Sebelum pulang ke homebase Surabaya, ada beberapa bulan aku mesti masih tinggal di Jakarta, untuk mulai berlatih jadi programmer atau Analis Sistem beneran. Di Pansystems Jakarta kan sudah lama ada, jadi selalu ada yang bisa dikerjakan. kalau pulang ke Surabaya, mau ngerjakan apa? Lagian komputer di Surabaya juga belum ada!
Sementara aku tinggal di Jakarta, maka Moeljono minta ijin pulang lebih dahulu, begitu training selesai, karena istrinya melahirkan. Tentu saja ia tak sempat banyak berlatih praktek seperti aku.
Sebagai orang baru dalam profesi ini, sementara waktu training hampir sama sekali tak pernah bersentuhan dengan pengoperasian komputer, maka bisa dibayangkan, betapa canggung dan kagoknya gua. Sebab, seperti yang pernah aku bilang, kawasan ‘computer room’ adalah ruang yang restricted dan steril. Segala operasinya sepenuhnya dilakukan oleh operatornya sendiri, sementara apa pun keperluan kita, ya harus nitip ke operator.
Tentu saja, profesi baru yang benar-benar di luar bayanganku, membuat aku harus banyak melakukan konsultasi dan komunikasi dengan sejawat programmer atau Analis Sistem yang sudah senior di kantor Pansystems tersebut. Aku memang seruangan dengan mereka.
Sayangnya, bukan bimbingan kepada yunior yang seharusnya aku dapat. Justru sikap individualisme di kalangan mereka, malah aku mikir, apa yang begini ini ya sikap orang Jakarta?, membuat aku tak banyak memperoleh bantuan yang aku harapkan. Kata mereka, ‘wong bayarannya dipek sendiri, giliran pekerjaan, kok minta bantuan’. Apa aku harus bagi-bagi gajiku yang cuma 40-ribu sebulan saat itu dengan mereka agar aku dibantu?
Sikap tak mau membantu itulah yang justru melecut semangatku, untuk bangkit, dan ingin menunjukkan bahwa tanpa bantuan mereka, aku pasti bisa mengatasi persoalan yang aku hadapi!
Semangat, atau lebih boleh disebut kemarahanku, untuk sama sekali tak ingin menggantungkan nasibku kepada orang lain, yang jelas-jelas tak ingin membantuku, mambuat aku dalam waktu singkat justru berkemampuan menjadi seorang programmer dan Analis Sistem yang tangguh! Aku bahkan dipujikan sebagai yang cepat belajar dibanding rata-rata programmmer pada umumnya!
Akhirnya, pulang ke Surabaya!
Sampai beberapa bulan, masih belum ada yang benar-benar dikerjakan. Komputer yang dipesan dari IBM belum dikapalkan dari Amerika. Maka kami hanya menyiapkan beberapa keperluan, seperti mencetak form-form, kertas surat, amplop, dan sejenis yang lain.
Oh.. ya…, selain aku dan Moeljono, yang orang baru, juga ada dua orang progrmmer dan analis senior, dua tahun di atasku, lalu ada lagi satu orang, yang di Jakarta adalah manajer system development ditugaskan jadi General Manager di Surabaya, serta satu orang direktur, berasal dari PT Semen Gresik, selaku wali pemegang saham. Dan satu lagi, sekretaris. Tetapi sementara menunggu mesin dateng, dua senior programmer masih berada di Jakarta, masih menyelesaikan pekerjaan mereka di sana.
Salah satu tugas yang dibebankan ke aku adalah mengirimkan surat-surat perkenalan ke sejumlah perusahaan besar, yang dianggap layak untuk ditawari kerjasama pengolahan data, karena volume datanya yang besar. Dalam surat perkenalan dan sekaligus penawaran itu terdapat kalimat, bahwa ‘… dalam beberapa hari mendatang, pimpinan kami, para direksi, sebuah perusahaan jasa pengolahan data komputer terbesar di Jakarta, akan datang ke Surabaya, dan oleh karenanya ingin mengadakan pertemuan dengan para pemimpin perusahaan dan instansi, guna membicarakan kemungkinan menawarkan jasa pengolahan data. Karenanya, kami mohon konfirmasi kapankah waktu yang dapat bapak/ibu sediakan untuk mengadakan pertemuan tersebut ….’. Begitu.
Boleh dibilang, soal komputerisasi tahun 1975 tersebut merupakan hal yang sama sekali baru di Surabaya. Wajar saja, tanggapan atas surat perkenalan yang aku buat (kebetulan aku lebih pintar mengurai kata-kata yang menarik untuk jadi tulisan, boss percaya akan hal itu!) cukup banyak. Mereka membalas kesediaan mereka menerima kedatangan ‘boss dari Jakarta’ tersebut, serta mengatur waktu dan tempat ketemu.
Pada tanggal yang sudah disepakatkan oleh para pemimpin usaha di Surabaya tiba! Sesuai dengan komunikasi sebelumnya, ‘boss Jakarta’ yang ‘ahli komputer dan pengolahan data’, akan datang dan menemui para pemimpin usaha kota Surabaya. Apa yang terjadi?
Apa yang disebut ‘boss Jakarta yang ahli komputer’ dalam suratku sebelumnya itu cuma trik yang dilakukan oleh Direkturku (yang orang PT Semen Gresik, dan sama sekali tak paham komputer!) agar suratku itu mendapat respons! Jadi?
Jadi, siapa dong yang harus mewakili ‘boss Jakarta yang ahli komputer’ untuk ketemu para boss bisnis Surabaya, sesuai dengan surat mereka, tanyaku pada bossku? Dengan enteng dia menjawab, ‘ya kamu!’. Ya ampuuunnn…..!
Bayangkan, aku yang baru pulang training, belum sepenuhnya ‘ngeh’ soal komputer, ditodong oleh boss untuk menggantikan ‘boss Jakarta yang ahli komputer’ untuk menawarkan dan memberikan gambaran mengenai kerjasama pengolahan data, manfaat komputerisasi bagi kemajuan bisnis mereka, serta berbagai persiapan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu, menjelaskannya kepada boss-boss Surabaya! Mau tak mau, dah! Daripada aku kehilangan pekerjaan?, Kan?
Demikianlah, ujian demi ujian untuk membuatlu makin tangguh sangat sering aku temui sepanjang karirku. Aku selalu mampu lolos dari berbagai situasi sulit, yang tak mungkin dengan gampang bisa dilalui oleh orang lain. Bahkan tugas seberat itu pun masih terus dilakukan oleh boss kepadaku, meski dua seniorku sudah datang di Surabaya. Bayangkan, aku harus menerangkan manfaat komputerisasi di bidang akuntansi, kepegawaian, penggajian, produksi, persediaan, pembelian, penjualan, hutang, piutang, dan masih banyak aplikasi yang lain lagi. Sementara seniorku sering menolak, dengan alasan belum pernah menangani aplikasi-aplikasi tertentu tadi.
Bayangkan, dia yang lebih senior saja bisa menolak dengan alasan belum pernah menangani, bahkan minta agar disekolahkan lebih dahulu, lha aku? Pengalaman nol! Sekolah apa lagi, wong cuma pertanian???
Boleh jadi kalau kita berpikiran negatif akan menganggap bahwa berbagai penugasan yang tak masuk akal itu sebagai jebakan agar aku gagal, sebagai cara halus untuk membuatku mundur dari pekerjaan (demikian yang dipikirkan Moeljono dan dua seniorku). Tetapi Edi Purwono tak punya dasar berpikir negatif seperti itu. Setiap tugas, meski seberat apa pun, justru menjadi tantangan untuk aku jawab dengan penuh keyakinan pasti akan bisa kuatasi, yang membuatku dalam waktu singkat belajar jauh lebih banyak dibanding sejawat lainnya.
Cilakanya, semakin aku bisa lolos dari ujian berat seperti itu, justru semakin banyak lagi hal-hal lain yang ditimpakan kepadaku. Padahal, kecepatanku untuk menyelesaikan tugas berat tertentu sebelumnya sengaja ali maksudkan agar aku bisa beristirahat agar lebih longgar, dan mengatur nafas kembali, e.. e.. ee…. malah justru membuat frekuensi penugasa kepadaku makin tinggi! Dalam waktu yang sama bahkan harus mengerjakan beberapa tugas sekaligus! Dan sayangnya pula, aku semakin berusaha bekerja lebih cepat lagi, untuk agar tak terlalu lama-lama terjepit dalam penugasan berat dan tak masuk akal yang menumpuk tersebut! Sayangnya lagi, semakin aku mempercepat penyelesaian tugasku, makin banyak kesempatan pak boss untuk menimbuni aku dengan tugas baru lainnya. Kadang terpikir pikiran jelekku, apa sebaiknya aku berlambat-lambat saja, ya?
Sayangnya, ketika aku memikirkan untuk memperlambat tempo pekerjaan, agar seperti tak digesa-gesakan dengan tugas baru, sama sekali tak membuat pak boss mengurangi intensitas penugasan kepadaku. Dia masih berpikir, pasti Edi Purwono tak akan menolak penugasan! Jadi? Kalau aku m,encoba melambatkan langgam pekerjaanku, maka aku justru akan terbenam pada hutang penugasan yang makin menumpuk! Sementara aku tak mungkin mengalihkan beban itu kepada sejawat lainnya, bukan?
Alkisah, perangkat komputer yang dipesan sudah datang. Dalam beberapa hari ada teknisinya dari Houston, Texas, yang melakukan instalasi, sampai benar-benar siap dioperasikan.
FYI, dalam organisasi pengolahan data terdapat dua departemen utama, yaitu System Development dan Computer Operation. Di departemen System Development terdiri dari para progrmmer yang akan membuat program, dan analis sistem yang mendesain aplikasi untuk dikomputerisasikan. dari segi hirarki kepangkatan, Analis Sistem bergaji lebih besar dibanding programmer (karena cuma jadi suruhan para analis untuk menulis program). Untuk jadi Analis mesti jago manajemen, pemahaman aplikasi, dan bisa menulis program(agar dalam meminta program kepada programmer tidak ngawur, dan kalau terpaksa, juga bisa menulis program sendiri). Sementara untuk level paling ‘bego’, dari segi logka diperkirakan tak mungkin jadi programmer, serta dari segi penampilan fisik sulit untuk jadi Analis, karena mesti ketemu dengan boss dan staf ahli klien, akan diarahkan menjadi operator komputer.
Dua seniorku, jelas berada di departemen System Development, karena mereka memang sudah jadi analis ketika di Jakarta. Aku? Karena aku terbukti jago bikin program (jauh lebih hebat dibanding kedua seniorku! Gak sombong!), serta beberapa kali menerima penugasan membicarakan berbagai aplikasi dengan sejumlah pemimpin bisnis di Surabaya, ya masuk departemen System Development pula!
Bagaimana dengan Moeljono? Soal pemrograman, walau bisa, tak terlalu pintar. Penampilan fisik kurang meyakinkan, selain dia juga rada introvert. Beda sama aku, yang selalu ingin tampil, dan punya keinginan kuat untuk menjadi pusat orbit! Maka Moeljono diplot jadi operator komputer. Secara hirarki kekerenan profesi, ini paling bawah!
Itu dari segi penempatan dalam bagian atau departemen. Maka ketika strktur organisasi resmi dibentuk, di mana untuk masing-masing departemen harus dipimpin oleh seorang manager, maka satu hal sudah jelas, Moeljono jadi manager Computer operation. Sementara aku? Meski aku punya kapasitas profesional tak kalah dengan seniorku, tetap saja jatah jabatan manager System Development tak mungkin jatuh ke tanganku! Salah seorang seniorku lah yang jadi manager departemen tersebut!
Sebagai yang ‘cuma’ anak buah, maka aku tak mungkin ikut dalam rapat-rapat pimpinan. Moeljono, yang kurang pintar dibanding aku, malah ikut, karena dia adalah manager. Gaji manager jelas lebih banyak. Ada tunjangan, serta beberapa privilega, seperti makan siang ditanggung perusahaan. Tapi, apakah aku harus merendahkan kapasitas profesionalku hanya untuk bisa menjadi manager? Tak, laaah….! Sedikit kecewa, karena tak masuk jadi unsur pimpinan, jelas sempat muncul. Tetaoi tak lama!
Salamku.