapat kosa kata baru untuk kata ganti “DIA” menjadi “Bliouw”..hehheeh..Funky Daddy..

    Benar, Om..saya yang baru saja punya dua anak batita juga sedang belajar menjadi orangtua yang bijaksana. Bahwasanya Anak bukanlah sasaran atau target pemuasan ambisi. Kewajiban orangtua adalah mengarahkan mereka kepada “panggilan” hidupnya (isilahnya Om Edy : misi positip dari Bliouw..heheh), sembari memberikan “modal” supaya setiap potensi unik yang Tuhan berikan bisa tersalurkan dengan baik.

    Hm..saya saja yang baru kenal di Blog, bangga dengan Om; apa lagi Lala, Mirza dan…(siapa)..heheh

    Salam
    Riris

    Reply

    • Posted by EDI PURWONO on September 9, 2009 at 4:51 pm

      Nanda Ris (dan kedua cucuku)….

      Aku benar-benar merasa bangga, ketika sulungku, Pipit, menghadiahiku cucu (tambah dua lagi dari Ris, he .. ha.. hi..!). Sebab, hampir bisa dipastikan, saat ini sulit mencapai umur panjang, bisa melihat tiga generasi, aku, anakku, dan cucuku. Boro-boro generasi keempatku….

      Waktu aku kecil, dulu sekali, 60 tahun silam, di desa, Ponorogo, aku tak cuma masih bisa ketemu dengan mbah buyut, yang berarti generasi keempat sampai ke aku, tetapi juga masih ada mbah canggah, generasi kelima. Malah mbah canggahku jauh lebih kokoh dibanding mbah buyut. Warok Ponorogo, kali, ya…? Ha.. hi.. he…

      Bisa dimengerti, karena para wanita dulu menikah dalam usia remaja kencur, sehingga sempat berketurunan ketika sangat muda. Wanita sekarang, bahkan sampai kepala 3-pun, masih enjoy ngejomblo!

      Kahlil Gibran juga bilang, anak-anak itu adalah seperti sebatang anak panah, yang hanya bisa kita arahkan ketika di awal. Namun selepas ia lepas dari busur, anak panah itu akan melesat, entah ke mana, yang tak mungkin lagi dapat kita pegang. Dia memang anak-anak kita, tetapi ia sebenarnya milik kehidupan. Dia memang anakmu, tetapi bukan milikmu, katanya. Tugasku selesai, ketika sudah membekali mereka keberanian dalam mengarungi kehidupan, sebab selalu ada cara untuk keluar sebagai yang tak terkalahkan.

      Masalah-masalah kecil hanya pantas untuk pribadi-pribadi kecil. Sementara pribadi yang ditakdirkan Bliouw sebagai pribadi besar, tak pernah takut untuk menerjuni masalah-masalah yang besar. Sebab, kehebatan sebuah pribadi dapat dilihat dari kemempuan dan kesediaannya untuk masuk ke wilayah-wilayah yang semula menakutkannya.

      Dan selalu lah percaya, bahwa di ujung keberanian kita, ketika kita sudah tak sanggup meneruskan keberanian kita, pada saat itulah tangan Bliouw akan mulai bekerja, menyelamatkan dan mengangkat para pemberani, menjadi pejuang sejati, yang menang!

      Salamku

      (Ketika aku punya cucu pertama, kegembiraanku aku ledakkan di milis arek-suroboyo, di mana salah satu wargaku ada yang dari kota Malang, tapi beremigran di Itali. Dia menyuruhku menggunakan kata ‘Nonno’ yang berarti embah-laki-laki, dalam kosakata Itali. ‘Nonna’ untuk mbah-perempuan. Kini anak-anak dan cucuku memanggilku Nonno).

      Reply

  2. hehehe,,,

    postingan yg bagus Om..
    senang bacanya…

    tapi saya mau tanya Om, kentut yg fals itu macam mana?

    SAlam Perantau

    Reply

  3. Posted by EDI PURWONO on September 9, 2009 at 4:54 pm

    Kentut yang Fals?

    Adug gimana ya neranginnya/ Pokoknya, udah bauuukkknya am,un-ampun, kalau didengerin sama sekali nggak simpatik sama sekali. Mungkin yang rada mirip kalau Iwan Fals lagi kentut, ya?

    Salam

    Reply

  4. Bliouw…? hahaha… mantap Om, orisinil… :D

    Om, nih di Jogja ada 4 orang lagi cucunya…
    Membesarkan anak memang penuh romantikanya. Segala emosi bercampur aduk. Setiap hari, ada saja tingkah laku mereka yang membuat kesabaran kita semakin teruji. Mereka tidak pernah salah, yang salah adalah cara kita menyikapi polah mereka…

    Om, saya juga sedang berusaha untuk “mengantarkan” anak-anak ke jalan yang ingin mereka tempuh. Meski saya keluaran pesantren, tapi anak saya sama sekali tidak ingin bersekolah di sana. Saya tidak paksakan, karena itu akan berbahaya buat dia. Saya biarkan dia memilih jalannya, asal pilihannya itu masih dalam kategori “benar”.

    Terima kasih Om…

    Reply

  5. Posted by EDI PURWONO on September 24, 2009 at 8:21 am

    Alhamdulillah, semakin banyak cucuku ternyata. Semakin besar pula jumlah para insan yang beredar di sekitarku. Jika kalau sedemikian banyak manusia ini saling mendoakan kesehatannya masing-masing, masa iya sih, barang 10% saja nggak nyangkut? Ah … Bliouw kan Maha Bijaksana…..

    Aku seorang muslim, yang masih berusaha untuk menjadi muslim yang sesungguhnya. Namun pandanganku mengenai ketuhanan, lebih mirip penganut faham agnostik, yang sangat mempercayai mengenai keberadaan dan campur tangan Bliouw dalam kehidupan semesta, yang aku yakini, Bliouw ‘melakukan’ kesemua itu bukan HANYA pada faham, agama, dan kepercayaan tertentu saja, yang membuatnya lebih seolah-olah lebih tinggi, lebih baik, dan lebih benar, dibanding yang lain.

    Bliouw itu MAHA segala-galanya. Maha Kuat, sehingga kita tak harus repot membela-belanya. Maha Kaya, sehingga kita tak perlu ‘menyetor’ apa pun kepada Bliouw. Bliouw pasti bukan sosok yang kemaruk pujian, sehingga kita harus tersandera dalam kesibukan memuji Bliouw, merapatkan diri secara berlebihan, hanya agar Bliouw ‘tersogok’ untuk meloloskan kita menjadi penghuni sorga.

    Yang harus kita jalani hanyalah sekedar menjalankan dan memahami segenap firmanNya, baik yang tersurat, atau tersirat.

    Lihatlah kilauan tetes embun yang bergelayut di ujung rumput yang menjuntai, ketika fajar menyingsing. Tetes embun, dan rerumputan segar yang terhampar adalah bagian dari firman Bliouw, yang menyatakan kehadiran dan keberadaan Bliouw.

    Lihatlah pucuk-pucuk cemara yang bergoyang indah menyapu awan di lereng pegunngan, dengan desir angin yang sibuk mengencani dan membelai-belainya. Bukankah itu juga firman Bliouw adanya? Atau lihatlah permukaan tasik yang tenang, dan kecipak ikan di sela-selanya, akankah kita tidak mengakui keberadaan Bliouw?

    Begitu banyak ‘firman’ Bliouw yang ada di depan kita, yang tersirat dalam setiap geliat kehidupan, yang jauh lebih banyak dibanding dengan yang tersurat dalam buku-buku suci. Firman-firman yang tersirat akan kita jumpai di mana saja, dan kapan saja. Bahkan di antara dunia binatang dan tetumbuhan, hingga ke jasad renik yang tak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Untuk semua akan berkata, wahai segenap isi alam semesta yang beriman! Tak terbatas kepada ‘wahai umat manusia yang beriman’ semata.

    Berlaku dan bersikaplah lurus, peliharalah harmoni alam semesta, dunia kecil yang ada dalam benakmu, dan dunia besar, sekeliling kita hingga ke batas-batas alam semesta di luar tubuh kita. Saat irulah karunia Bliouw, berupa kebahagiaan, akan senantiasa menghiasi kehidupan kita, yang secara berdikit-dikit akan membukit, sebuah tabungan menjelang kehidupan kekal, kelak.

    Salamku.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.