Tak ada pekerjaan yang paling mudah dilakukan di dunia ini, Bintang kecilku, selain satu kata, menyerah. Kau tak perlu memikirkan apa-apa lagi, cukup kau katakan saja, sudahlah, aku menyerah saja, lalu hentikan semua pekerjaanmu, upayamu, menyerahkan semuanya kepada pemberi kepercayaan yang kau sudah rasakan sebagai tak mampu lagi kau teruskan, menyerah. Putus di situ, sudah.
Menyerah memang tak bisa dihindarkan, oleh siapa saja, ketika yang bersangkutan sudah memeras hingga kering akal dan otaknya, namun tak juga menemukan cara dan jalan keluar dari persoalan yang membelitnya. Ia telah menggunakan semua apa yang ia mampu dan kuasai, untuk bisa memecahkan masalahnya tersebut, menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadanya dari sang pemberi kepercayaan, namun ia merasa menemukan tembok tinggi dan tebal, yang ia rasakan sebagai penghalang yang tak mungkin ia atasi.
Menyerah, memang paling mudah, untuk menghindari datangnya kemungkinan yang dirasakan sebagai tambah buruk, ketika ingin mencoba tak hendak menyerah. Menyerah merupakan sebuah pelarian yang paling gampang. Menyerah memang banyak dipilih ketika seseorang tak ingin bertemu dengan masalah-masalah yang lebih besar. Namun, menyerah bisa berarti tertutupnya semua peluang yang mungkin masih tersedia dan terbuka, jika yang bersangkutan masih ingin mencoba dan mencoba lagi. Dengan keras, tentu, Bintang kecilku.
Seberapa cepatnya seseorang mulai merasakan keinginannya untuk menyerah, segera angkat tangan, mengibarkan saputangan putih yang diikatkan pada setangkai kayu ranting kering, dan dikibar-kibarkannya? Di sinilah letak perbedaannya. Di sinilah kau harus coba pahami, bagaimana kehidupan sudah memberimu kepercayaan untuk hadir, bukan sekedar sebagai pelengkap dan penambah jumlah penduduk semata. Kau dipercaya untuk hadir, dan memberi makna, pada kehidupan itu sendiri. Pada sesama.
Adalah kekuatan, yang didukung oleh kemampuan dan pengetahuan, serta luasnya wawasan, yang membuat seseorang bisa bertahan jauh lebih lama, meski akhirnya menyerah nantinya. Atau, ternyata ia tak pernah mengenal perbendaharaan kata yang satu itu, membuang dan merobeknya dari kamus hidupnya, karena ia benar-benar pantang menyerah.
Berbekal dengan kekuatan, kemampuan, pengetahuan dan semangat untuk hidup itulah seseorang akan berusaha agar dirinya eksis di kerumunan dan kekerabatan di sekitarnya. Dengan modal itu pulalah ia tak ingin hanya sekedar pelengkap hitungan, namun juga senantiasa menjadi perhitungan oleh orang-orang di sekitarnya. Keberadaannya ia usahakan agar selalu memberi makna, sehingga ketidakberadaannya pasti akan dicari-cari dan diharapkan ada.
Keberadaan kita di dunia adalah karena sedang menjalankan kepercayaan sang pemberi hidup. Konon itu jualah yang pernah kita ucapkan ketika sang pemberi hidup hendak mengirimkan kita turun ke dunia. Karena kita sudah berjanji kepadaNya, bahwa kita pasti akan memberi arti bagi kehidupan, jika kita diperkenankan untuk dilahirkan, maka janji itulah yang membuat sang pemberi hidup melepaskan kita lahir ke dunia ini. Apakah kita akan menciderai janji kita itu?
Dengan kelahiran kita, Bintang kecilku, sebenarnya sang pemberi hidup sudah memberikan kepercayaannya kepada kita, sesuai janji kita itu, untuk berada di dunia, sebuah medan ciptaan beliau yang bukan main hebatnya ini, untuk diisi dengan orang-orang hebat. Beliau tak ingin mempercayakan ciptaanNya yang hebat ini secara sembarangan, yang akan membuat mahakarya yang sangat hebat ini menjadi tak ada gunanya, atau bahkan sia-sia. Namun ketahuilah, Bintang kecilku, dunia juga sebuah ajang untuk menguji, apakah kepercayaan yang diberikan oleh sang pemberi hidup itu memang bisa kita tunaikan sesuai janji kita.
Kita mengawali hidup ini dengan kekosongan. Hampir kita semua dilahirkan dengan ketidaktahuan akan membawa peran apakah dalam kehidupan ini. Namun kekosongan dan ketidaktahuan itu tak boleh dibiarkan terlalu lama terjadi, karena secara diam-diam, seorong dengan perjalanan waktu, jumlah jam kehadiran kita di dunia ini semakin berkurang ketika umur kita bertambah. Dan itu berarti sudah semakin kurang pulalah kesempatan yang tersedia untuk kita, agar bisa kita gunakan untuk memenuhi janji kita sebelum kita dilahirkan dulu. Sang pemberi hidup selalu menunggu janji kita itu.
Belajar, mencari pengalaman, dan terus berusaha membuka misteri kehidupan adalah merupakan bagian dari kemauan seseorang untuk mengisi kekosongan dan ketidaktahuannya. Belajar, mencari pengalaman, dan usaha keras membuka misteri hidup akan membuat seseorang semakin berisi, yang dapat ia pakai untuk mengarungi kehidupan yang lebih luas, membuktikan janji kita kepada sang pemberi hidup, bahwa kita bukan sekedar pemenuh angka dalam statistik kependudukan, namun benar-benar bisa menjadi wakil dan pembawa pesan dari sang pemberi hidup tersebut.
Sang pemberi hidup memberikan kita sebongkah otak, yang sama besarnya dengan yang dimiliki oleh orang-orang lain. Demikian otak yang dimiliki oleh Einstein, Habibie, dan kita semua ini. Sang pemberi hidup membekali masing-masing utusanNya yang dilahirkan ke dunia ini dengan bekal yang sama, mula-mula. Sang pemberi hidup tak pernah membuat perbedaan dalam hal tersebut. Maka ku pun tak boleh merasa iri kepada yang lain, pun tak boleh merasa tinggi hati, Bintang kecilku.
Sang pemberi hidup memang memberi masing-masing kita cuma otak yang tak lebih besar dari genggaman kita. Namun sang pemberi hidup memberikan sebuah kotak penyimpan yang ajaib, ia bisa dibiarkan kosong melompong, setengah berisi, atau sebesar apa pun yang kita mampu isikan pada kotak ajaib itu. Belajar dan berpengalaman merupakan lembar-lembar catatan yang bisa mengisi otak kita tersebut, tergantung sepenuhnya kepada kita, apakah mau mengisinya dengan penuh atau membiarkannya banyak kosong, mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, atau kemubaziran. Sang pemberi hidup hanya memberikan kita otak, bukan isinya. Sang pemberi hidup mempercayakan sepenuhnya kepada setiap manusia, mengenai dengan apa otak mereka akan mereka isi.
Dengan belajar kita akan menambah pengetahuan kita, menambahkan pada simpanan pengetahuan yang sudah kita muat pada otak kita. Mencari pengalaman akan melengkapi kita dengan semua pengalaman yang pernah kita alami, dan kita catat dalam otak kita. Upaya kita membuka misteri akan semakin memperkaya kita mengenai bagaimana sang pemberi hidup berkenan menggelar dunia dan isinya untuk kita isi dan diami ini. Dan semuanya tersimpan dalam otak kita, yang bisa kita gali sewaktu-waktu, ketika kita membutuhkan referensi yang kita perlukan untuk membantu memecahkan masalah kita. Dan sebanyak isi otak itu pulalah kita mampu menggunakannya, serta yang akan menentukan cepat atau tidaknya seseorang menyerah.
Menyerah memang merupakan hal yang paling gampang. Menyerah memang kata yang sangat menggoda, agar seseorang tak berminat melanjutkan perjuangannya. Jika kemauan untuk mengisi hidup ini dengan penuh kemaknaan, seperti janji kita kepada sang pemberi hidup, maka kata menyerah adalah suara yang dibisikkan oleh mereka yang ingin menggagalkan janji kita. Mereka yang ingin membuktikan kepada sang pemberi hidup, bahwa mereka telah membuat kesalahan dengan mengirimkan kita lahir di dunia.
Kata menyerah akan terus dibisikkan kepada kita, setiap kali kita mulai lemah, putus asa, tak berdaya, dan seolah sudah tak ada jalan terbuka yang bisa kita coba lalui. Bahkan kata menyerah sudah jauh-jauh terbisikkan kepada kita, meski kita sedang baru saja merisntis jalan memecahkan masalah kita. Kata menyerah sedemikian menggoda. Kata menyerah seperti menjanjikan kepada kita sebuah kenikmatan-kenikmatan, hanya karena kita ingin terbebas dari keharusan untuk bekerja keras. Apa untungnya kerja keras, sih? Kalau kau sekarang sudah bisa duduk-duduk tenang, dengan menyerah saat ini juga?
Menyerah memang membebaskan kita dari ‘penderitaan’ harus lebih bekerja keras, memeras otak dan membanting tulang, berkeringat hingga berdarah-darah. Sebab dengan menyerah, maka usailah sudah. Kau terbebas dari keharusan untuk lebih ‘menderita’. Namun cobalah ingat, apakah di balik semua penderitaan itu bukan sudah tersedia janji sang pemberi hidup untuk memberikan penhargaan kepada kita karena kita menjadi lebih bermakna? Melampaui dari semua kenikmatan yang pernah kita terima sebelumnya? Dan yang lebih besar lagi, kita telah memberikan bukti, sekali lagi, menunaikan janji kita kepada sang pemberi hidup? Sungguh bahagianya.
Dengan menyerah kita tak cuma gagal menunaikan janji kehidupan kita. Dengan menyerah kita telah mengorbankan kesempatan yang diberikan oleh sang pemberi hidup melalui umur kita. Kita telah membuang kesempatan dan membayar usia itu dengan kesia-siaan, yang akan membebani kita dengan penyesalan, meski kita belum pasti benar, apakah sang pemberi hidup akan meminta pertanggungjawaban atas janji kehidupan kita ketika kita dipanggil pulang nanti, Bintang kecilku.
Kita memang sedang berada di dalam kehidupan yang semakin tua, dan semakin maju. Apa yang mudah dan sudah terjadi di waktu-waktu yang lalu belum tentu terulang lagi sekarang ini. Mungkin hal yang sama, tetapi soal kemudahannya pasti sudah berubah. Jika dulu hampir semua orang berkemungkinan melakukannya, kini mungkin hanya sedikit orang saja yang bisa memperoleh kesempatan itu. Jika dahulu hanya dengan bekerja ala kadarnya, kita sudah bisa memperoleh hasil yang besar, kini bahkan hanya untuk mendapatkan kesempatannya saja, belum lagi hasilnya sebesar apa, kita harus melaluinya dengan kerja keras, berkemauan tinggi, bersemangat,dan satu lagi, pantang menyerah.
Segala-galanya sudah sangat terbatas, langka, bahkan nyaris tak ada. Di sedikit hal yang berguna bagi kehidupan itu, kita dihadapkan dengan jumlah manusia yang semakin banyak, dengan isi otak yang semakin baik dan beragam, yang bersama-sama seperti dilepas di sebuah padang perburuan, untuk saling sikut, bahkan membinasakan, agar bisa mencapai tujuannya. Eh… bahkan mungkin bukan tujuan hidupnya, tetapi agar bisa makan, mempertahankan hidup, untuk mencapai tujuan hidupnya yang lebih besar. Baru sekedar untuk bisa makan saja, Bintang kecilku.
Dunia makin terbatas, Bintang kecilku. Sudah banyak yang terkuras habis dan tidak terbaharukan. Perlu jutaan tahun lagi untuk mengembalikan itu semua, seperti halnya apa-apa yang ada itu juga merupakan hasil evolusi jutaan atau bahkan milyaran tahun silam, bukan? Berharap kau bisa menemui kembali apa-apa yang sudah hilang itu bukan saja percuma, tetapi sia-sia, sesuatu yang tak mungkin kita alami. Mau umur berapa kita, nek?
Selagi semua yang tersisa makin terbatas, maka jumlah manusia bertambah bukan main pesatnya. Semua mulut harus mendapat makan cukup, sehingga mau-tak-mau harus ada perjuangan ekstra keras untuk hanya sekedar mempertahankan hidup, konon pula hendak sejahtera. Manusia jadi serigala bagi yang lain, saling memangsa, homo homini lupus. Persaingan semakin berat. Apa yang kita punya, juga dipunyai oleh orang lain, bahkan lebih banyak, dan lebih bagus. Apa yang sementara baru dalam angan-angan kita, ternyata sudah dijalankan oleh orang lain. Gila, kan?
Kita sudah coba memutar otak kita, dan berusaha untuk mendapatkan sebuah ide yang orisinil, menurut pendapat kita, yang kita harapkan bisa menjadi senjata untuk membantu mengatasi masalah kita. Namun ternyata, sesuatu yang baru berupa ide, dan kita pikir itu adalah hasil daya kreatif kita, juga sudah terpikirkan pula oleh orang lain. Ketika kita mencoba berjalan menapaki jalur gagasan kita tersebut, tiba-tiba kita sudah bertemu dengan banyak orang dengan tujuan yang sama. Kita berjalan cepat, mereka berlari kencang. Toh demikian, ketika sampai di tujuan, di sana pun sudah ada banyak orang yang sudah berkerumun dan saling berebut.
Keterbatasan telah menguras banyak bekal yang kita miliki. Semua daya pikir kita sudah tuntas kita peras, hingga rasanya sudah tak ada lagi yang tersisa yang bisa kita pikirkan, namun toh masih banyak kendala yang menghadang di depan kita, yang mempersulit laju kecepatan dan kemampuan kita menyelesaikan masalah. Akankah kita menyerah?
Menyerah memang sebaiknya kita hindarkan. Menyerah harus kita tempatkan pada posisi terakhir, paling ujung, ketika kita sudah yakin bahwa kita memang ditakdirkan untuk menyerah. Ada batas kekuatan yang kita miliki sehingga hanya dengan menyerah kita menyudahi persoalan, bukan menyelesaikan persoalan.. Menyerah harus kita lakukan setelah kita berpikir panjang, bahwa sudah tak ada lagi kemungkinan yang mampu kita jalankan. Keputusan untuk menyerah jangan lagi menyisakan hal-hal yang masih bisa kita lakukan sebenarnya, namun kita sudah keburu menyatakan menyerah. Ketika kita memutuskan untuk menyerah, pastikan memang sudah tak ada jalan lain yang bisa kita ambil.
Keputusan untuk menyerah juga merupakan sebuah keputusan yang bijak, ketika kita mulai mempertimbangkan, membuat rasio, perbandingan antara manfaat yang masih mungkin kita peroleh dengan terus tidak menyerah, atau menyerah saat itu juga. Mungkin kita bisa mencapai sasaran hasil, dan memecahkan masalah, namun tenyata uoaya-upaya tersebut membutuhkan korbanan yang jauh lebih banyak dibanding dengan manfaat yang akan kita peroleh, hanya karena kira berusaha untuk tidak menyerah sebelumnya. Kita sudah kehiangan waktu dan enersi, yang seharusnya jauh lebih bermanfaat jika kita sudah putuskan untuk menyerah pada waktunya.
Keputusan untuk tidak menyerah janganlah disebabkan karena kita takut tidak dianggap kuat, atau tak mampu menjalankan tugas, lalu kita mengorbankan apa saja guna mempertahankan image terhadap diri kita tersebut. Keinginan untuk tidak menyerah karena kita merasa yakin dan mampu menyelesaikan masalah tersebut. Keputusan untuk tak menyerah memang sudah kita ukur sejauh ini dengan kekuatan dan kemampuan kita. Namun jika semuanya tak banyak berarti, maka keputusan untuk menyerah harus mulai dipertimbangkan.
Menyerah, kemudian, memang menyedihkan. Kata menyerah tersebut seperti memberikan kesadaran mengenai kelemahan kita. Rasanya kita menjadi sangat malu. Itulah kenapa biasanya jarang manusia yang mengaku kalau dirinya sudah menyerah. Mereka malu mengakui kelemahannya. Padahal, dengan mengakui kelemahan kita, justru di situlah letak kekuatan kita yang sebenarnya. Kekuatan dan kemampuan untuk mengetahui kondisi objektif yang sebenarnya, bukan berlindung di balik kepura-puraan. Menyerah bukanlah aib, ketika keputusan uintuk menyerah tersebut sudah kita perhitungkan dengan masak, setelah melalui perjuangan keras namun tetap tak membawa hasil, lalu harus disuruh bagaimana lagi, kecuali menyerah?
Menyerah memang seperti sesuatu yang menghinakan kita. Kita merasa sudah tak pantas berada dalam deretan orang-orang yang berhasil, kuat, dan pantang menyerah. Namun percayalah, masih ada yang melihat bagaimana kita sudah mengusahakan dengan segala daya mampu kita untuk menyelesaikan masalah, mencoba untuk tidak menyerah, sebelumnya. Kita sudah melalui sebuah rangkaian panjang perjuangan, yang cukup berkeringat dan berdarah-darah, sebelum akhirnya sampai pada ujung penyerahan itu sendiri. Mungkin orang hanya menilai bagian akhir dari cerita perjuangan panjang kita, yaitu ketika kita menyerah. Mereka mencemoohkannya. Namun tetaplah jangan risau, bahwa di balik kata menyerah yang baru saja kita lakukan, kita sebenarnya sudah mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, bagaimana kita telah berjuang untuk mencoba untuk tidak menyerah. Pelajaran itu jauh lebih berharga dibanding dengan kerisauan kita menghadapi cibiran mereka-mereka itu.
Apa yang harus aku ubah dalam pola pikiranku, Nonno? Kau bilang sebelumnya kalau menyerah itu tabu, pantang, dan menciderai janji hidupku kepada sang pemberi hidup. Namun akhirnya kau mulai berpikir soal kemungkinan akan lebih baik kalau kita menyerah. Bahkan ada kesan, menyerah adalah hal yang boleh jadi tak terelakkan. Ah… bingung aku.
Bintang kecilku. Aku cuma mau ingatkan dirimu, bukan kata ‘pantang menyerah’ yang harus kau tonjolkan dalam hidupmu, tetapi ‘jangan mudah menyerah’. Kata ‘pantang menyerah’ hanya boleh kau tanamkan ketika kau mulai mengawali langkahmu, untuk membuatmu bersemangat dan ringan melangkah, seolah-olah kau merasa mampu menyelesaikan semua tugasmu. Dengan semangat ‘pantang menyerah’ berarti kau sudah menyiapkan semua bekal pengetahuan dan kemampuanmu, untuk kau dayagunakan secara optimal guna menyelesaikan masalah yan menjadi tugasmu.
Namun, meski kita sudah menanamkan semangat ‘pantang menyerah’, tak berarti bahwa semuanya akan bisa kita bereskan. Ada banyak hal yang sebelumnya tak terbayangkan akan terjadi, sehingga hanya dengan bekal semangat dan kemampuan yang kita miliki hampir mustahil bisa mengatasi jebakan-jebakan yang muncul di kemudian hari.
Ketika perjalanan sudah semakin berat, dan semakin tidak mudah kita atasi, maka mau-tak-mau, kita harus mengendurkan semangat kita semula yang ‘pantang menyerah’ menjadi ‘tidak mudah menyerah’.. Kita tak ingin hancur, dengan mamaksakan diri, hanya karena kita ‘pantang menyerah’.
Dengan kata ‘tak mudah menyerah’, maka kita sudah memasukkan unsur penyerahan dalam proses perjuangan hidup kita, namun baru akan kita lakukan kemudian, sebagai sesuatu yang terpaksa kita ambil, karena kita sudah memperhitungkan dengan matang bahwa tak ada kemungkinan yang bisa kita lakukan agar berhasil.
Tidak semua pekerjaan harus berhasil dan sukses. Banyak pekerjaan yang meski hanya separuhnya pun tercapai sudah bisa disebut berhasil, terutama jika dikaitkan dengan siapa dan bekal apakah yang mereka miliki untuk memperjuangkan penyelesaian pekerjaan itu. Kegagalan juga bukan hal yang memalukan. Kegagalan adalah manusiawi. Kata ‘menyerah’ menunjukkan kalau kita sebenarnya masih manusia, bukan robot, Bintang kecilku.
Posted by vizon on September 20, 2009 at 11:16 pm
Om… terima kasih sekali atas inspirasi ini.
Aku pernah nyaris menyerah untuk melanjutkan studiku. Terlalu banyak benturan dan halangan. Tapi, aku beruntung memiliki pendamping hidup yang selalu berhasil membangkitkan kembali semangatku dengan kalimat saktinya: “kamu pasti mampu”
Selamat Idul Fitri ya Om… maafkan atas segala salah dan khilaf, semoga Om selalu sehat dan bahagia…
Posted by EDI PURWONO on September 24, 2009 at 7:45 am
Selamat Idul Fitri, senantiasalah kebahagiaan yang selalu menyertai Anda sekeluarga datang secara berlimpah tanpa berkesudahan.
Berbahagialah bagi mereka yang mampu waspada dan bangkit dari berbagai himpitan, sekeras apa pun. Bahkan, semangat untuk bangkit tak cuma pada saat beban menghimpit, namun harus tetap menyala di segala cuaca. Bahkan ketika sebuah kemenangan tertentu yang sudah tercapai, sekalipun.
Setiap peristiwa, baik itu kegagalan, atau keberhasilan, sebenarnya tak lebih dari sekedar angin, yang hanya sesaat bisa kita remas, namun segera menyelinap di antara buku-buku jari kita, meninggalkan kita. Sehingga sangat tak pantas meratapi kegagalan, bahkan merayakan kemenangan, secara berlebihan.
Waktu akan terus berjalan, jauh lebih cepat dari sebelumnya, yang jika kita biarkan, akan membuat kita tersadar, bahwa seiring dengan menuanya usia kita, kita tak lebih seperti fakir adanya.
Kegagalan, atau keberhasilan, hanya sebuah momen sesaat, yang segera harus kita tinggalkan, dan bangkit kembali, untuk tantangan berikut yang jauh lebih besar. Menyesali kegagalan tak pernah ada manfaatnya, sebab itu tak akan mengembalikan apa-apa. Merayakan kemenangan secara berlebihan justru akan membutakan kita pada masalah lebih besar di hadapan kita.
Senantiasalah waspada, tanggap terhadap segala peristiwa, dan masukilah tantangan-tantangan yang jauh lebih besar. Semoga teman hidupmu tetap memiliki semangat yang menyemangatimu selalu.
Salamku.
Posted by albertobroneo on September 21, 2009 at 5:53 pm
Terima kasih atas sharing “asam garam” kehidupannya… memberi inspirasi Pak, semoga saya tidak mudah menyerah!!
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin…
Smoga Pak EDP selalu dalam kondisi sehat, dan berlimpah rahmat
Posted by EDI PURWONO on September 24, 2009 at 7:46 am
Selamat Idul Fitri, senantiasalah sehat dan tak bosan mampir di gubuk perenunganku ini. Selalulah kebahagiaan datang secara berlimpaj, tanpa henti.
Usiaku yang tahun depan 60, latar belakangku yang dilahirkan dari keluarga biasa, sekedar prajurit tentara laut berpangkat, kala itu, sersan, dengan adik 9, tentulah bukan modal yang cukup besar untuk menjalani kehidupan dengan yang pasti mulus. Lebih-lebih aku yang tak ingin berkubang lebih lama dalam ketidakberdayaan, bisa dibayangkan, bagaimana bentuk upayaku, yang mesti berjuang jauh lebih keras, jika tak ingin gagal.
Perjalanan kehidupanku yang panjang, dan selalu berusaha tak ingin berpanjang-panjang dalam ketidaknyamanan, sementara modal yang aku punyai cuma semangat, jelas akan banyak mewarnai betapa asin dan kecutnya garam dan asam yang menyelimuti perjalanan hidupku.
Namun aku bahagia, karena dengan kondisi seperti itulah kemudian, sekian puluh tahn kemudian, aku bisa menuliskannya, yang semoga dapat menambah wawasan pembacaku, bahwa meski hidup tak mudah, tetapi tak harus menyerah, kalah, dan lemah.
Bayangkan, kalau aku anak orang kaya, maka ceritaku pasti membosankan, dan sulit untuk ditiru. Misalnya, bapakku kaya sekali. Sedemikian kayanya sehingga sopir-sopirnya juga kaya. Pembantunya ada enam, semuanya kaya raya. Kalau aku ingin makan, aku tak perlu repot mengais-ngais, atau berteriak. Aku cukup mangap saja, maka pembantuku sudah akan datang dengan KFC (Kentucky Fried Children. karena yang digoreng adalah anak-anak ayam!). Kemarin aku ke mall, pengenku mau senang-senang, main di Time Zone. Tetapi aku nggak suka, aku sedih, sebab semua mainan yang ada di zona itu ada semua di rumahku. Aku juga tak tahu, harus makan apa lagi, yang aneh, karena semuanya tersedia secara berlimpah di rumah. Ngapain, ya, harus ke luar rumah?
Salamku