<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nasionalis Sejati</title>
	<atom:link href="http://edipurwono.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edipurwono.wordpress.com</link>
	<description>dedicated to my country and Indonesian brotherhood</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Oct 2009 01:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='edipurwono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/bbef9a85e3d520643fa70dd12277d182?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Nasionalis Sejati</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://edipurwono.wordpress.com/osd.xml" title="Nasionalis Sejati" />
	<atom:link rel='hub' href='http://edipurwono.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ada 2 Orang Gila di Kantorku!</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/10/02/ada-2-orang-gila-di-kantorku/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/10/02/ada-2-orang-gila-di-kantorku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Memperkenalkan bisnis jasa pengolahan data di tahun awal karirku, 1974, tak terlalu sulit, kuanggap. Sebab hampir kebanyakan perusahaan atau instansi besar, yang banyak urusannya, banyak pegawainya, luas cakupan wilayahnya, banyak produknya, sistem produksi dan pemasaran yang rumit, memerlukan aneka perhitungan yang sulit, rumit, panjang berjenjang, yang pada akhirnya harus bermuara menjadi sebuah informasi yang membantu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=62&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Memperkenalkan bisnis jasa pengolahan data di tahun awal karirku, 1974, tak terlalu sulit, kuanggap. Sebab hampir kebanyakan perusahaan atau instansi besar, yang banyak urusannya, banyak pegawainya, luas cakupan wilayahnya, banyak produknya, sistem produksi dan pemasaran yang rumit, memerlukan aneka perhitungan yang sulit, rumit, panjang berjenjang, yang pada akhirnya harus bermuara menjadi sebuah informasi yang membantu para pemimpin usaha atau instansi dalam memudahkan pengambilan keputusan penting, demi kesuksesan usahanya, maka hampir tak ada alasan untuk tak menggunakan komputer.<span id="more-62"></span></p>
<p>Karakteristik komputerisasi, di mana rangkaian perintah dan prosedur pengolahan data yang njlimet, sulit, rumit, panjang, serta berhadapan dengan berbagai variabilitas kondisi dan data, membutuhkan kecermatan yang sangat tinggi, dan ketepatan yang prima, agar dapat terolah dengan baik. Apakah tidak bisa dikerjakan secara manual, dengan mengerahkan segenap pegawai di bagian administrasi untuk menyelesaikannya?</p>
<p>Ya, bisa, sih! Karena sebelum komputer ada, sebenarnya persoalan pengolahan data serepot itu bukannya tak ada. Karena belum menggunakan komputer, pasti ya mendayagunakan para pegawainya, toh? Biarpun butuh waktu lama, nglembur mati-matian, atau apa lah&#8230;!</p>
<p>Cuma, pekerjaan yang sedemikian berat itu kan bukan one-time-job, cuma sekali, lalu tak pernah ketemu lagi berikutnya, sehingga bisa istirahat, jadi meskipun pernah bercapek-capek, anggap saja itu pengabdian. Tetapi kalau itu berulang tiap hari, tiap bulan, terus menerus sepanjang bisnis perusahaan berjalan, siapa yang tak akan muntah darah? Stroke! (strokeberry&#8230;.!).</p>
<p>Mungkin di awal-awalnya, mereka dengan penuh semangat dan kesenangan hati bisa mengerjakan pekerjaan berat, mempersiapkan laporan-laporan, khususnya laporan keuangan, dengan baik dan benar, serta tepat waktu. Tetapi setelah para manusia itu mulai merasa bosan, jenuh, atau lelah, maka produktivitas mereka ada kemungkinan menurun. Menjadi banyak melakukan kesalahan, kekurangtelitian, dan laporan-laporan terlambat selesanya. Lalu apa gunanya laporan yang terlambat bagi manajemen yang harus membuat keputusan strategis demi keberhasilan kepemimpinanya? Percuma!</p>
<p>Maka berbeda halnya jika menggunakan komputer.Semua rangkaian prosedur pengolahan, seberapa rumit dan kompleksnya, dapat dimasukkan sebagai program yang menjadi dasar instruksi pengolahan data bagi komputer. Meskipun prosedur tersebut diulang-ulang tiap hari, atau tujuh kali seharipun, berbeda dengan manusia, mana komputer bosan? Ngambek, atau minta gaji naik? Atau berkurang tingkat ketelitian, atau kecepatannya? Apa lagi komputer bekerja dalam kecepatan tinggi, menggunakan satuan MIPS (millions instructios per second, jutaan instruksi bisa dikerjakan per detiknya)?</p>
<p>Berdasarkan pertimbangan itulah, maka keinginan untuk memanfaatkan komputer sebagai alat bantu pengolahan data sangat menggugah minat. Cuma sayangnya, tahun-tahun itu belum ada komputer yang bisa menjalankan program sedemikian besar, yang harganya murah. Dikenal sebagai komputer-komputer kelas mainframe! Dan karena komputernya mahal, maka menjadi tak efisien untuk memiliki sendiri instalasi komputer, jika terlalu banyak waktu tak terpakainya. Alih-alih ingin efisien, malah keluar duit banyak!</p>
<p>Maka, seperti perusahaan di mana aku bekerja, memilih berbisnis dalam bentuk jasa pengolahan data. Biarlah soal pengadaan komputer kami saja yang membelinya. Lalu Anda semua menyewa jam pemakaiannya, yang hanya membayar sebesar jumlah jam pemakaiannya saja. Untuk mengisi waktu lowong, biarlah kami sewakan lagi ke pihak lain yang membutuhkan. Persis kaya naik taksi, kan? Tak perlu beli mobil segala, kalau ingin numpak mobil bagus! Bayar sesuai argo saja!</p>
<p>Jasa pengolahan data adalah seperti bisnis binatu. Pakaian-pakaian kotor dikirim, lalu tunggu hasil pencuciannya. Sudah siap dipakai, karena sudah dicuci dan disetrika. Bayar sesuai banyaknya pakaian yang dikirim ke binatu tersebut, tak perlu menggaji pembantu, membeli mesin cuci. Pakaian kotor adalah data yang dikirim perusahaan ke kantor penyedia jasa pengolahan data (data processing services). Lalu tunggu hasilnya, berupa laporan-laporan yang dibutuhkan. Bagaimana mengubah dari data kotor menjadi laporan, untuk itulah kami dibayar.</p>
<p>Jika saat ini banyak instalasi komputer, meski mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang serumit dahulu, bahkan sebenarnya jauh lebih berat, tetapi komputer yang dipakai tak ada yang sebesar komputer mainframe jaman dulu. Bahkan bisa &#8216;tak gendong, ke mana-mana&#8230; enak, to? manteb, to? enaaak tauuuuk&#8230;.!&#8217;. Ha &#8230;. ha&#8230;. ha&#8230;.! (ketawanya mbah Edi).</p>
<p>Komputer kami dulu adalah IBM S/360, dengan kapasitas memory sebesar 64 kilobyte. Enpat buah magnetic tape drive, dua hard disk drive, sebuah card reader, dan sebuah printer. Ukuranya? CPU-nya setinggi lemari makan, 1.5 meter tinggi, setebal hampir semeter, dengan lebar semeter pula. Di bagian depannya berkelap-kelip panel lampu jika sedang bekerja. Bobotnya, sekitar 800 kilogram. Maklum isinya komponen-komponen elektronik, kabel-kabel, atau ya&#8230; apa aja, pokoknya ruwer!</p>
<p>Sebuah magnetic tape drive, pemacu dan pemutar media penyimpan data berbentuk pita magnetik. Pitanya selebar 0.5 inchi, dengan panjang ada yang mencapai ribuan feet, tergulung dalam cartridge, dengan diameter sampai 12 inchi. Persis kayak rol film di bioskop. Tiap drive rada lebih tinggi dibanding CPU tadi, sebut saja lebih besar dari lemari makan, lah &#8230;.! Ada empat buah dengan berat sekitar 500 kilogram sebijinya!</p>
<p>Hard disk drive, pemacu dan pemutar media magnetic disk, tak terlalu besar. Setinggi meja kelas di sekolah. Sementara media penyimpanan datanya, berbentuk seperti piringan hitam, diameter 12 inchi, berlapis magnetik, tersusun dalam tumpukan seperti tandan pisang, berjarak antar lempengan sekitar setengah inchi, sebanyak 10 lempeng, setinggi10 inchi, dan cukup berat. Harganya mahal, kalau jatuh pasti pecah. Kapasitasnya 7.2 megabyte. Kalau berputar sangat cepat sekali, dan mendengungkan suara seperti kapal terbang mau berangkat!</p>
<p>Printernya? Lebar hampir dua meter, tinggi 1.5 meter, dan setebal satu meter. Kertas yang dipakai adalah continuous-form, sambung menyambung, dengan lubang perforasi di kiri kanannya, untuk mencantolkan gigi penggigit menarik kertas berjalan dengan kecepatan tinggi. Bayangkan, kecepatan cetaknya adalah 2400 lpm (line-pe-minute, baris cetak per menit). Kertas tertarik dengan kecepatan tinggi, kalau tubuh kita tergores sisi kertas, bisa terkerat! Berdarah-darah! Jari bisa putus! Beratnya rada ringan, meski besar, cuma 600 kilo, karena banyak ronggganya. Berpenutup seperti kap mesin mobil, yang secara otomatis akan membuka kalau kertas habis, kap itu terangkat!</p>
<p>Karena instalasi komputer menggunakan komponen-komponen elektronik yang belum menggunakan transistor atau IC seperti saat ini, maka komponen itu sangat mudah naik temperaturnya. Jika itu dibiarkan, maka akan mengganggu kinerja peralatannya, bahkan bisa macet! Untuk itu diperlukan ruang bersuhu rendah, namun tetap kering, sehingga AC yang terpasang pun harus duiiiingiiiinnnnn&#8230;. sekaleee&#8230;.!</p>
<p>Akibatnya, teman-teman operator meski harus mengoperasikan komputer, jika tak perlu, mereka akan berada di luar ruang komputer (computer room), walau sudah mengenakan baju tebal berlapis-lapis. Suhu dingin untuk mesin pasti tak nyaman untuk manusia. Untuk ngakali agar ketika kertas printer habis segera diketahui cepet-cepet, agar tak terjadi kapasitas terbuang yang lama, maka di atas penutup printer mereka letakkan kaleng kosong bekas biskuit. Nah ketika penutup terangkat, maka &#8230; maaak&#8230;. glondanaaang&#8230;&#8230;, terdengar bunyi keras, sehingga operator yang lelah dan ngantuk, karena kerja tiga shift, mereka cepat bangun, lalu memasang kertasnya.</p>
<p>Komputer masa kini?</p>
<p>CPU-nya cuma seukuran 1 inchi persegi, setebal beberapa milimeter, tapi kapasitasnya mencapai giga hingga terrabyte, jutaan kali komputerku jaman dulu. Hard disk juga cuma berdiamater 5.25 inchi, setebal kurang dari 1 inchi, kapasitasnya juga terrabyte pula. Dan karena harga jualnya berdasarkan harga bahan dalam produksinya, meskipun kapasitas penyimpan datanya bukan main besar, harganya makin murah. Lalu ada flash-disk yang cuma beberapa puluh ribu rupiah saja harganya. Bahkan bisa dikalungkan segala, untuk &#8216;tak gendong ke mana-mana&#8230;!&#8217;. Semua sudah menggunakan VLSIC (very large scale IC) yang tahan panas. Mau dipakai seharian, gak soal! Desktop (bisa ditaruh di atas meja) pula. Coba komputerk dulu, mana ada meja yang kuat?</p>
<p>Oh &#8230; kok jadi cerita soal komputer, ya? Padahal judulnya adalah &#8216;dua orang gila&#8217;, kan? Sorry&#8230;.! Siapa mereka?</p>
<p>&#8216;Orang gila&#8217; pertama, adalah direkturku, yang berasal dari PT Semen Gresik, yang tak punya pemahaman soal komputer. Cuma, karena semangatnya yang tinggi agar perusahaan yang dipercayakan kepadanya berjalan sukses, maka &#8216;si gila&#8217; ini (maaf, beliau sudah almarhum), asal ketemu soalan apa saja, yang bisa dikaitkan dengan komputer, langsung saja diterimanya! Apa saja, dah! Membuat desain sistem komputer yang aneh-aneh, mulai dari aplikasi bisnis, network planning untuk menangani proyek, itung-itungan statistik scientific, konstruksi, proyek jalan dan jembatan, pendirian pabrik, bahkan sampai ikut jadi komisi hitung sebuah rally mobil, diiyakan saja.  Juga ada permintaan mengadakan training, pemberian apresiasi soal komputer di kalangan pimpinan, agar pemahaman mengenai komputerisasi mereka tak salah. Gilanya, ia seperti tak peduli, apakah para staf yang bekerja di perusahaannya itu punya kompetensi mengenai hal-hal itu semua, atau tidak! Gila, kan? Seperti<br />
yang tak mampu mengukur kekuatan sendiri! Semua yang diminta orang dianggap sebagai peluang! Mengapa ia segila itu?</p>
<p>Beliau sedemikian berani menerima tantangan jenis pekerjaan apa pun yang terkait komputer, tanpa perlu memeriksa apakah pasukan yang ia miliki memang mampu diajak bertempur atau tidak! Sebab, beliau tahu, di perusahaan yang ia pimpin masih ada satu lagi &#8216;orang gila&#8217;, yang ia pastikan bisa dijadikan garda depan menjawab tantangan tersebut, apa pun bentuknya, bernama Edi Purwono!</p>
<p>Wuaaaahhh&#8230; enak aja dia! Cuma tinggal cari job, lalu menyerahkan penanganannya kepadaku. Entah aku mules, muntah, atau bahkan stroke, itu adalah urusan yang lain. Beliau percaya sekali, bahwa si Edi ini punya akal kancil untuk bisa keluar dari jepitan persoalan! Gilanya, jepitan itu boss pula yang ikut menciptakannya!</p>
<p>Memang, di antara sejawatku, memang aku satu-satunya yang selalu berani menjawab tantangan, seperti biasa, asal &#8216;ilmu katon&#8217;, lho! Senior-seniorku selalu mengajukan syarat agar mereka terlebih dahulu dikirim training, sebelum menerima penugasan. Sementara aku? Iya saja!</p>
<p>Salah satu cerita mengenai kegilaan ini adalah ketika bossku menerima permintaan dari pimpinan Pansystems Jakarta, yang kebetulan mengageni komputer kecil, atau sebutannya adalah &#8216;programmable calbulator;, sebesar cash register, yang bisa diprogram, karena memiliki &#8216;otak&#8217; yang berfungsi sebagai register, accumulator, memory, dan lain sebagainya. Programnya lebih mirip bahasa mesin, assembler (assembly language), yang bisa disimpan dalam bentuk kartu magnetik (kayak kartu telepon umum magnetik). Jadi, program bisa dibuat, lalu direkam di kartu. Jika mau mengoperasikan, kartu diinsertkan lebih dahulu, baru dioperasikan. Kalau gak salah mereknya Sharp.</p>
<p>Sebagai pemegang keagenan di Indonesia, maka sejumlah pegawai PT Pansystems pun dikirim training ke perwakilan Sharp terdekat, di Bangkok, Thailand. Dan karena alat tersebut memang merupalan salah satu alternatif penggunaan kalkulator yang bisa diprogramlan seperrti komputer, tanpa harus memasang komputer mainframe (yang ada saat itu) yang mahal, maka jamak kiranya kalau mesin ini banyak terjual, antara lain, hingga ke Surabaya. Juga banyak terjual di Jakarta dan Bandung, seperti di Direktorat Meteorologi dan Geofisik, pengawasan bangunan, Balai Besar Kereta Api, pengelola bandara, dan lain sebagainya. Aku ingat, salah satu penggunanya saat itu adalah AAL (Akademi Angkatan Laut).</p>
<p>Membeli? Ya! Memakainya? Belum bisa!</p>
<p>Sehingga mesin tersebut teronggok berbulan-bulan tak terpakai, sebab bagaimana mengoperasikannya, memprogramkan instruksinya, belum ada yang paham! Bukankah mestinya pemegang keagenan mesin itu yang harus memberikan pelatihan? Seharusnya memang demikian, tetapi nyatanya&#8230;. tidak begitu! Diantara pegawai PT Pansystems yang sudah dikirim ke luar negeri itu tak ada yang berani, atau mampu memberikan pelatihan pemakaian mesin yang sudah mereka jual! Bayangkan, sampai berbulan-bulan sejak mesin dijual, belum termanfaatkan!</p>
<p>Bagaimana pun, kewajiban untuk memberikan pelatihan tak bisa dielakkan begitu saja, dengan terus-menerus ngeles. Ada batasnya, bahwa tugas pelatihan untuk memberikan kemampuan memprogram mesin ini tetap harus ada, sesuai bunyi kontrak jual-beli yang sudah disepakati bersana. Tetapi kalau tak ada yang berani, dan bisa?</p>
<p>Boss &#8216;gila&#8217; dari Surabaya, sebagai mitra kerja boss Jakarta, dengan gagah menawarkan solusi untuk membebaskan koleganya dari kewajiban yang belum tertunaikan tadi. Hebatkah boss-ku ini? Wong yang sudah dikirim training ke Bangkok saja nyerah? Ilmu dari mana yang ia andalkan, sehinga menawarkan solusi seperti itu tadi?</p>
<p>Tawaran solusi kepada koleganya di Jakarta, tentu disambut dengan gembira. Di tengah keterdesakan yang tak mungkin lagi dihindarkan, mandatory, wajib, fardlu ain, jelas dianggap sebagai pemuas dahaga di terik padang pasir luas, kan? Langsung diterima, dong, pasti! Ada dewa penolong kok &#8230;..!</p>
<p>Sekali lagi, hebatkah boss Surabayaku ini? Berani menawarkan solusi yang sudah berbulan-bulan membuat koleganya di Jakarta seperi sakit wasir, ambeien?</p>
<p>Bossku sama sekali tak paham soal mesin yang dibingungkan oleh kolega Jakartanya itu. Berani bertaruh, melihatnya saja pasti belum pernah. Apa lagi mengoperasikan dan menuliskan program segala? Jauuuuhhhh&#8230;.! *(maaf, jangan lupa, beliau sudah almarhum.. jadi mohon permisi, rada ngrasani&#8230;.!). Kok berani?</p>
<p>Jangan lupa, pembacaku, dia kan punya pegawai yang namanya Edi Purwono? Dia ini pegawai paling &#8216;penakut&#8217; untuk menolak tugas? Apa berani si Edi ini kalau kehilangan pekerjaan? (waktu itu Pipit masih bayi). Kalau ia jadi pengangguran, lalu dengan duit apa untuk beli susu anaknya yang bayi tadi? Masak ditipu dengan memberi asupan tajin?</p>
<p>Benarlah, pembaca, keberanian boss Surabaya dalam menawarkan solusi kepada kolega Jakartanya itu adalah karena ada seorang gila bernama Edi Purwono. Bagaimana reaksi Edi Purwono ketika memmbicarakan penugasan itu?</p>
<p>Mestinya, aku akan bilang, &#8216;wah&#8230; sulit ini, boss! Aku mesti dikirim ke Thailand dulu. Atau Taipei! Atau paling tida ke Morotai, lah&#8230;! Pokoknya yang ada &#8216;tai-tai&#8217;-nya, lah!&#8217;. Mana mesinnya aku gak pernah tau, apa lagi mengoperasikan dan membuat programnya! Nanti malu kan, kalau aku sampai gagal?</p>
<p>Tetapi alih-alih seperti itu yang harusnya dikatakan, tetapi kegendenganku justru mengeluarkan jawaban lain, &#8216;baik boss&#8230;. boleh saya mendapatkan buku manual mesin itu? Wuaah&#8230;, dengan sigap ia pun mengeluarkan buku manual mesin tersebut dan menyerahkannya kepada saya. Begitu saja, seperti gak merasa salah apa-apa kepadaku, karena seperti memojokkanku, kan?</p>
<p>Cuma berbekal buku panduan, aku cuma punya waktu sehari, karena esok aku harus sudah berada di Bandung, untuk memberikan pelatihan untuk para peserta dari ITB, Balai Besar KA, Balai Pengawasan Bangunan, dan beberapa pengguna lain. Dan konyolnya, juga kepada para pegawai PT Panatraco (induknya Pansystems, yang mengageni mesin) yang dul pernah dikirim ke Thailand! Katanya, supaya tak lagi tergantung kepada &#8216;sang ahli dari Surabaya&#8217;! Ahli apa&#8217;an? Cuma ada waktu sehari membaca buku manual! Mesinnya sendiri seperti apa, cuma terlihat dalam foto saja?</p>
<p>Tugas harus dijalankan. Pagi-pagi terbang ke Jakarta, lalu dilanjutkan naik taksi 4848 Bandung-Jakarta (dulu belum ada taksi argo). Mampir makan di Puncak, lalu masuk ke hotel di Bandung. Malamnya iseng-iseng jalan-jalan ke aloon-aloon kota Bandung, cari makan. Karena dibayari kantor, maka aku makan rada mewah dikit. Kepiting asem manis, udang, lalu kerang rebus terhidang di meja. Biar pun sendirian di kota Bandung, yang baru sekali itu aku injak, enjou saja. Selepas makan langsung kembali ke hotel. Istirahat, agar tak ngantuk besok pagi.</p>
<p>Bangun pagi aku kaget bukan kepalang. Mukaku lebam-lebam, bengkak, karena alergi seafood yang alu makan semalam. Mukaku gatel sekali, padahal acara pelatihan akan dilakukan siang nanti! Gawat!</p>
<p>Sudahlah, mau apa lagi. Aku yang mestnya ngganteng jadi tembam! Gak soal! Yang penting, gimana pelatihannya nanti?</p>
<p>Hari masih pagi, sehingga kantor PT Panatraco cabang Bandung belum buka. Harus nunggu dulu sampai jam kerja mulai. Barulah aku menelepon mereka, mengabarkan kalau aku sudah datang (selaku ahli komputer Sharp Programmable Calculator yang akan ditrainingkan, mereka kan tahuna demikian?). Aku minta mereka membawa mesin ke hotel tempatku menginap, kataku, &#8216;untuk membuat persiapan materi training!&#8217;. Padahl agar sempat ngeliat lebih dulu! Biar tidak kagok!</p>
<p>Beberapa menit kemudian pegawai PT Panatraco datang ke hotel, sambil menggotong mesinnya. Sumpah, pembaca, ya baru detk itulah aku benar-benar meliha fisik mesin tersebut! Tombol &#8216;on-off&#8217;-nya saja di mana, aku tak tahu, apa lagi mengoperasikan dan menulis program?</p>
<p>Tetapi Edi Purwono adalah Edi Purwono. mengemban amanah untuk jadi &#8216;ahli mesin Sharp programmable calculator&#8217; harus diperankannya dengan baik dan sempurna! Bukankah baik di antara pegawai PT Panatraco selaku pemegang keagenan, dan para calon peserta training tak tahu berhadapan dengan siapa mereka sebenarnya? Anggapan sebagai &#8216;ahli&#8217;-nya sudah melekat kuat, yang menurutku sudah separuh kemenangan aku raih! Tinggal memenangkan yang separuh sisanya saja! Moga-moga gak terkendala!</p>
<p>Aku butuh waktu satu jam untuk mempelajari anatom mesin, dan berlatih membuat program, yang bahasanya juga baru ketemu detik itu! Tetapi karena ketakutannya untuk tak perform dengan baik, gagal, jangan-jangan dipecat, wah&#8230;. piye nanti? Malunya itu, lho!</p>
<p>Waktu satu jam memberikan aku sebuah kemampuan baru bagiku, aku bertambah pintar (dibanding sejawatku lain di Surabaya!). Memprogram mesin tersebut akhirnya kukuasai (jangan tanya sekarang, ya&#8230; dah lali aku&#8230;.!). Sehingga berangkatlah kami ke tempat pelatihan, yang diadakan di Balai Besar (kantor pusat) Kereta Api. Di sana sekitar 30 peserta sudah menunggu &#8216;ahli Sjarp&#8217; yang akan membantu mereka pintar mengoperasikan mesin yang sudah lama nganggur.</p>
<p>Training berjalan sehari penuh dan aku lewati dengan sangat sukses! Para manajer PT Panatraco yang mengikti pelatihan juga angkat jempol. Aku tak cuma bisa jadi instruktur yang hebat, tetapi juga dengan aksi panggung yang sangat prima! (Padahal, aku justru mencoba menyembunyikan kenervousanku ketika menghadapi mesin, dengan bergaya-gaya jenaka dan sok pintar di depan kelas, kok dibilang sebagai pembawaan dan aksi panggung yang sangat prima). Pulang, meski masih bermuka tembam, aku diajak makan di tempat yang enak seafood-nya! Ya, dasar aku memang suka, sikat saja! Wong biasanya aku gak alergi, kok! Makan aja lagi kepiting, udang, kerang, kenyang-kenyang!</p>
<p>Suksesku membawakan pelatihan untuk mesin yang baru kukenal di Bandung, menggema dan jadi buah bibir kekaguman di kalangan Panatraco dan Pansystems, serta Pan Esge, di Jakarta dan Surabaya. Laporan mengenai suksesku sampai ke para boss mereka! Apa akibatnya untukku?</p>
<p>Gaji naik? Promosi? Sama sekali tidak! Apa yang sudah aku kerjakan, dianggap sebagai sudah sewajarnya dalam  menjalankan tugas yang selayaknya sebagai pegawai. Normal, kan, kalau ada pegawai yang bisa menunaikan tugasnya/ Kan ia dibayar untuk itu?</p>
<p>Masa sih gak ada akibat apa-apa, Ed?</p>
<p>Tentu ya ada, dong! Setidaknya aku sekarang memiliki pengetahuan dan kemampuan baru, yang tak dimiliki bahkan oleh para seniorku. Dan akibat yang lainnya, aku jadi sering terbang (sebelumnya cuma naik bis atau kereta api). Gaya, kan? Numpak montor mabur! Masuk ke bandara. Ngerti apa yang namanya boarding pass. Ngerti &#8216;masuk lewat gate&#8217; yang mana. Membayar &#8216;airport tax&#8217;! Istilah-istilah keren yang belum pernah aku alami dan ketahui selama ini!</p>
<p>Aku jadi sangat dibutuhkan, untuk memberikan pelatihan di mana-mana. Karena mesin itu cukup laku, karena sudah &#8216;agak&#8217; komputer, maka kegiatan pemberian training juga sering! Yang katanya biar nanti diatasi oleh para staf Jakarta, agar tak tergantung Edi Purwono, sama sekali gak jalan! Mereka tetap tak berani, lebih-lebih untuk bisa mengungguli &#8216;kecemerlangan artis serba bisa&#8217; yang namanya Edi Purwono, yang kian percaya diri (dan sedikit sombong!), makin minder aja mereka. Kesempatan ketergantungannya kepadaku cukup memberiku manfaat, antara lain aku bisa makan yang enak-enak dan mewah! Dibayar kantor ini, lah&#8230;! Gak naik gaji ya biarin, asal perut terpuaskan!</p>
<p>Itulah episode &#8216;orang gila&#8217; kali ini. Masih ada beberapa kisah unik dan gila lainnya. Nanti ditulis lagi (kalau aku nggak nulis, aku lalu mengerjakan apa? Kasihan kan, aku? Gak ada kegiatan? Atau &#8230;. tidur lagi!</p>
<p>Salamku<br />
(bagimu negri, jiwa raga Edi!)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=62&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/10/02/ada-2-orang-gila-di-kantorku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moeljono Jadi Manajer, Aku Tidak!</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/10/01/moeljono-jadi-manajer-aku-tidak/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/10/01/moeljono-jadi-manajer-aku-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 01:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/30/moeljono-jadi-manajer-aku-tidak/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum pulang ke homebase Surabaya, ada beberapa bulan aku mesti masih tinggal di Jakarta, untuk mulai berlatih jadi programmer atau Analis Sistem beneran. Di Pansystems Jakarta kan sudah lama ada, jadi selalu ada yang bisa dikerjakan. kalau pulang ke Surabaya, mau ngerjakan apa? Lagian komputer di Surabaya juga belum ada! Sementara aku tinggal di Jakarta, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=60&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebelum pulang ke homebase Surabaya, ada beberapa bulan aku mesti masih tinggal di Jakarta, untuk mulai berlatih jadi programmer atau Analis Sistem beneran. Di Pansystems Jakarta kan sudah lama ada, jadi selalu ada yang bisa dikerjakan. kalau pulang ke Surabaya, mau ngerjakan apa? Lagian komputer di Surabaya juga belum ada!<span id="more-60"></span></p>
<p>Sementara aku tinggal di Jakarta, maka Moeljono minta ijin pulang lebih dahulu, begitu training selesai, karena istrinya melahirkan. Tentu saja ia tak sempat banyak berlatih praktek seperti aku.</p>
<p>Sebagai orang baru dalam profesi ini, sementara waktu training hampir sama sekali tak pernah bersentuhan dengan pengoperasian komputer, maka bisa dibayangkan, betapa canggung dan kagoknya gua. Sebab, seperti yang pernah aku bilang, kawasan &#8216;computer room&#8217; adalah ruang yang restricted dan steril. Segala operasinya sepenuhnya dilakukan oleh operatornya sendiri, sementara apa pun keperluan kita, ya harus nitip ke operator.</p>
<p>Tentu saja, profesi baru yang benar-benar di luar bayanganku, membuat aku harus banyak melakukan konsultasi dan komunikasi dengan sejawat programmer atau Analis Sistem yang sudah senior di kantor Pansystems tersebut. Aku memang seruangan dengan mereka.</p>
<p>Sayangnya, bukan bimbingan kepada yunior yang seharusnya aku dapat. Justru sikap individualisme di kalangan mereka, malah aku mikir, apa yang begini ini ya sikap orang Jakarta?, membuat aku tak banyak memperoleh bantuan yang aku harapkan. Kata mereka, &#8216;wong bayarannya dipek sendiri, giliran pekerjaan, kok minta bantuan&#8217;. Apa aku harus bagi-bagi gajiku yang cuma 40-ribu sebulan saat itu dengan mereka agar aku dibantu?</p>
<p>Sikap tak mau membantu itulah yang justru melecut semangatku, untuk bangkit, dan ingin menunjukkan bahwa tanpa bantuan mereka, aku pasti bisa mengatasi persoalan yang aku hadapi!</p>
<p>Semangat, atau lebih boleh disebut kemarahanku, untuk sama sekali tak ingin menggantungkan nasibku kepada orang lain, yang jelas-jelas tak ingin membantuku, mambuat aku dalam waktu singkat justru berkemampuan menjadi seorang programmer dan Analis Sistem yang tangguh! Aku bahkan dipujikan sebagai yang cepat belajar dibanding rata-rata programmmer pada umumnya!</p>
<p>Akhirnya, pulang ke Surabaya!</p>
<p>Sampai beberapa bulan, masih belum ada yang benar-benar dikerjakan. Komputer yang dipesan dari IBM belum dikapalkan dari Amerika. Maka kami hanya menyiapkan beberapa keperluan, seperti mencetak form-form, kertas surat, amplop, dan sejenis yang lain.</p>
<p>Oh.. ya&#8230;, selain aku dan Moeljono, yang orang baru, juga ada dua orang progrmmer dan analis senior, dua tahun di atasku, lalu ada lagi satu orang, yang di Jakarta adalah manajer system development ditugaskan jadi General Manager di Surabaya, serta satu orang direktur, berasal dari PT Semen Gresik, selaku wali pemegang saham. Dan satu lagi, sekretaris. Tetapi sementara menunggu mesin dateng, dua senior programmer masih berada di Jakarta, masih menyelesaikan pekerjaan mereka di sana.</p>
<p>Salah satu tugas yang dibebankan ke aku adalah mengirimkan surat-surat perkenalan ke sejumlah perusahaan besar, yang dianggap layak untuk ditawari kerjasama pengolahan data, karena volume datanya yang besar. Dalam surat perkenalan dan sekaligus penawaran itu terdapat kalimat, bahwa &#8216;&#8230; dalam beberapa hari mendatang, pimpinan kami, para direksi, sebuah perusahaan jasa pengolahan data komputer terbesar di Jakarta, akan datang ke Surabaya, dan oleh karenanya ingin mengadakan pertemuan dengan para pemimpin perusahaan dan instansi, guna membicarakan kemungkinan menawarkan jasa pengolahan data. Karenanya, kami mohon konfirmasi kapankah waktu yang dapat bapak/ibu sediakan untuk mengadakan pertemuan tersebut &#8230;.&#8217;. Begitu.</p>
<p>Boleh dibilang, soal komputerisasi tahun 1975 tersebut merupakan hal yang sama sekali baru di Surabaya. Wajar saja, tanggapan atas surat perkenalan yang aku buat (kebetulan aku lebih pintar mengurai kata-kata yang menarik untuk jadi tulisan, boss percaya akan hal itu!) cukup banyak. Mereka membalas kesediaan mereka menerima kedatangan &#8216;boss dari Jakarta&#8217; tersebut, serta mengatur waktu dan tempat ketemu.</p>
<p>Pada tanggal yang sudah disepakatkan oleh para pemimpin usaha di Surabaya tiba! Sesuai dengan komunikasi sebelumnya, &#8216;boss Jakarta&#8217; yang &#8216;ahli komputer dan pengolahan data&#8217;, akan datang dan menemui para pemimpin usaha kota Surabaya. Apa yang terjadi?</p>
<p>Apa yang disebut &#8216;boss Jakarta yang ahli komputer&#8217; dalam suratku sebelumnya itu cuma trik yang dilakukan oleh Direkturku (yang orang PT Semen Gresik, dan sama sekali tak paham komputer!) agar suratku itu mendapat respons! Jadi?</p>
<p>Jadi, siapa dong yang harus mewakili &#8216;boss Jakarta yang ahli komputer&#8217; untuk ketemu para boss bisnis Surabaya, sesuai dengan surat mereka, tanyaku pada bossku? Dengan enteng dia menjawab, &#8216;ya kamu!&#8217;. Ya ampuuunnn&#8230;..!</p>
<p>Bayangkan, aku yang baru pulang training, belum sepenuhnya &#8216;ngeh&#8217; soal komputer, ditodong oleh boss untuk menggantikan &#8216;boss Jakarta yang ahli komputer&#8217; untuk menawarkan dan memberikan gambaran mengenai kerjasama pengolahan data, manfaat komputerisasi bagi kemajuan bisnis mereka, serta berbagai persiapan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu, menjelaskannya kepada boss-boss Surabaya! Mau tak mau, dah! Daripada aku kehilangan pekerjaan?, Kan?</p>
<p>Demikianlah, ujian demi ujian untuk membuatlu makin tangguh sangat sering aku temui sepanjang karirku. Aku selalu mampu lolos dari berbagai situasi sulit, yang tak mungkin dengan gampang bisa dilalui oleh orang lain. Bahkan tugas seberat itu pun masih terus dilakukan oleh boss kepadaku, meski dua seniorku sudah datang di Surabaya. Bayangkan, aku harus menerangkan manfaat komputerisasi di bidang akuntansi, kepegawaian, penggajian, produksi, persediaan, pembelian, penjualan, hutang, piutang, dan masih banyak aplikasi yang lain lagi. Sementara seniorku sering menolak, dengan alasan belum pernah menangani aplikasi-aplikasi tertentu tadi.</p>
<p>Bayangkan, dia yang lebih senior saja bisa menolak dengan alasan belum pernah menangani, bahkan minta agar disekolahkan lebih dahulu, lha aku? Pengalaman nol! Sekolah apa lagi, wong cuma pertanian???</p>
<p>Boleh jadi kalau kita berpikiran negatif akan menganggap bahwa berbagai penugasan yang tak masuk akal itu sebagai jebakan agar aku gagal, sebagai cara halus untuk membuatku mundur dari pekerjaan (demikian yang dipikirkan Moeljono dan dua seniorku). Tetapi Edi Purwono tak punya dasar berpikir negatif seperti itu. Setiap tugas, meski seberat apa pun, justru menjadi tantangan untuk aku jawab dengan penuh keyakinan pasti akan bisa kuatasi, yang membuatku dalam waktu singkat belajar jauh lebih banyak dibanding sejawat lainnya.</p>
<p>Cilakanya, semakin aku bisa lolos dari ujian berat seperti itu, justru semakin banyak lagi hal-hal lain yang ditimpakan kepadaku. Padahal, kecepatanku untuk menyelesaikan tugas berat tertentu sebelumnya sengaja ali maksudkan agar aku bisa beristirahat agar lebih longgar, dan mengatur nafas kembali, e.. e.. ee&#8230;. malah justru membuat frekuensi penugasa kepadaku makin tinggi! Dalam waktu yang sama bahkan harus mengerjakan beberapa tugas sekaligus! Dan sayangnya pula, aku semakin berusaha bekerja lebih cepat lagi, untuk agar tak terlalu lama-lama terjepit dalam penugasan berat dan tak masuk akal yang menumpuk tersebut! Sayangnya lagi, semakin aku mempercepat penyelesaian tugasku, makin banyak kesempatan pak boss untuk menimbuni aku dengan tugas baru lainnya. Kadang terpikir pikiran jelekku, apa sebaiknya aku berlambat-lambat saja, ya?</p>
<p>Sayangnya, ketika aku memikirkan untuk memperlambat tempo pekerjaan, agar seperti tak digesa-gesakan dengan tugas baru, sama sekali tak membuat pak boss mengurangi intensitas penugasan kepadaku. Dia masih berpikir, pasti Edi Purwono tak akan menolak penugasan! Jadi? Kalau aku m,encoba melambatkan langgam pekerjaanku, maka aku justru akan terbenam pada hutang penugasan yang makin menumpuk! Sementara aku tak mungkin mengalihkan beban itu kepada sejawat lainnya, bukan?</p>
<p>Alkisah, perangkat komputer yang dipesan sudah datang. Dalam beberapa hari ada teknisinya dari Houston, Texas, yang melakukan instalasi, sampai benar-benar siap dioperasikan.</p>
<p>FYI, dalam organisasi pengolahan data terdapat dua departemen utama, yaitu System Development dan Computer Operation. Di departemen System Development terdiri dari para progrmmer yang akan membuat program, dan analis sistem yang mendesain aplikasi untuk dikomputerisasikan. dari segi hirarki kepangkatan, Analis Sistem bergaji lebih besar dibanding programmer (karena cuma jadi suruhan para analis untuk menulis program). Untuk jadi Analis mesti jago manajemen, pemahaman aplikasi, dan bisa menulis program(agar dalam meminta program kepada programmer tidak ngawur, dan kalau terpaksa, juga bisa menulis program sendiri). Sementara untuk level paling &#8216;bego&#8217;, dari segi logka diperkirakan tak mungkin jadi programmer, serta dari segi penampilan fisik sulit untuk jadi Analis, karena mesti ketemu dengan boss dan staf ahli klien, akan diarahkan menjadi operator komputer.</p>
<p>Dua seniorku, jelas berada di departemen System Development, karena mereka memang sudah jadi analis ketika di Jakarta. Aku? Karena aku terbukti jago bikin program (jauh lebih hebat dibanding kedua seniorku! Gak sombong!), serta beberapa kali menerima penugasan membicarakan berbagai aplikasi dengan sejumlah pemimpin bisnis di Surabaya, ya masuk departemen System Development pula!</p>
<p>Bagaimana dengan Moeljono? Soal pemrograman, walau bisa, tak terlalu pintar. Penampilan fisik kurang meyakinkan, selain dia juga rada introvert. Beda sama aku, yang selalu ingin tampil, dan punya keinginan kuat untuk menjadi pusat orbit! Maka Moeljono diplot jadi operator komputer. Secara hirarki kekerenan profesi, ini paling bawah!</p>
<p>Itu dari segi penempatan dalam bagian atau departemen. Maka ketika strktur organisasi resmi dibentuk, di mana untuk masing-masing departemen harus dipimpin oleh seorang manager, maka satu hal sudah jelas, Moeljono jadi manager Computer operation. Sementara aku? Meski aku punya kapasitas profesional tak kalah dengan seniorku, tetap saja jatah jabatan manager System Development tak mungkin jatuh ke tanganku! Salah seorang seniorku lah yang jadi manager departemen tersebut!</p>
<p>Sebagai yang &#8216;cuma&#8217; anak buah, maka aku tak mungkin ikut dalam rapat-rapat pimpinan. Moeljono, yang kurang pintar dibanding aku, malah ikut, karena dia adalah manager. Gaji manager jelas lebih banyak. Ada tunjangan, serta beberapa privilega, seperti makan siang ditanggung perusahaan. Tapi, apakah aku harus merendahkan kapasitas profesionalku hanya untuk bisa menjadi manager? Tak, laaah&#8230;.! Sedikit kecewa, karena tak masuk jadi unsur pimpinan, jelas sempat muncul. Tetaoi tak lama!</p>
<p>Salamku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=60&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/10/01/moeljono-jadi-manajer-aku-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Training Komputer di Jakarta</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/30/ketika-training-komputer-di-jakarta/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/30/ketika-training-komputer-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 09:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/30/ketika-training-komputer-di-jakarta/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 1974, bulan September, awal bulan, aku sampai di Jakarta, setelah nunggang bis semalaman, bersama rekan sejawatku, Moeljono, peserta test masuk yang terakhir harus kami ubek-ubek cari almost seharian. Naik bis malam, sangat dingin. AC bis nggak bisa dikecilkan. Dan selama berjam-jam, he.. he.. he.. aku harus menghirup &#8216;gas buang&#8217; Moeljono, yang katanya kembung. karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=59&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tahun 1974, bulan September, awal bulan, aku sampai di Jakarta, setelah nunggang bis semalaman, bersama rekan sejawatku, Moeljono, peserta test masuk yang terakhir harus kami ubek-ubek cari almost seharian. Naik bis malam, sangat dingin. AC bis nggak bisa dikecilkan. Dan selama berjam-jam, he.. he.. he.. aku harus menghirup &#8216;gas buang&#8217; Moeljono, yang katanya kembung. karena gak tahan AC. Padahal, ambune&#8230;. rek&#8230;! Buauuuukkkk&#8230;.! Bedhes!<span id="more-59"></span></p>
<p>Tahun tersebut di Indonesia belum ada sekolah komputer. Jika banyak ahli komputer, rata-rata mereka baru pulang dari luar negeri, sekolah di sana. Kalau pun ada yang mau mengikuti pendidikan komputer, kalau cuma sekelas &#8216;kursus&#8217;, antara lain dilakukan oleh beberapa perusahaan yang sudah memiliki instalasi komputer besar di kantornya. Memanfaatkan waktu luang pemakaian kopmputer. Salah satunya adalah kantor pusatku. Oh &#8230; ya, kantorku sendiri, di Surabaya, adalah joinan antara kantor di Jakarta, dengan salah satu klien pengolahan datanya, PT Semen Gresik.</p>
<p>Pada tahun-tahun tersebut belum seperti sekarang, di mana hampir semua perusahaan memiliki instalasi komputernya sendiri, dan menjalankan pengolahan data secara internal, oleh mereka sendiri. Pada tahun itu belum ada komputer murah, sehingga terdapat beberapa perusahaan yang berusaha dalam bidang jasa pengolahan data untuk perusahaan lain. Saat itu pengolahan data PT Semen Gresik di Gresik, tentu, dilakukan di perusahaan PT Pansystems di Jakarta. Dokumen-dokumen data dikirim, via paket ekspedisi, lalu direkam dan diproses di Jakarta, sambil PT Semen Gresik mengirimkan petugas yang menangani pengolahan data terbang ke Jakarta. Pulangnya ia bawa laporan-laporan hasil pengolahan data. Begitu sebulan sekali. Dengan berjoin membuka perusahaan di Surabaya, PT Pan ESGE, maka pengiriman data selain lebih dekat, juga ikut bisnis menawarkan jasa pengolahan data ke perusahaan lain yang membutuhkan.</p>
<p>Sekitar enam bulan aku mengikuti training menjadi operator, programmer, dan Analis Sistem, yang diselenggarakan oleh Education Dept. dari PT Pansystems, yang membuka kelas untuk para staf dari berbagai instansi pemerintah, seperti PU, PT Perkebunan, dan lain sebagainya. Training dilakukan di Gedung LPPM Menteng Raya. Tempatnya enak, snack-nya juga berkelas, khususnya bagi wong &#8216;ndeso&#8217; seperti aku.</p>
<p>Aku paling krasan kalau masuk toilet. Duduk nongkrong, lama, menghabiskan waktu. Ruangan toiletnya besar, harum, sejuk, beda banget sama kos-kosanku di Jakarta. Atau bahkan rumahku sendiri di Surabaya. Teman-teman sudah hafal, kalau mencariku, pasti di toilet! Duduk termenung, &#8216;membuat gunung&#8217;!, istilahku menyebut acara nongkrong di WC itu!</p>
<p>Berbeda dengan cara belajar komputer saat ini, yang begitu hari pertama sudah berada di depan komputer. Dulu, aku, cuma bisa lihat komputer dari luar &#8216;computer room&#8217;. Sambil ditunjuk-tunjukkan, mana CPU, mana printer, mana hard disk drive, mana pula magnetic tape drive. Tak sembarangan boleh masuk ke &#8216;computer room&#8217;. Kawasan itu sangat &#8216;restricted&#8217;.</p>
<p>Bagaimana pelajaran berjalan?</p>
<p>Ya seperti kuliah di kelas, sambil mengangankan instalasi komputer nun di sono, noh&#8230;..!</p>
<p>Mula-mula, harus mengikuti tahap pertama, Pengenalan Komputer, atau lazim disebut ITC, atau Introduction to Computer. Yang kami terima cuma diktat, serta gambar-gambar OHP atau slide saja. Kira-kira ya begitulah yang namanya komputer itu. Percaya saja.</p>
<p>Agar saya tak dipulangkan, batal bekerja, maka tak cuma harus lulus di tiap tahap pelatihan, juga harus bernilai excellent. Kurang-kurang, harus siap mengambil tiket pulang. Tapi, Edi Purwono selalu yang terbaik di antara 20 orang di kelas! Bahkan para peserta lain mengira aku sudah benar-benar telah bekerja sebagai profesional komputer. Padahal, boro-boro &#8230;&#8230;! Sangking aja takut gak diterima bekerja! Komputer, Jon!</p>
<p>Tahap berikut, adalah ITP, introduction to programming. Di sini kami diajarkan melatih logika memecahkan masalah pengolahan data, seperti bgaimana &#8216;mengupdate file stok dengfan mutasi pembelian, penjualan&#8217; dan lain sebagainya, menggunakan simbol-simbol pemrograman (flowcharting symbols).</p>
<p>Di tahap ini adalah tahap terberat, sebab kami harus memahami bagaimana komputer bekerja, sesuai dengan urutan perintah berdasarkan logika yang nantinya akan ditulis menjadi program komputer. Tapi yang dilakukan adalah seperti membuat skema gambar-gambar dan aliran proses dari satu kondisi data ke kondisi yang lain, bagaimana mematikan suatu aliran proses agar tidak dilewati, atau menghidupkan lagi, untuk proses tertentu, yang semuanya digambarkan dalam sebuah diagram alir. Apa yang ada di dalam otak harus dituangkan di kertas, untuk diuji oleh instruktur, bener apa nggak cara kerja yang kami pikirkan. Butuh otak yang mampu membayangkan begitu banyak aliran proses dan simbol yang berseliweran, sebelum dituangkan di kertas! Otak sempit? Jangan diterusin! Bisa pecah!</p>
<p>Pelajaran ITP dimulai dari soal-soal sederhana, seperti baca data lalu cetak. Terus meningkat, baca data dan membuat total alhir, seperti nilai jual yang didapat dari jumlah-barang dikalikan harga, lalu ditotal di akhir proses. meningkat lagi, kalau semula hanya satu bon penjualan, kini lebih, sehingga ada beberapa subtotal untuk masing-masing bon penjualan. Terus meningakat, sampai yang aneh-aneh, dan musykil, sehingga kertas yang dipakai juga berlembar-lembar, karena besarnya aliran proses yang akan digambarkan.</p>
<p>Di sini kembali Edi Purwonio menunjukkan kelasnya, yang jauh berbeda dengan peserta-peserta lain, yang pada umumnya insinyur, bahkan doktor, dari instansi pemerintah. Apa bukan karena aku lebih didesak karena keharusan untuk tak gagal, ya? Karena mereka kan sudah PNS, gak lulus, masa mau dipecxat?Lha aku?</p>
<p>Hampir setiap kasus yang diberikan instruktur dapat aku selesaikan dalam tempo tak lebih dari 15 meit! Sementara peserta lainnya, termasuk Moeljono, butuh waktu sedikitnya 3-4 jam. Itu pun karena mereka menunggu giliran peredaran kertas pekerjaanku yang akan mereka contoh! Sementara aku banyak ngobrol dengan instrukturku di luar ruangan, sambil mendahului ambil snack, rada banyakan. Kan kos-kosan?</p>
<p>Sialnya, instrukturku,seorang programmer jago, lebih ingin melihat aku mengalami kesulitan, dengan memberikan kasus-kasus yang semakin kompleks! Rasanya dia merasa, aneh orang satu ini, kok nggak ada matinye! Maka kami diberi kasus-kasus yang makin berat (tapi bagiku menggairahkan!). Akibatnya, peserta lain bertumbangan. Pelan-pelan menyusut, nyerah! Gak nerusin kursus gak patheken, begitu. Bahkan mereka kuatir nanti kalau kembali dari training malah disuruh ngurusin komputer di kantor mereka! Trainingnya saja seperti neraka! Apa lagi prakteknya?</p>
<p>Waktu ujian pun tiba. Gak tanggung-tanggung, tiga soal yang berat disoalkan dalam ujian! Namun seperti biasa, ujian yang dimulai jam 08:00 pagi sampai jam 15:00, dengan sangat cepat, sekitar kurang dari 1 jam, berhasil aku selesaikan. Lalu aku keluar ruangan, ngajak ngobrol instruktur, yang rasanya sudah gak peduli dengan peserta lain di dalam. Kertas jawaban ujianku beredar!</p>
<p>Materi training tahap tiga kami belajar bahasa pemrograman COBOL, bahasa komputer untuk aplikasi bisnis yang sangat populer di komputer mainframe saat itu. Karena ITP-ku hebat, maka belajar COBOL pun dengan gemilang aku selesaikan. Demikian juga di tahap terakhir, keempat, menjadi analis sistem, yang diminta membuat desain sistem pengolahan data, untuk suatu jenis aplikasi tertentu, waktu itu sebuah pengolahan data persediaan sebuah perusahaan manufaktur. Kami diminta membuat risalah, paper, yang selayak skripsi, dan harus dipresentasikan di depan para penguji. Semua pelatihan aku lewati dengan sangat sukses! Moeljono agak keteter, tapi ya sampai selesai!</p>
<p>Kami pun pulang ke Surabaya, secara resmi menjadi programmer dan analis sistem komputerisasi! Gagah! Dan membanggakan! Komputer, Jon!</p>
<p>Bagaimana kisah selanjutnya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=59&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/30/ketika-training-komputer-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyerah itu Mudah</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/17/menyerah-itu-mudah/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/17/menyerah-itu-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 02:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada pekerjaan yang paling mudah dilakukan di dunia ini, Bintang kecilku, selain satu kata, menyerah. Kau tak perlu memikirkan apa-apa lagi, cukup kau katakan saja, sudahlah, aku menyerah saja, lalu hentikan semua pekerjaanmu, upayamu, menyerahkan semuanya kepada pemberi kepercayaan yang kau sudah rasakan sebagai tak mampu lagi kau teruskan, menyerah. Putus di situ, sudah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=55&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tak ada pekerjaan yang paling mudah dilakukan di dunia ini, Bintang kecilku, selain satu kata, menyerah. Kau tak perlu memikirkan apa-apa lagi, cukup kau katakan saja, sudahlah, aku menyerah saja, lalu hentikan semua pekerjaanmu, upayamu, menyerahkan semuanya kepada pemberi kepercayaan yang kau sudah rasakan sebagai tak mampu lagi kau teruskan, menyerah. Putus di situ, sudah.<span id="more-55"></span></p>
<p>Menyerah memang tak bisa dihindarkan, oleh siapa saja, ketika yang bersangkutan sudah memeras hingga kering akal dan otaknya, namun tak juga menemukan cara dan jalan keluar dari persoalan yang membelitnya. Ia telah menggunakan semua apa yang ia mampu dan kuasai, untuk bisa memecahkan masalahnya tersebut, menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadanya dari sang pemberi kepercayaan, namun ia merasa menemukan tembok tinggi dan tebal, yang ia rasakan sebagai penghalang yang tak mungkin ia atasi.</p>
<p>Menyerah, memang paling mudah, untuk menghindari datangnya kemungkinan yang dirasakan sebagai tambah buruk, ketika ingin mencoba tak hendak menyerah. Menyerah merupakan sebuah pelarian yang paling gampang. Menyerah memang banyak dipilih ketika seseorang tak ingin bertemu dengan masalah-masalah yang lebih besar. Namun, menyerah bisa berarti tertutupnya semua peluang yang mungkin masih tersedia dan terbuka, jika yang bersangkutan masih ingin mencoba dan mencoba lagi. Dengan keras, tentu, Bintang kecilku.</p>
<p>Seberapa cepatnya seseorang mulai merasakan keinginannya untuk menyerah, segera angkat tangan, mengibarkan saputangan putih yang diikatkan pada setangkai kayu ranting kering, dan dikibar-kibarkannya? Di sinilah letak perbedaannya. Di sinilah kau harus coba pahami, bagaimana kehidupan sudah memberimu kepercayaan untuk hadir, bukan sekedar sebagai pelengkap dan penambah jumlah penduduk semata. Kau dipercaya untuk hadir, dan memberi makna, pada kehidupan itu sendiri. Pada sesama.</p>
<p>Adalah kekuatan, yang didukung oleh kemampuan dan pengetahuan, serta luasnya wawasan, yang membuat seseorang bisa bertahan jauh lebih lama, meski akhirnya menyerah nantinya. Atau, ternyata ia tak pernah mengenal perbendaharaan kata yang satu itu, membuang dan merobeknya dari kamus hidupnya, karena ia benar-benar pantang menyerah.</p>
<p>Berbekal dengan kekuatan, kemampuan, pengetahuan dan semangat untuk hidup itulah seseorang akan berusaha agar dirinya eksis di kerumunan dan kekerabatan di sekitarnya. Dengan modal itu pulalah ia tak ingin hanya sekedar pelengkap hitungan, namun juga senantiasa menjadi perhitungan oleh orang-orang di sekitarnya. Keberadaannya ia usahakan agar selalu memberi makna, sehingga ketidakberadaannya pasti akan dicari-cari dan diharapkan ada.</p>
<p>Keberadaan kita di dunia adalah karena sedang menjalankan kepercayaan sang pemberi hidup. Konon itu jualah yang pernah kita ucapkan ketika sang pemberi hidup hendak mengirimkan kita turun ke dunia. Karena kita sudah berjanji kepadaNya, bahwa kita pasti akan memberi arti bagi kehidupan, jika kita diperkenankan untuk dilahirkan, maka janji itulah yang membuat sang pemberi hidup melepaskan kita lahir ke dunia ini. Apakah kita akan menciderai janji kita itu?</p>
<p>Dengan kelahiran kita, Bintang kecilku, sebenarnya sang pemberi hidup sudah memberikan kepercayaannya kepada kita, sesuai janji kita itu, untuk berada di dunia, sebuah medan ciptaan beliau yang bukan main hebatnya ini, untuk diisi dengan orang-orang hebat. Beliau tak ingin mempercayakan ciptaanNya yang hebat ini secara sembarangan, yang akan membuat mahakarya yang sangat hebat ini menjadi tak ada gunanya, atau bahkan sia-sia. Namun ketahuilah, Bintang kecilku, dunia juga sebuah ajang untuk menguji, apakah kepercayaan yang diberikan oleh sang pemberi hidup itu memang bisa kita tunaikan sesuai janji kita.</p>
<p>Kita mengawali hidup ini dengan kekosongan. Hampir kita semua dilahirkan dengan ketidaktahuan akan membawa peran apakah dalam kehidupan ini. Namun kekosongan dan ketidaktahuan itu tak boleh dibiarkan terlalu lama terjadi, karena secara diam-diam, seorong dengan perjalanan waktu, jumlah jam kehadiran kita di dunia ini semakin berkurang ketika umur kita bertambah. Dan itu berarti sudah semakin kurang pulalah kesempatan yang tersedia untuk kita, agar bisa kita gunakan untuk memenuhi janji kita sebelum kita dilahirkan dulu. Sang pemberi hidup selalu menunggu janji kita itu.</p>
<p>Belajar, mencari pengalaman, dan terus berusaha membuka misteri kehidupan adalah merupakan bagian dari kemauan seseorang untuk mengisi kekosongan dan ketidaktahuannya. Belajar, mencari pengalaman, dan usaha keras membuka misteri hidup akan membuat seseorang semakin berisi, yang dapat ia pakai untuk mengarungi kehidupan yang lebih luas, membuktikan janji kita kepada sang pemberi hidup, bahwa kita bukan sekedar pemenuh angka dalam statistik kependudukan, namun benar-benar bisa menjadi wakil dan pembawa pesan dari sang pemberi hidup tersebut.</p>
<p>Sang pemberi hidup memberikan kita sebongkah otak, yang sama besarnya dengan yang dimiliki oleh orang-orang lain. Demikian otak yang dimiliki oleh Einstein, Habibie, dan kita semua ini. Sang pemberi hidup membekali masing-masing utusanNya yang dilahirkan ke dunia ini dengan bekal yang sama, mula-mula. Sang pemberi hidup tak pernah membuat perbedaan dalam hal tersebut. Maka ku pun tak boleh merasa iri kepada yang lain, pun tak boleh merasa tinggi hati, Bintang kecilku.</p>
<p>Sang pemberi hidup memang memberi masing-masing kita cuma otak yang tak lebih besar dari genggaman kita. Namun sang pemberi hidup memberikan sebuah kotak penyimpan yang ajaib, ia bisa dibiarkan kosong melompong, setengah berisi, atau sebesar apa pun yang kita mampu isikan pada kotak ajaib itu. Belajar dan berpengalaman merupakan lembar-lembar catatan yang bisa mengisi otak kita tersebut, tergantung sepenuhnya kepada kita, apakah mau mengisinya dengan penuh atau membiarkannya banyak kosong, mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, atau kemubaziran. Sang pemberi hidup hanya memberikan kita otak, bukan isinya. Sang pemberi hidup mempercayakan sepenuhnya kepada setiap manusia, mengenai dengan apa otak mereka akan mereka isi.</p>
<p>Dengan belajar kita akan menambah pengetahuan kita, menambahkan pada simpanan pengetahuan yang sudah kita muat pada otak kita. Mencari pengalaman akan melengkapi kita dengan semua pengalaman yang pernah kita alami, dan kita catat dalam otak kita. Upaya kita membuka misteri akan semakin memperkaya kita mengenai bagaimana sang pemberi hidup berkenan menggelar dunia dan isinya untuk kita isi dan diami ini. Dan semuanya tersimpan dalam otak kita, yang bisa kita gali sewaktu-waktu, ketika kita membutuhkan referensi yang kita perlukan untuk membantu memecahkan masalah kita. Dan sebanyak isi otak itu pulalah kita mampu menggunakannya, serta yang akan menentukan cepat atau tidaknya seseorang menyerah.</p>
<p>Menyerah memang merupakan hal yang paling gampang. Menyerah memang kata yang sangat menggoda, agar seseorang tak berminat melanjutkan perjuangannya. Jika kemauan untuk mengisi hidup ini dengan penuh kemaknaan, seperti janji kita kepada sang pemberi hidup, maka kata menyerah adalah suara yang dibisikkan oleh mereka yang ingin menggagalkan janji kita. Mereka yang ingin membuktikan kepada sang pemberi hidup, bahwa mereka telah membuat kesalahan dengan mengirimkan kita lahir di dunia.</p>
<p>Kata menyerah akan terus dibisikkan kepada kita, setiap kali kita mulai lemah, putus asa, tak berdaya, dan seolah sudah tak ada jalan terbuka yang bisa kita coba lalui. Bahkan kata menyerah sudah jauh-jauh terbisikkan kepada kita, meski kita sedang baru saja merisntis jalan memecahkan masalah kita. Kata menyerah sedemikian menggoda. Kata menyerah seperti menjanjikan kepada kita sebuah kenikmatan-kenikmatan, hanya karena kita ingin terbebas dari keharusan untuk bekerja keras. Apa untungnya kerja keras, sih? Kalau kau sekarang sudah bisa duduk-duduk tenang, dengan menyerah saat ini juga?</p>
<p>Menyerah memang membebaskan kita dari ‘penderitaan’ harus lebih bekerja keras, memeras otak dan membanting tulang, berkeringat hingga berdarah-darah. Sebab dengan menyerah, maka usailah sudah. Kau terbebas dari keharusan untuk lebih ‘menderita’. Namun cobalah ingat, apakah di balik semua penderitaan itu bukan sudah tersedia janji sang pemberi hidup untuk memberikan penhargaan kepada kita karena kita menjadi lebih bermakna? Melampaui dari semua kenikmatan yang pernah kita terima sebelumnya? Dan yang lebih besar lagi, kita telah memberikan bukti, sekali lagi, menunaikan janji kita kepada sang pemberi hidup? Sungguh bahagianya.</p>
<p>Dengan menyerah kita tak cuma gagal menunaikan janji kehidupan kita. Dengan menyerah kita telah mengorbankan kesempatan yang diberikan oleh sang pemberi hidup melalui umur kita. Kita telah membuang kesempatan dan membayar usia itu dengan kesia-siaan, yang akan membebani kita dengan penyesalan, meski kita belum pasti benar, apakah sang pemberi hidup akan meminta pertanggungjawaban atas janji kehidupan kita ketika kita dipanggil pulang nanti, Bintang kecilku.</p>
<p>Kita memang sedang berada di dalam kehidupan yang semakin tua, dan semakin maju. Apa yang mudah dan sudah terjadi di waktu-waktu yang lalu belum tentu terulang lagi sekarang ini. Mungkin hal yang sama, tetapi soal kemudahannya pasti sudah berubah. Jika dulu hampir semua orang berkemungkinan melakukannya, kini mungkin hanya sedikit orang saja yang bisa memperoleh kesempatan itu. Jika dahulu hanya dengan bekerja ala kadarnya, kita sudah bisa memperoleh hasil yang besar, kini bahkan hanya untuk mendapatkan kesempatannya saja, belum lagi hasilnya sebesar apa, kita harus melaluinya dengan kerja keras, berkemauan tinggi, bersemangat,dan satu lagi, pantang menyerah.</p>
<p>Segala-galanya sudah sangat terbatas, langka, bahkan nyaris tak ada. Di sedikit hal yang berguna bagi kehidupan itu, kita dihadapkan dengan jumlah manusia yang semakin banyak, dengan isi otak yang semakin baik dan beragam, yang bersama-sama seperti dilepas di sebuah padang perburuan, untuk saling sikut, bahkan membinasakan, agar bisa mencapai tujuannya. Eh&#8230; bahkan mungkin bukan tujuan hidupnya, tetapi agar bisa makan, mempertahankan hidup, untuk mencapai tujuan hidupnya yang lebih besar. Baru sekedar untuk bisa makan saja, Bintang kecilku.</p>
<p>Dunia makin terbatas, Bintang kecilku. Sudah banyak yang terkuras habis dan tidak terbaharukan. Perlu jutaan tahun lagi untuk mengembalikan itu semua, seperti halnya apa-apa yang ada itu juga merupakan hasil evolusi jutaan atau bahkan milyaran tahun silam, bukan? Berharap kau bisa menemui kembali apa-apa yang sudah hilang itu bukan saja percuma, tetapi sia-sia, sesuatu yang tak mungkin kita alami. Mau umur berapa kita, nek?</p>
<p>Selagi semua yang tersisa makin terbatas, maka jumlah manusia bertambah bukan main pesatnya. Semua mulut harus mendapat makan cukup, sehingga mau-tak-mau harus ada perjuangan ekstra keras untuk hanya sekedar mempertahankan hidup, konon pula hendak sejahtera. Manusia jadi serigala bagi yang lain, saling memangsa, homo homini lupus. Persaingan semakin berat. Apa yang kita punya, juga dipunyai oleh orang lain, bahkan lebih banyak, dan lebih bagus. Apa yang sementara baru dalam angan-angan kita, ternyata sudah dijalankan oleh orang lain. Gila, kan?</p>
<p>Kita sudah coba memutar otak kita, dan berusaha untuk mendapatkan sebuah ide yang orisinil, menurut pendapat kita, yang kita harapkan bisa menjadi senjata untuk membantu mengatasi masalah kita. Namun ternyata, sesuatu yang baru berupa ide, dan kita pikir itu adalah hasil daya kreatif kita, juga sudah terpikirkan pula oleh orang lain. Ketika kita mencoba berjalan menapaki jalur gagasan kita tersebut, tiba-tiba kita sudah bertemu dengan banyak orang dengan tujuan yang sama. Kita berjalan cepat, mereka berlari kencang. Toh demikian, ketika sampai di tujuan, di sana pun sudah ada banyak orang yang sudah berkerumun dan saling berebut.</p>
<p>Keterbatasan telah menguras banyak bekal yang kita miliki. Semua daya pikir kita sudah tuntas kita peras, hingga rasanya sudah tak ada lagi yang tersisa yang bisa kita pikirkan, namun toh masih banyak kendala yang menghadang di depan kita, yang mempersulit laju kecepatan dan kemampuan kita menyelesaikan masalah. Akankah kita menyerah?</p>
<p>Menyerah memang sebaiknya kita hindarkan. Menyerah harus kita tempatkan pada posisi terakhir, paling ujung, ketika kita sudah yakin bahwa kita memang ditakdirkan untuk menyerah. Ada batas kekuatan yang kita miliki sehingga hanya dengan menyerah kita menyudahi persoalan, bukan menyelesaikan persoalan.. Menyerah harus kita lakukan setelah kita berpikir panjang, bahwa sudah tak ada lagi kemungkinan yang mampu kita jalankan. Keputusan untuk menyerah jangan lagi menyisakan hal-hal yang masih bisa kita lakukan sebenarnya, namun kita sudah keburu menyatakan menyerah. Ketika kita memutuskan untuk menyerah, pastikan memang sudah tak ada jalan lain yang bisa kita ambil.</p>
<p>Keputusan untuk menyerah juga merupakan sebuah keputusan yang bijak, ketika kita mulai mempertimbangkan, membuat rasio, perbandingan antara manfaat yang masih mungkin kita peroleh dengan terus tidak menyerah, atau menyerah saat itu juga. Mungkin kita bisa mencapai sasaran hasil, dan memecahkan masalah, namun tenyata uoaya-upaya tersebut membutuhkan korbanan yang jauh lebih banyak dibanding dengan manfaat yang akan kita peroleh, hanya karena kira berusaha untuk tidak menyerah sebelumnya. Kita sudah kehiangan waktu dan enersi, yang seharusnya jauh lebih bermanfaat jika kita sudah putuskan untuk menyerah pada waktunya.</p>
<p>Keputusan untuk tidak menyerah janganlah disebabkan karena kita takut tidak dianggap kuat, atau tak mampu menjalankan tugas, lalu kita mengorbankan apa saja guna mempertahankan image terhadap diri kita tersebut. Keinginan untuk tidak menyerah karena kita merasa yakin dan mampu menyelesaikan masalah tersebut. Keputusan untuk tak menyerah memang sudah kita ukur sejauh ini dengan kekuatan dan kemampuan kita. Namun jika semuanya tak banyak berarti, maka keputusan untuk menyerah harus mulai dipertimbangkan.</p>
<p>Menyerah, kemudian, memang menyedihkan. Kata menyerah tersebut seperti memberikan kesadaran mengenai kelemahan kita. Rasanya kita menjadi sangat malu. Itulah kenapa biasanya jarang manusia yang mengaku kalau dirinya sudah menyerah. Mereka malu mengakui kelemahannya. Padahal, dengan mengakui kelemahan kita, justru di situlah letak kekuatan kita yang sebenarnya. Kekuatan dan kemampuan untuk mengetahui kondisi objektif yang sebenarnya, bukan berlindung di balik kepura-puraan. Menyerah bukanlah aib, ketika keputusan uintuk menyerah tersebut sudah kita perhitungkan dengan masak, setelah melalui perjuangan keras namun tetap tak membawa hasil, lalu harus disuruh bagaimana lagi, kecuali menyerah?</p>
<p>Menyerah memang seperti sesuatu yang menghinakan kita. Kita merasa sudah tak pantas berada dalam deretan orang-orang yang berhasil, kuat, dan pantang menyerah. Namun percayalah, masih ada yang melihat bagaimana kita sudah mengusahakan dengan segala daya mampu kita untuk menyelesaikan masalah, mencoba untuk tidak menyerah, sebelumnya. Kita sudah melalui sebuah rangkaian panjang perjuangan, yang cukup berkeringat dan berdarah-darah, sebelum akhirnya sampai pada ujung penyerahan itu sendiri. Mungkin orang hanya menilai bagian akhir dari cerita perjuangan panjang kita, yaitu ketika kita menyerah. Mereka mencemoohkannya. Namun tetaplah jangan risau, bahwa di balik kata menyerah yang baru saja kita lakukan, kita sebenarnya sudah mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, bagaimana kita telah berjuang untuk mencoba untuk tidak menyerah. Pelajaran itu jauh lebih berharga dibanding dengan kerisauan kita menghadapi cibiran mereka-mereka itu.</p>
<p>Apa yang harus aku ubah dalam pola pikiranku, Nonno? Kau bilang sebelumnya kalau menyerah itu tabu, pantang, dan menciderai janji hidupku kepada sang pemberi hidup. Namun akhirnya kau mulai berpikir soal kemungkinan akan lebih baik kalau kita menyerah. Bahkan ada kesan, menyerah adalah hal yang boleh jadi tak terelakkan. Ah&#8230; bingung aku.</p>
<p>Bintang kecilku. Aku cuma mau ingatkan dirimu, bukan kata ‘pantang menyerah’ yang harus kau tonjolkan dalam hidupmu, tetapi ‘jangan mudah menyerah’. Kata ‘pantang menyerah’ hanya boleh kau tanamkan ketika kau mulai mengawali langkahmu, untuk membuatmu bersemangat dan ringan melangkah, seolah-olah kau merasa mampu menyelesaikan semua tugasmu. Dengan semangat ‘pantang menyerah’ berarti kau sudah menyiapkan semua bekal pengetahuan dan kemampuanmu, untuk kau dayagunakan secara optimal guna menyelesaikan masalah yan menjadi tugasmu.</p>
<p>Namun, meski kita sudah menanamkan semangat ‘pantang menyerah’, tak berarti bahwa semuanya akan bisa kita bereskan. Ada banyak hal yang sebelumnya tak terbayangkan akan terjadi, sehingga hanya dengan bekal semangat dan kemampuan yang kita miliki hampir mustahil bisa mengatasi jebakan-jebakan yang muncul di kemudian hari.</p>
<p>Ketika perjalanan sudah semakin berat, dan semakin tidak mudah kita atasi, maka mau-tak-mau, kita harus mengendurkan semangat kita semula yang ‘pantang menyerah’ menjadi ‘tidak mudah menyerah’.. Kita tak ingin hancur, dengan mamaksakan diri, hanya karena kita ‘pantang menyerah’.</p>
<p>Dengan kata ‘tak mudah menyerah’, maka kita sudah memasukkan unsur penyerahan dalam proses perjuangan hidup kita, namun baru akan kita lakukan kemudian, sebagai sesuatu yang terpaksa kita ambil, karena kita sudah memperhitungkan dengan matang bahwa tak ada kemungkinan yang bisa kita lakukan agar berhasil.</p>
<p>Tidak semua pekerjaan harus berhasil dan sukses. Banyak pekerjaan yang meski hanya separuhnya pun tercapai sudah bisa disebut berhasil, terutama jika dikaitkan dengan siapa dan bekal apakah yang mereka miliki untuk memperjuangkan penyelesaian pekerjaan itu. Kegagalan juga bukan hal yang memalukan. Kegagalan adalah manusiawi. Kata ‘menyerah’ menunjukkan kalau kita sebenarnya masih manusia, bukan robot, Bintang kecilku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=55&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/17/menyerah-itu-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penggal-Penggal dalam Karir (Pekerjaan)</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/10/penggal-penggal-dalam-karir-pekerjaan/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/10/penggal-penggal-dalam-karir-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah iklan nampang di koran, mengundang sarjana atau sarjana muda eksakta, untuk mengisi peluang kerja di bidang EDP (bukan Edi Purwono, tapi Electronic Data Proceessing, yang komputer). Iseng-iseng, aku mencoba mengirimkan lamaran, setidaknya, kalau cuma Sarjana Muda Eksakta, aku punyalah. Apa lagi, kala itu, tahun 1974, peluang kerja di bidang komputer, opo ora hebat? Komputer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=51&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebuah iklan nampang di koran, mengundang sarjana atau sarjana muda eksakta, untuk mengisi peluang kerja di bidang EDP (bukan Edi Purwono, tapi Electronic Data Proceessing, yang komputer). Iseng-iseng, aku mencoba mengirimkan lamaran, setidaknya, kalau cuma Sarjana Muda Eksakta, aku punyalah. Apa lagi, kala itu, tahun 1974, peluang kerja di bidang komputer, opo ora hebat? Komputer yang cuma bisa aku lihat di film-film. Alkisah, lamaran pun dikirim. Dan hari test-pun tiba.<span id="more-51"></span></p>
<p>Rupanya, daya tarik bekerja di bidang komputer cukup menggamit banyak sarjana dan sarjana muda eksakta untuk mengadu nasib. Tak kurang dari 400 pelamar telah memasukkan lamarannya. Tak kurang ada yang dokter, insinyur, dan berbagai strata kesarjanaan lain di disiplin keeksataan tumplak bleg! Di Surabaya, rasanya, tahun itu ya yang pertama kalau peluang kerja di bidang komputer. Kalau di Jakarta, sudah banyak.</p>
<p>Psikotest dan aptitude test pun bersama-sama ke-400 pelamar lalui. Test yang diujikan kepada kami tentu saja yang terkait dengan penelusuran bakat dan kapabilitas logika, yang sangat diperlukan sebagai pekerja komputer. Maka test-test yang berlogika-ria lah yang kami temui. Test ini berlangsung setidaknya tiga gelombang, bertingkat, dan makin mengerucut. Dan nama Edi Purwono selalu terlihat dalam tiap gelombang pengumuman kelulusan. Eh &#8230; nyatanya, aku yang cuma sarjana muda pertanian, gak kalah kok dibanding para dokter, dan insinyur-insinyur itu. Alhamdulillah (kamsia&#8230; ya Allah).</p>
<p>Tahap terakhir adalah wawancara. Yang aku tahu, dari sekian ratus pelamar akhirnya tinggal bangsanya 12 ekor saja yang sampai ke tahap wawancara ini. Dan, lagi-lagi, Edi Purwono masih katut dalam daftar.</p>
<p>Dalam tahap wawancara ini kami dihadapkan langsung dengan panel, para direktur, sebanyak 3 orang. Bukan ngadep ke satu-per-satu direktur, tapi langsung dikerubuti tiga orang sekaligus. Persis kayak menghadapi sidang pengadilan, atau sidang skripsi. Kederkah Edi Purwono? Sama sekali &#8216;no way&#8217;!. Edi Purwono adalah orang merdeka! Anak sulung seorang tentara laut Republik Indonesia! Boro-boro takut, wong melamar pekerjaan ya baru pertama kali itu! Jadi? Karena belum pernah melamar pekerjaan, tak pernah punya simpanan kesan kekuatiran dan ketakutan dalam hatiku! Maju aja!</p>
<p>Wawancara seperti biasa, mencoba menggali kapasitas dan integritas pelamar. Bahasa Inggris jelas. Dan satu hal lain, adalah mereka mencoba menggali pemahaman saya mengenai berbagai lingkup pekerjan, meliputi persoalan-persoalan, dan solusi yang harus kami jawab. Karena kebetulan giliranku wawancara berada di urutan rada gede, maka aku merasa, bahwa kok wawancaraku lebih lama dibanding yang lain sebelumnya, ya? Udah, gak usah mikir! Jawab saja yang mereka tanyakan. Beres!</p>
<p>Wawancara selesai, dan kami semua, ke-12 yang masuk tahap wawancara, harus menunggu, untuk dipanggil melalui surat pemberitahuan, keterima atawa tidaknya!</p>
<p>Hari pun tiba, surat pemberitahuan aku terima. Di dalam surat tersebut aku dinyatakan lolos babak seleksi. Jika masih berkeinginan untuk melanjutkan keinginannya bekerja, maka diminta datang, pada tanggal sekian, jam sekian, menemui siapa, di kantor.</p>
<p>Meski sebenarnya aku masih diharapkan untuk melamnjutkan kuliah oleh bapak-ibu, sementara skripsi sebenarnya juga sudah dibuat, keinginanku untuk bekerja jauh melampaui keinginan melanjutkan kuliah. Lebih-lebih ini di bidang komputer, rek&#8230;.!</p>
<p>Dengan bismillah, aku mendatangi kantor perusahaan yang akan memberikan pekerjaan di bidang komputer tersebut. Sedianya akan ada empat orang yang terpanggil saat itu, sebelum memutuskan, apakah akan diterima atau tidak. Sebab ada beberapa kondisi yang harus dilengkapkan lagi.</p>
<p>Sampai tahap ini, manusia yang bertahan hingga terakhir cuma satu! Dia itu bernama Edi Purwono! Yang tiga lagi tewas! Rupanya, tipe pekerjaan di bidang komputer serta prasyarat yang harus dipenuhi oleh pelamar, cukup berat! Kala itu, mana ada sekolah komputer? Belum ada! Wong yang namanya komputer saat itu cuma dimiliki oleh perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Pertamina, PLN, BI! Komputer-komputer kelas mainframe, yang ukurannya selemar-lemari. Lampunya kelap-kelip rame! Pita magnetic berputaran mendengung-dengung. Hard disk, meski cuma kapasitasya 7.2 megabyte, besarnya senampan, diameter 40 cm, setebal 15 cm. Beratnya, rek&#8230;! Harus dibopong membawanya!</p>
<p>Persoalan pun muncul!</p>
<p>Manajemen telah mengirimkan faksimili ke kantor induknya di Jakarta, bahwa segera akan dikirim rombongan peserta pegawai baru untuk kantor Surabaya, guna mengikuti training di Jakarta! Akan berangkat tanggal sekian, dan mohon dijemput!</p>
<p>Masalahnya apa?</p>
<p>Disebut dalam faks adalah &#8216;rombongan&#8217;, tapi kok cuma satu? Edi Purwono, doang? Kan lucu, ada rombongan kok cuma sebatang Edi!</p>
<p>Maka manajemen memutuskan untuk memanggil satu orang lagi, dari daftar yang sebenarnya tidak masuk dalam 4 ekor terakhir! Saya diajak untuk mencari yang bersangkutan.</p>
<p>Kebetulan, alamat di mana ia tinggal sangat sulit mencarinya. cari sana sini, tanya sana sini, tetep gak ketemu. Cukup lama nyarinya. Sampai manajer yang ngajak aku mencari tadi rada putus asa. Pokoknya sekali kagi, kita muter, kalau nggakl ketemu, sudah nasib dia, lah! Eh&#8230; nyatanya, alamat itu ketemu, meski yang bersangkutan sedang tidak ada di rumah! Surat panggilan pun dititipkan ke yang empunya rumah (ibu kos).</p>
<p>Siang-siang, menjelang tutup kantor (saat itu aku  sudah beberapa hari ngantor, nunggu pemberangkatan ke Jakarta), datangkah calon yang pernah dicari-cari itu. Penuh keringat, dan terlihat tergesa-gesa, ngos-ngosan, mana kulitnya rada item pula, karena hari itu batas akhir melapor, mengingat esok sore sudah harus berangkat! Dengan penuh harap dia meminta agar diberangkatkan! Karena kebetulan is sudah menikah, dan istrinya hamil, belum punya pekerjaan tetap!</p>
<p>Akhirnya, &#8216;rombongan&#8217; terdiri dari dua orang &#8216;culun&#8217; berangkat ke Jakarta! Siap mengikuti training di bidang komputer!</p>
<p>Bagaimana kisah selanjutnya? Penasaran? Makin seru, lho!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=51&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/10/penggal-penggal-dalam-karir-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membesarkan Anak-Anakku</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/09/membesarkan-anak-anakku/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/09/membesarkan-anak-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 07:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Tadinya aku mau bilang, &#8216;mendidik anak-anakku&#8217;. Tapi aku pikir, sombong sekali, sih &#8230; Sebab, menurutku, baru disebut &#8216;mendidik&#8217; itu kalau kita sudah memiliki sebuah sistem tertentu yang jelas, baik konsep, implementasi maupun sasarannya. Mendidik lebih dekat ke arah membentuk, sesuai dengan selera si pembentuk tersebut. Apa yang ia mu, itulah yang dijadikan acuan ketika melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=49&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tadinya aku mau bilang, &#8216;mendidik anak-anakku&#8217;. Tapi aku pikir, sombong sekali, sih &#8230; Sebab, menurutku, baru disebut &#8216;mendidik&#8217; itu kalau kita sudah memiliki sebuah sistem tertentu yang jelas, baik konsep, implementasi maupun sasarannya. Mendidik lebih dekat ke arah membentuk, sesuai dengan selera si pembentuk tersebut. Apa yang ia mu, itulah yang dijadikan acuan ketika melakukan proses pembentukan yang disebut mendidik tadi. Lha, saya &#8230; ?<span id="more-49"></span></p>
<p>Aku lebih suka menyebut membesarkan mereka saja. Ini lebih bisa saya pertanggungjawabkan, karena aku memang kemudian bekerja mencari nafkah, untuk menyediakan mereka makan agar tu,nuh besar, dan sehat. Kalau ada sakitnya, lalu cepat-cepat dibawa ke orang pinter yang namanya dokter. Hyga ada sedikit tambahan es krim, agar ada variasinya, jangan cuma nasi dan empal saja, to? Bagian dari proses membesarkan mereka juga mengajaknya jalan-jalan, rekreasi, biar mereka berlarian dan sehat. Atau jangan bosan selalu di rumah, yang mengurangi selera makan mereka, sehingga tak membesar-besar, jadinya. Coba&#8230;. yang aku lakukan jauh lebih ke &#8216;membesarkan&#8217; mereka saja. Mendidik? Aku tak bermaksud mengklaim soal itu (mangkanya, jangan suka komen kalau kebisaan Lala nulis itu karena aku, nanti dia marah sama aku, trus, siapa yang bantu mosting tulisanku?).</p>
<p>Aku percaya, Tuhan tidak ingin main-main dengan mahluk ciptaan Bliouw. Aku yakin, ada misi khusus yang dititipkan kepada setiap mahluk yang Bliouw turunkan ke muka bumi ini. Dan aku yakin pula, semua misi itu positip adanya. Masa Tuhan main-main, ya &#8230;. dibikin ngawur sajalah, sejadi-jadinya, apa kata nanti, deh! Kalau sampai saja Tuhan berbuat seperti itu, maka rasanya aku perlu meninjau kembali ketaqwaanku kepada Bliouw. Wong ngawur kok disembah? Tak u&#8217;u, ya&#8230;..!</p>
<p>Misi yang diembankan Tuhan kepada manusia ciptaan Bliouw memang merupakan sebuah misteri, yang memerlukan kepintaran, kearifan, dan kebijaksanaan dalam vara kita berpikir, serta mempertimbangkan sesuatu. Yang jelas, pasti positip. Ke mananya, ya itulah yang masih terus perlu diungkap, baik oleh orang tua seperti aku kepada anak-anakku, atau kalian sendiri, untuk mampu menggali dan mengembangkan potensi dirimu. Kesempatan pun sudah tersedia, yaitu sepanjang umurmu! Coba, opo ora hebat Bliouw ini?</p>
<p>Berbagai kemungkinan misi yang dititipkan kepada manusia untuk dikembangkan secara positip itu, kalau mau ngomong rada ngilmiah, berbentuk susunan protein yang membentuk mata rantai DNA yang disebut gen. Tiap gen merupakan nagian-bagian dari bakat yang akan menjadi tulang punggung dan penggerak untuk menjalankan misi yang Bliouw titip kepada anak-anak manusia. Masing-masing inti gen juga saling pengaruh-mempengaruhi, yang membuat bahan baku misi tertentu bisa dicapai. Cuma, tetap saja masih banyak pertanyaan nan misterius, lalu misiku sebenarnya apa? Ayo dong, katakan, ya Pangeran &#8230;.! Lha kalau rahasia-rahasiaan seperti ini, nanti aku kesasar, dimarahin?</p>
<p>Sebagai ortu, aku juga tetap tidak akan diberi tuhan wangsit (wangsit mie?) mengenai apoa misi Bliouw kepadaku, atau kepada anak-anakku. Itulah sebabnya, mengapa aku tak berani mengklaim telah &#8216;mendidik&#8217; anak-anakku, seperti aku sudah mengetahui tulisan Bliouw mengenai misi mereka, tetapi aku cuma membesarkan saja. Sembari&#8230;. lha yang ini deh &#8230;. mencoba memberikan mereka wawasan, seperti pupuk, yang akan menumbuhsuburkan potensi-potensi merek yang sudah mereka bawa sejak lahir, dalam bentuk inti protein dalam rantai DNA mereka (yang mungkin sebagian, besar atau kecilnya kemudian baru ketahuan belakangan, apakah itu sumbangan gen dari almarhumah, atau dari aku, seperti Lala yang suka nulis&#8230; he .. he .. he&#8230; jelas dari mana asalnya, kan?).</p>
<p>Kesempatan menumbuhkan potensi-potensi itulah yang aku lakukan, dengan menyediakan tempat pembibitan yang aku jaga, dengan memberi mereka makan cukup, bergizi, dan bergusi (enak terasa di gusi mulutnya). Banyak anak-anak yang punya potensi tertentu, karena dilahirkan dalam suasana gizi buruk, tak mengalami pertumbuhan yang baik, padahal Bliouw pasti tak membeda-bedakan racikan bumbu untuk membentuk potensi itu kepada masing-masing anak manusia yang dititahkanNya turun ke bumi!</p>
<p>Aku pun tak berpretensi faham mengenai potensi terbaik apa yang anak-anakku punya, lalu mengusahakan memompanya, sedemikian rupa sesuai bayangan yang ada di aku. Aku tak ingin menyalahi apa yang digariskan oleh Titah Langit, yaitu misi yang ingin dilakukan oleh Tuhan melalui mereka. Aku tidak &#8216;nggege mangsa&#8217;, sok tau, mentang-mentang sedang berkuasa teerhadap anaknya sendiri. Maka, biarlah potansi-potensi itu berkembang sesuai kodratnya saja. Tak lebih.</p>
<p>Seseorang mungkin tidak berbakat lompat tinggi, tapi kalau disuruh lari, kencengnya bukan main, ya jangan disuruh menekuni olahraga lompat tinggi, dong! Kapasitas otaknya untuk matematika tak terlalu moncer, tapi jangan ditanya kalau soal menyanyi, misalnya, maka ya janganpaksa dia ikut les matematika, biar nanti masuk IPA, bisa jadi dokter. Lha bakat dan potensinya gak di situ, je &#8230;.. Protein dalam struktur DNA-nya sama sekali tak menyuport sama sekali. Apa lagi bapak ibunya ya tergolong bego soal matematik, mana mungkin bisa menurunkan DNA yang moncer soal matematika? Anak-anak lebih suka kepada alam, tertarik kepada fenomena-fenomena isi jagad, lha kok malah dipaksa ikut les piano, wong ngentut aja fals&#8230;..? Mendidikkah itu?</p>
<p>Jelas bukan! Itu lebih pantas disebut melawan takdir! Menantang misi Tuhan! Bahkan memperkosanya, kalau aku bilang, sih! Anak-anak dipaksa dengan sangat kasar (karena mengingkari potensi-potensi yang sudah mereka bawa dalam DNA mereka), menjerumuskannya pada lorong-lorong gelap yang membingungkan dan mengacaukan logika sang anak, hanya karena orang tua tak ingin kalah dengan tetangga sebelah. Mereka les piano, anaknya juga dileskan. Malah ditambah gitar dan okulele plus ketipung. Anak tetangga dipanggilkan guru melukis, anaknya juga disuruh belajar (dan harus lebih pintar pula! Wuih&#8230;!) yang ditambah juga dengan kepandaian mematung serta mengukir. Lha dalah &#8230;. jagad dewa batara&#8230;..! Sebenarnya, yang mau pamer itu anak-anak atau orangtuanya?</p>
<p>Satu hal yang jelas, dalam kesempatanku membesarkan anak-anakku adalah bekal pengalaman dan pemahamanku yang cukup bayak, mengenai kehidupan ini, baik secara filsafati, atau secara praktis dan realiti. Aku diberi kemampuan oleh Gusti Allah untuk menggunakan logika secara baik (dan itulah sebabnya aku menyukai bekerja di IT, karena cuma ada on-off saja, salah-benar saja, gak ada yang grey area!). Kemampuan itulah yang memungkinkanku untuk memandang berbagai persoalan dengan cara yang lebih cermat, tak akan mengambil keputusan sebelum semua informasi lengkap, dan memilih secara positip solusi untuk keluar dari masalah tersebut.</p>
<p>Itulah sebabnya, ketika ada seseorang mengajakku berbicara, maka di otakku seperti tergambar sebuah peta aliran jalan, yang merangkai penggal-demi-penggal dari informasi yang masuk, sambil cairan otakku pun ikut memberi andil mengenai kira-kira gambaran lengkapnya nanti akan seperti apa. Seperti hafalnya aku mengenai jalan-jalan di kota Surabaya, sehingga ketika aku diajak menuju ke suatu tempat tertentu, maka dalam otakkua segera tergelar sebuah peta yang terbaik untuk menuju ke tujuannya nanti. Jika dalam implementasinya nanti salah, dan cukup besar, maka segera otakku memmprotes. Jika salahnya masih bisa ditolerir, maka sebuah gelaran eoad-map baru segera dibentuk. begitu.</p>
<p>Maka seringkali aku ketemu dengan orang-orang, yang katanya ingin mengadukan persoalannya kepadaku, tetapi marah, ketika aku menyela, bahwa yang ia lakukan tersebut salah, atau kurang pas, atau bisa diperbaiki. Biasanya kalau mereka memang ingin minta bantuan solusi, mereka dengan senang hati menerima selaanku tadi. Tapi karena sebenarnya mereka mau pamer, dan ingin dianggap benar, sekedar cari dukunganku, maka mereka suka marah. Dengerin dulu!, hardiknya &#8230;&#8230;</p>
<p>Berbeda dengan masa kecilku dulu, ketika orangtuaku membiarkan aku lepas begitu saja, tanpa memberikan aku wawasan-wawasan yang cukup dalam melihat hidup, maka kini aku mencoba menyampaikan apa yang aku pahami soal hidup, masa depan, karir, bahkan persoalan-persoalan sosial, ekonomi hingga politik, kepada anak-anakku sejak mereka kecil. Aku menganggap mereka seperi teman bicara yang sepantar. Misalnya, bagaimana melihat sepak terjang kroni-kroni politik Orde Baru, apa yang mereka lakukan, dan apa akibat yang ditimbulkan, dan lain sebagainya, sejak mereka SD! Gila, ya&#8230;?</p>
<p>Aku beli semua jenis bacaan, koran, majalah, buku-buku, hampir setiap hari, dan setiap edisi. Ada majalah Bobo, Kawanku, Gadis, Femina, Kartini, Tempo, harian Kompas, Jawa Pos, sejumlah novel, atau ajaran-ajaran filsafat dari Kahlil Gibran, semua komplit. Silakan saja, bacaan mana yang menarik minat mereka.</p>
<p>Tujuanku adalah membiasakan mereka membaca, memperluas wawasannya, dan bisa menimbang-nimbang secara baik dan seksama, mana yang disebut kebaikan, kebenaran, dan nilai-nilai positif itu adanya. Bahkan, dengan membaca banyak tulisan, aku juga berharap mereka berkehendak untuk bisa menulis! Sebab dengan menulis itulah kita bisa mengungkapkan apa yangkita inginkan, pikirkan, dan ingin kita raih. Bisa sebagai sebuah pernyataan sikap dari diri pribadi, agar dikethui oleh orang lain, dalam sebuah nuansa yang penuh harmoni. Dengan kebisaan menulis, maka mereka tak akan takut ditugaskan untuk membuat paper, laporan, skripsi atau berkomunikasi lainnya. Tulisan yang bagus tentu akan jadi nilai plus di mata pembacanya. Kalau pembaca itu atasannya di tempat kerja, maka ia akan jadi syaf andalan, yang mudah untuk tak cocok pada suatu posisi, agar segera dipromosikan lagi. Itu manfaat dari kepandaian menulis, lho, salah satunya!</p>
<p>Memberika mereka wawasan, bahwa jalan menuju ke arah kesuksesan bukan hanya satu jalan saja yang disediakan Tuhan. Aku banyak memberikan gambaran kepada mereka, mengenai apa yang disebut sukses, dan bagaimana terapannya di berbagai sendi kehidupan. Sekedar penjual nasi goreng dengan gerobak dorong berkeliling kampung pun bisa jadi ilustrasi, mengenai jalan memperoleh sukses, setidaknya finansial. Bayangkan, setiap porsi nasi goreng itu kurang dari 100 gram (jatah beras tentara, yang makannya pasti banyak, adalah 100 gram beras sekali makan, sehingga mereka dapat jatah 10 kilo sebulan). Beras sekilo, ditambah air, akan jadi nasi yang beratnya lebih sekilo. Jika sepiring nasi 100 gram, maka sekitar 10-12 piring nasi goreng terjual. Beras sekilo, kalau untuk nasi goreng, malah harus cari yang murah, sebab kalau yang mahal gak enak. Beras murah taruhlah 5-ribu rupiah. Tambah saus bumbu nasi goreng, telur, dan gas untuk masak, maka paling mahal butuh 10-ribu.<br />
Jika seporsi nasi goreng dijual 4-ribu, bayangkan untuk 10 porsi? 12 porsi? Jika semalam ia menghabiskan 5 kilo beras, berapa untungnya? kalau dia jualan mulai pagi, sampai malam, lalu habis 10 kilo? Wuah &#8230;. jangan remehkan penjual nasi goreng yang didorong-dorong itu! (Coba, berapa gaji kalian?).Fs</p>
<p>Atau aku mencoba menganalisa orang jual nasi pecel pincuk, yang kalau dihargai 2500-rips sudah dianggap &#8230; kok murah, ya &#8230;?. Padahal lihatlah pada pincuk peceel yang kalian beli, nasinya cuma sedikit sekali. Kurang dari 50 gram. kalau sekilo beras, jadi 1.5 kilo nasi, dan masing-masing pncuk cuma 50 gram, apa nggak 25-30 pincuk? Kecambah sekilo 2-3-ribu, udah sekresek besar. Padahal untuk pincuk pecelmu cuma sejimpit saja! Pasti kurang dari 50-rupiah untuk harga kecambah. Lalu sayur yang lain juga cuma berjimpit-jimpit saja. Trus bumbunya juga paling 2-3 sendok yang sudah diencerkan pakai air banyak. Paling sepincuk nasi pecel dengan lauk tempe seiris hanya butuh 6-7-ratus rupiah. Kalau dijual 2500, berapa untung mereka? Kalau mereka sehari bisa jual yang menghabiskan 5-kilo beras, bandingkan dengan gaji kalian!</p>
<p>Itulah berbagawi wawasan yang aku sampaikan kepada anak-anakku, dio setiap kesempatan aku bertemu, seperti ketika mengantarkan mereka karena kebetulan berangkat bareng ke sekolah dan aku ke kantor. Sepanjang pertemuan selalu aku tanamkan cerita-cerita itu kepada mereka. Dan tak cuma itu, juga mengenai para atlit, seniman, profesi, apa saja, yang bisa mereka gunakan sebagai referensi mereka ketika kepada mereka dihadapkan pilihan-pilihan tertentu dalam hidup mereka kemudian. Aku ajak mereka untuk selalu berpikir optimis dan positip.</p>
<p>Demikian juga soal pilihan sekolahnya. Yang aku sampaikan cuma kalau sekolah ini, maka akan jadi begini, dan kendala-kendala yang harus diatasi adalah ini-itu, dan masa depannya akan seperti apa, di samping resiko-resiko serta keberhasilan yang akan ditemui kelak akan seperti apa. Jangan asal jadi mahasiswa, mbuh &#8230; mau milih jurusan apa, pokok kuliah! Sebab, dengan menanamkan wawasan-wawasan seperti itu mereka bisa membuat takaran sendiri yang membandingkannya dengan kemampuan apa yang mereka andalkan. Jika mereka ragu, maka kewajibankulah untuk membangkitkan keyakina mereka, bahwa jangan takut kalah! Jika akhirnya harus kalah, maka itu terjadi setelah melalui perjuamgan dan kerja keras, bukan menyerah dan kalah sebelum bertanding! Aku tanamkan fighting spirit yang menggegelegak!</p>
<p>Kini aku merasa sudah membesarkan mereka sekuat yang aku bisa. Mungkin masih sangat jauh dari sempurna, sebab yang tahu adalah para anak-anakku sendiri. Aku hanya menjadi pelayan yang mengantarkan mahluk-mahluk titipan Tuhan melalui aku ini, untuk berada di panggng kehidupan mereka saja. Sebagai pelayan dari anak-anakku, yang menikmati layananku, mereka sendirilah yang akan menilaiku, apakah layanan yang disediakan oleh ayahnya ini mencukupinya, atau kurang.</p>
<p>Oleh karena itu, anak-anakku sekalian, melalui tulisan ini aku minta maaf kepada kalian, karena tidak mendidikmu dan memberikan layanan yang terbaik seperti yang kalian harapkan. Ayahmu cuma bisa menyediakan apa yang ada selama ini, sementara aku tahu, kamu tak punya pilihan lain kecuali hidup bersama ayahmu yang sangat jauh dari kesempurnaan. Bahkan sekedar ayah yang baik saja, aku takut, untuk mengakuinya! Kini jalan hidup sepenuhnya terserah kepada kalian, aku sekedar mengantarkan kalian saja &#8230;&#8230;! Tak lebih &#8230;.!</p>
<p>Salamku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=49&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/09/membesarkan-anak-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Suka Nyanyi</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/08/aku-suka-nyanyi/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/08/aku-suka-nyanyi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 23:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Bakat]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Nyanyi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Aku, Edi Purwono, suka nyanyi. Jangan salah, suka nyanyi, bukan penyanyi. Apa lagi bersuara merdu, mendayu-dayu, dengan vibra, yang menggetarkan dan menarik hati. Wah &#8230; jauuuuuuhhh&#8230;. Gak, lah. Tidak sebaik mbahku kalau nyanyi. Bahkan anak-anakku sering jail, katanya &#8216;Dad &#8230;. pantesnya Dad ini nyanyi di televisi, bukan hanya di kamar mandi&#8217;. Wah &#8230; tersanjungnya aku&#8230;! [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=45&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku, Edi Purwono, suka nyanyi. Jangan salah, suka nyanyi, bukan penyanyi. Apa lagi bersuara merdu, mendayu-dayu, dengan vibra, yang menggetarkan dan menarik hati. Wah &#8230; jauuuuuuhhh&#8230;. Gak, lah. Tidak sebaik mbahku kalau nyanyi. Bahkan anak-anakku sering jail, katanya &#8216;Dad &#8230;. pantesnya Dad ini nyanyi di televisi, bukan hanya di kamar mandi&#8217;. Wah &#8230; tersanjungnya aku&#8230;! Emang kenapa? Dengan enteng anak-anakku mengutarakan alasannya, mengapa menyarankan aku nyanyi di televisi. Katanya, &#8216;Kalau dad nyanyi di tivi, aku kan bisa matikan tuh tivi! Kalau dad nyanyi di kamar mandi, gimana matikannya? Kan nggak ada remotenya? Kan nggak mungkin aku bunuh kamu, daad&#8230;?&#8217;. Yah &#8230;&#8230;!?<span id="more-45"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah terbiasa mendengar dendang-dendang lagu, yang dinyanyikan di lingkungan keluarga kami sejak aku kecil dulu. Kebetulan kakak sepupuku, putra bude yang dititipkan ke keluarga kami, suka nyanyi. Bahkan ia melatih sendiri kemampuannya menyanyi tersebut, dalam rangka keinginannya ikut dalam festival Bintang Radio RRI, sekitar tahun 1960-an, kurang lebih begitu. Cara dia menyanyi, mempengaruhiku untuk juga berusaha menyanyi cara dia.</p>
<p style="text-align:justify;">Edi Purwono kecil, 5 tahun, tinggal dengan kakek-nenek orangtua ayahnya, di sebuah desa kecamatan kecil, bernama Caruban, kabupaten Madiun. Ketika umur 6 tahun, aku masuk SR (Sekolah Rakyat, SD kalau sekarang). Sekolah di desa, yang kelas-kelasnya cuma dibatasi oleh dinding papan, tak sampai atas, hanya asal tidak saling longok antar kelas saja. Di bagian belakang malah ada tembusannya, yang bisa dipakai wira-wiri antar kelas. Kelas selalu dingin, karena ada AC-nya, &#8216;angin cendela&#8217;. Atau angin dari pintu kelas yang tak berdaun pintu.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena pula dinding tak sepenuh tinggi bangunan, disisakan pula di bagian bawah, maka kadang kelasku suka diintip sama kambing. Untung nggak ada ular, ya&#8230;? kan geli?</p>
<p style="text-align:justify;">Teman-temanku ya anak desa semua. Sementara aku? Karena ayahku tinggal di Surabaya, maka aku lebih merasa sebagai &#8216;anak kota&#8217; yang &#8216;kota besar&#8217; pula. Aku sedikit merasa lebih keren dan bergengsi dibanding &#8216;wong ndeso&#8217; semua itu &#8230;.. he.. he.. he..!</p>
<p style="text-align:justify;">Tak usah jaman dulu, sekarang pun stereotype &#8216;wong ndeso&#8217; kan ya masih seperti yang kita lihat sekarang ini. Pergaulan kurang luas (untung sekarang ada televisi!), &#8216;ndesani&#8217;, gak necis, dan sederhana (apa mlarat, ya?).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai &#8216;anak kota besar&#8217;, maka aku mesti mempertahankan reputasiku. Kalau aku berkelahi, maka aku bergaya seorang boxer, persis seperti yang aku lihat ketika di Surabaya, lihat tanding tinju. Aku nggak suka bergaya silat, yang waktu itu aku pikir itu cara berkelahi yang tidak modern. Belakangan saja, akhirnya aku menyukai silat .. he.. he.. he&#8230;!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku juga sok-sokan berbahasa Indonesia daripada bahasa Jawa. Kan aku &#8216;anak kota besar&#8217;? Bahkan ketika belum bersekolah (waktu itu belum umum masuk TK), maka aku bergaya sok kotaan, dengan pura-pura sudah bisa membaca dan menulis. Aku ingat sekali ada silet bermerek &#8216;Tatra&#8217;, waktu itu. Aku mencoba mengingat-ingat tulisannya, lalu sok-sok gaya, &#8216;Aku bisa nulis&#8217;, dan yang aku tulis adalah &#8216;Tatar&#8217;! Begitu itu lho kok ya masih sombong &#8230;..? Tengil, ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Soal nyanyi. Kalau guru kelas 1 menanyakan siapa mau nyanyi, maka aku langsung mengangkat tangan paling pertama. Sementara segenap &#8216;anak ndeso&#8217; lainnya, langsung menyembunyikan wajahnya, takut ditunjuk. Dan kalau pun di antara mereka yang ditunjuk, bisa dipastikan, bahwa mereka akan bernyanyi di balik papan tulis (jaman dulu papan tulis dipasang pakai kaki, bukan tergantung di dinding, habis dindingnya gak kuat!). Nyanyinyapun dengan tempo yang dipercepat, buru-buru ingin selesai, dan dengan lafaz yang tak jelas. Jangan tanya soal nada, pasti sumbang!</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan si Edi tengil? Dengan penuh gaya ia akan maju ke depan kelas, penuh rasa percaya diri, dan melihat ke seluruh mata &#8216;anak-anak ndeso&#8217;, yang membuat mereka tersihir diam. Barulah aku menyanyi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan suara yang diberat-beratkan, rada-rada mbaritoni atau nyoprani, aku mulai menyanyi. Tanganku tak lupa mengetuk-ngetuk paha, agar tidak kehilangan mat, arau hitungan irama lagu. Lagu yang keluar adalah &#8216;Indonesia Pusaka&#8217;, &#8230;.  Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya &#8230;..!</p>
<p style="text-align:justify;">Suaraku sangat kencang, benar-benar tak sungkan atau malu-malu (kan aku &#8216;anak kota besar&#8217;?). Suara nyanyianku yang lantang tentu tak ayal menembus ke kelas-kelas sebelah, yang kelas 5 dan sebelah sananya lagi (tiga berjejer) kelas 6. Di dua kelas yang lain itu ada bulik dan paklikku yang kelas 5 dan 6.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat aku menyanyi, kelas mereka-mereka, 5 dan 6, langsung bubar. Mereka berlarian melalui bagian belakang kelas yang tak berpintu, atau pada naik bangku untuk bisa melihat dari dinding pembatas kelas! Tentu saja, memang bikin kacau suasana. Mereka bertepukan riuh. Ada anak kecil, bergaya sok penyanyi besar, lagunya juga terpilih (pada umumnya &#8216;anak-anak ndeso&#8217; pada nembang Jawa), suaranya keras lagi. Bahkan yang kelas 5 atau 6 yang sudah pada besar pun tak se-pede aku nyanyinya!</p>
<p style="text-align:justify;">Lagu Indonesia Pusaka adalah lagu satu-satunya yang aku pilih untuk selalu aku nyanyikan. Karena selain bagus, juga iramanya kan rada-rada mendayu-dayu. Bandingkan dengan lagu Garuda Pancasila atau Maju Tak Gentar, bukan? Dan Indonesia Pusaka itu pulalah yang selalu aku nyanyikan, di setiap pelajaran menyanyi, hingga SMP. Gak ada yang lain!</p>
<p style="text-align:justify;">Bersama-sama dengan lagu Padamu Negeri, maka lagu Indonesia Pusaka telah menumbuhkan bibit-bibit nasionalisme pada si tengil kecil Edi Purwono sejak dini. Maka ketika Lala ingin membuatkanku blog, dan menanyakan nama, aku bilang saja, Nasionalis Sejati!</p>
<p style="text-align:justify;">Kegemaranku menyanyi merupakan bagian dan nuansa di keluargaku kemudian, aku, almarhumah ibunya anak-anak, dan ketiga anak-anak dibesarkan dalam suasana penuh nyanyian, sehingga boleh dibilang, kalau cuma sekedar nyanyi kelas kampung, ya juara, laah&#8230;.. (kalau Lala kelasnya sudah penyanyi beneran, dia juga performing segala, di kafe-kafe, misalnya, bahkan pernah ikutan audisi idol, cuman nggak katut). Suara dia bagus, dan keluarga kami selalu diundang kalau ada pertemuan-pertemuan komunitas, sambil yang ngundang bilang, jangan lipa mbak Lala diajak, ya pak Edi &#8230;.!. Mirza juga enak, cuma rada pemalu. Nyanyinya di kamar mandi saja. Pipit juga bagus suaranya, cuma tidak segenit Lala. Pipit juga rada pemalu. Bagaimana dengan Edi Purwono, si kakek tua?</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak remaja, sampai tua bangka seperti saat ini, kegatelanku untuk tampil di depan publik untuk nyanyi tak juga surut. Di setiap acara, kalau MC sudah mulai mempersilakan hadirin untuk nyumbang suara, dapat dipastikan, sosok tua Edi Purwono pasti akan tampil. Cuma sekarang lagunya ganti, yaitu lagu yang bikin seluruh hadirin bergoyang dan ber-tor-tor! Karena aku menyanyi Alu siau, lagu Batak, yang aku tak paham apa artinya. Yang penting meriah! Kalau lagu itu keluar, suasana lalu seperti dibangkitkan, aku jamin, pasti MC minta satu lagu lagi aku nyanyikan. Dan satu-satunya lagu yang kuhafal adalah Gubahanku &#8230;. Kutuliskan lagu ini, kupersembahkan padamu, walau pun tiada indah, syair lagu yang kugubah &#8230;..!</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan anak-anakku kalau sudah lihat daddy-nya kegatelan seperti itu. Dulu mereka, waktu kecil, pada sembunyi di bawah meja, di balik taplak. Mungkin mereka malu, liat daddynya yang tak tahu malu! Ya &#8230; kan pembagian kerja, mereka yang malu, dan aku yang tak tahu malu &#8230; ya, kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Juga kalau mau pergi ke acara-acara yang pasti akan ada hiburan band atau organ tunggal, maka salah satu syarat yang diajukan oleh almarhumah dan anak-anak, yaitu &#8230; nanti dad jangan nyanyi, ya &#8230; malu-maluin aja &#8230;. ! Padahal, mana mungkin aku membiarkan kegatelanku untuk tak menyanyi? Pasti aku, meskipun di rumah sudah janji nggak nyanyi, tetep aja aku akan nyanyi, he.. he.. he..!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga kalau pas menghadiri seminar, yang dikala jeda ada permainan organ. Maka kegatelanku untuk nyanyi langsung meruyak, tak bisa ditahan. Cuma aku rada malu kalau menonjolkan diri, ketika pemain organ bertanya, &#8216;siapa yang mau nyumbang lagu?&#8217;. Rasanya kok nggak pantes langsung angkat tangan. Padahal gatel! Apa yang aku lakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka aku dekati salah seorang teman yang juga hadir di acara tersebut. Aku minta dia yang meneriakkan &#8216;itu pak Edi &#8230; pak Edi.. hayo nyanyi pak&#8230;!&#8217;, tapi terlebih dahulu aku bilang sama dia, aku akan duduk menjauh dari dia, lalu dia berdiri dan menunjuk-nunjuk aku. Lalu aku pun pura-pura seperti ditoodong, kok aku&#8230;.? Dan biasanya lalu hadirin lainnya pun ikut teriak-teriak&#8230; hayo pak Edi! Hayo&#8230;.! Seolah-olah rada terpaksa, aku pun berdiri. Nyanyi!</p>
<p style="text-align:justify;">Kegatelan nyanyi itu membuat kami sekeluarga sering rekreasi ke tempat-tempat yang ada karaokenya, entah restoran, atau yang khusus karaoke. Biasanya cari yang restoran, supaya bisa didengar oleh pengunjung lain. Juga mamerin suaranya Lala.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketengilanku kalau di karaoke adalah kalau ada pengunjung yang nyanyi dan suaranya nggak enak, juga iramanya kacau, atau bahkan fals, maka giliran berikutnya aku selalu minta nyanyi, dan memilih lagu yang sama dengan yang baru saja dinyanyikan oleh yang nggak enak tadi! Seolah-olah mau bilang, gini lho nyanyi itu &#8230;.!</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang, meski aku suka nyanyi, tak satupun alat musik yang aku bisa mainkan. Sementara, ketika aku masih &#8216;single status&#8217; ketika bekerja di Soroako (tiga bulan pertama belum boleh ngajak keluarga), maka ada temanku yang jago main gitar, tapi gak bagus nyanyinya. Karena hampir tiap malam kongkow-kongkow, menepis kesepian di kota kecil Soroako (yang dikelilingi hutan), maka dia sering menjemput aku, untuk diajak meramaikan suasana di mana saja. Icebreaker! Dia bilang kalau aku ini kaset, karena hafal banyak lagu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesukaanku bernyanyi juga berdampak pada kemampuanku melafazkan adzan. Sejak kecil, di surau tempat aku belajar mengaji, aku selalu ditunjuk jadi muadzin untuk menggemakan adzan. Mereka bilang caraku beradzan seperti yang ada di radio. Nafas dan suaranya panjang, dan mampu meliak-liukkan bunyi, persis yang ada di radio. Dengan suara yang lantang pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku juga selalu berusaha minta sebagai penyampai adzan pada saat pemakaman orang-orang, terutama keluarga, yang sangat dekat dengan aku. Itu aku lakukan demi untuk sebuah persembahan salam perpisahan dengan jasad beliau yang amat dekat di hatiku, untuk mengantarnya menghadap ke haribaan Illahi dengan penuh keindahan. Akan aku lengkingkan adzanku dengan segenap perasaan dan kekuatan yang aku miliki. Aku lengkingkan dengan suara yang tinggi, keras, seperti aku ingin menembuskan suara itu ke langit. Suara adzan itu tak ubahnya nyanyian megatruh, nyanyian pengantar keberangkatan kekasih-kekasihku yang berpulang, yang sebenarnya adalah sebuah tangisan yang tak tertahankan (saat aku mengetik dan tiba pada kalimat ini, air mataku deras mengalir, tak tertahankan &#8230;..!).</p>
<p style="text-align:justify;">Ya &#8230; kekasihku, cuma inilah yang bisa aku sertakan mengantarkan kepergianmu, untuk lebih dahulu menghadap Tuhanmu. Kupersembahkan &#8216;nyanyian&#8217; terindah yang dapat aku perdengarkan, pada akhir perjumpaan kita kali ini. Ya &#8230;. kekasih&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Salamku</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=45&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/08/aku-suka-nyanyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemarin Itu adalah Masa Lalu</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/07/kemarin-itu-adalah-masa-lalu/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/07/kemarin-itu-adalah-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 05:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin memang sudah lewat, Nonno, seperti kau bilang, sudah jadi masa lalu. Lalu apa pentingnya pula kau katakan itu padaku?Adakah sesuatu yang istimewa dari pernyataanmu itu, sehingga aku mesti dengarkan lagi? Aku pikir semuanya sudah sangat jelasnya, kemarin sudah lewat, dan jadi bagian masa lalu. Apa istimewanya? Permata. Jika kemarin itu memang sudah lewat, sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=42&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kemarin memang sudah lewat, Nonno, seperti kau bilang, sudah jadi masa lalu. Lalu apa pentingnya pula kau katakan itu padaku?Adakah sesuatu yang istimewa dari pernyataanmu itu, sehingga aku mesti dengarkan lagi? Aku pikir semuanya sudah sangat jelasnya, kemarin sudah lewat, dan jadi bagian masa lalu. Apa istimewanya?<span id="more-42"></span></p>
<p>Permata. Jika kemarin itu memang sudah lewat, sudah pastilah itu. Jika kemarin itu sudah jadi bagian dari masa lalu kita, tak perlu banyak debat mengenai hal itu. Tetapi tentang bagaimana kita mengingat-ingat masa lalu itu, lalu apa nian yang akan membuat pengaruh pada hari ini dan esok hari, di situlah soalnya.</p>
<p>Keberhasilan dan kegagalan adalah cerita-cerita biasa yang terjadi dalam kehidupan. Keberhasilan bukan sebuah jatah dan hak, tetapi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Kegagalan juga bukan hukuman, atau kutukan, yang seolah-olah kita pahami sebagai takdir. Tidak, kegagalan adalah sebuah resiko biasa, karena kita telah melakukan sesuatu dan belum tercapai. Jika kau tak hendak gagal, maka lakukan seperti orang lain, yang tak pernah berbuat apa-apa dalam hidupnya. Kegagalan itu justru ada, dan terjadi, karena kita sudah melakukan sesuatu. Dan dengan telah melakukan sesuatu itu pula, maka harapan untuk berhasil sangat terbuka, dibanding kau tidak melakukan sesuatu.</p>
<p>Keberhasilan dan kegagalan adalah sesuatu yang sudah terjadi. Kita bisa mengatakan apakah usaha kita menemui kegagalan, atau dibilang berhasil, karena sesutau itu sudah terjadi. Sebuah proses yang usai. Sebelumnya, mana kita tahu? Tak ada yang bisa mengatakan, oh.. kau gagal, Permata kecil. Atau, hebat.. kau berhasil,nak.</p>
<p>Karenanyalah, segala sesuatu yang sudah bisa diberi predikat, apakah itu kegagalan, atau keberhasilan, adalah sebuah proses yang pernah kau lakukan, yang kini sudah usai. Ia telah menghiasi bagian dari masa lalu kita. Kemarin, atau bahkan baru saja, beberapa saat lalu.  Keberhasilan dan kegagalan itu adalah sesuatu yang sudah lewat, kemarin, bisa kau anggap demikian.</p>
<p>Keberhasila dan kegagalan cuma tinggal dalam catatan, ketika kita mulai menapaki hari baru. Catatan itu permanen, tak akan berubah. Berhasil ya berhasil, gagal ya gagal. Sebab waktu memang tak bisa diputar balik, cuma karena kita ingin merubah catatan itu. Sudah terjadi, dan kemarin pun ceritanya sudah lewat, selesai. Kemarin adalah seperti sebuah cermin, yang bisa kita pandang, namun tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan.</p>
<p>Keberhasilan memang membahagiakan. Sebab itulah hasil dari jerih payah kita, yang sudah kita perjuangkan dan kita kerjakan dengan baik selama ini. Tetapi keberhasilan cuma sebuah catatan belaka, bagi sebuah episod kehidupan kita. Keberhasilan bukan menjanjikan keberhasilan lain berikutnya, meski bukan berarti bahwa keberhasilanmu itu adalah sesuatu yang untung-untungan belaka. Keberhasilan itu tetap sebuah prestasi yang pernah kau buat, namun jangan pernah bermimpi dengan mudah kau mengulanginya lagi. Bahkan dengan cara yang sama, jaminan itu tak pernah ada. Kemungkinan? Bisa saja. Namun namanua saja kemungkinan, maka masih tersedia ruang untuk terjadi hal yang sebaliknya. Siapa sangka, justru yang lain itulah yang dapat giliran muncul?</p>
<p>Kegagalan pun demikian halnya. Lagi-lagi itu cuma sebuah catatan belaka, yang mencoba memberitahumu kalau kau kali ini tak berhasil memenuhi kualifikasi guna memenangkan pertandingan yang sedang kau hadapi, sekiat tenaga pun kau sudah berusaha mengatasinya, sebenarnya.</p>
<p>Cuma agak sedikit berbeda halnya, bahwa jika keberhasilan belum memberimu jaminan bisa kau ulang lagi dengan gampang, maka kegagalan justru sebaliknya. Jika kau masih mengulang cara yang sama, maka ada kemungkinan kau masih mengalam keberhasilan, tetapi untuk kegagalan sudah dapat dipastikan akan terjadi sebuah kegagalan lagi. Peluang terjadinya sangat besar. Jika keberhasilan merupakan catatan yang harus dicoba sekali lagi, maka jangan lakukan untuk catatan mengenai kegagalan. Namun satu hal yang sama dari keduanya, dua-duanya adalah sebuah catatan, sebuah masa lalu, yang sudah lewat.</p>
<p>Keberhasilan memang membahagiakan, dan untuk sebagian orang memang patut dirayakan. Pesta-pesta pun bisa diadakan. Tetapi terlarut dalam suasana bius kebahagiaan dan kesenangan, karena keberhasilan, harus cepat-cepat diakhiri. Sebab, keberhasilan bukan tujuan dan hasil akhir dari sebuah perjalanan hidup panjang yang masih terbentang di depan. Bahkan boleh dibilang, keberhasilan adalah baru satu anak tangga naik yang berhasil kita atasi, sementara masih banyak anak tangga berikut yang harus kita naiki.</p>
<p>Anak tangga itu tak cuma jumlah anak tangganya yang tidak kita pernah tahu berapa banyaknya, namun juga bagaimana alam mengatur tinggi rendahnya. Tangga itu pun bukan jalan khusus untuk kita saja, namun milyaran orang lain sedang berada dalam jalur naik di anak-anak tangganya. Semua berusaha untuk semakin naik, dan juga bila terpaksa menahan orang lain agar tak segera bahkan gagal menapak naik.</p>
<p>Terbius oleh sebuah keberhasilan sama halnya dengan memberikan jalan lempang bagi pesaing-pesaing kita untuk lebih mudah dan segera naik, meninggalkan kita. Terlena oleh sebuah pesta keberhasilan seperti menempatkan kita dalam buaian nyenyak masa lalu. Jika tak awas, maka kegagalan nan bertubi-tubi pasti akan terjadi.</p>
<p>Demikian halnya dengan kegagalan, yang sebenarnya tak lebih dari sebuah catatan di masa lalu. Sudah terjadi. Dan itu memang menyedihkan. Bukan hal yang aneh ketika kesedihan mendera seseorang, ketika ia mengalami kegagalan. Bukan seuatu yang tabu, dan juga bukan hal yang memalukan. Namun, jangankan mengalami kegagalan, bahkan keberhasilan pun tak boleh berlama-lama terlarut, konon pula jika mengalami kegagalan. Bersedih boleh. Menyesal tak dilarang. Namun berkepanjangan dalam penyesalan adalah sesuatu yang patut dihindari secepatnya.</p>
<p>Tak perlu kita berlarut-larut menyesali kegagalan, sebab kegagalan itu toh bukan tujuan kita dalam menjalankan tugas kita. Tak ada terbetik sedikitpun niat kita untuk gagal. Maka kegagalan sepantasnya segera dievaluasi guna mengetahui kenapa seperti itu terjadinya. Penyesalan saja tak akan pernah berhasil menemukan penyebab kegagalan tersebut. Penyesalan yang panjang tak juga mampu menukarnya menjadi sebuah kebahagiaan. Karena gagal adalah gagal.</p>
<p>Terlalu memmikirkan masa lalu seperti memenjarakan diri kita, memasung langkah kita, apa pun yang terjadi dengan masa lalu itu, keberhasilan atau kegagalan. Hidup terus berjalan, dan sudah pasti meninggalkan masa lalu semakin jauh. Masa lalu harus sekedar jadi bahan renungan, menarik pelajaran yang berarti, untuk kita pakai sebagai referensi ketika menapak menuju masa depan. Membanggakan sebuah keberhailan cuma dilakukan oleh orang yang bodoh, yang tak siap menghadapi masa depan. Mempertahankan kesedihan karena kegagalan juga hanya dilakukan oleh orang yang bodoh, yang menganggap semua sudah berakhir dan jadi kiamat. Ia telah menyepelekan Tuhan, yang masih bersedia menawarkan kemungkinan untuk berhasil di hari-hari berikutnya. Jika Tuhan pun sudah ia sepelekan, lalu apa yang bisa kita anjurkan kepadanya?</p>
<p>Masa lalu adalah sebuah cermin, ketika kita ingin menatap apa yang sudah terjadi kemarin. Menggunakan masa lalu sebagai cermin, untuk mengawal kita menapak di masa depan, adalah sebuah keharusan. Masa lalu memberikan kita banyak pelajaran berharga, yang dapat kita gunakan sebagai penopang perjalanan hidup mendatang. Namun sebagai sebuah cermin, itu tak lebih dari bayangan. Mengikatkan kita pada bayangan masa lalu bisa membuat kita sama sekali sulit dan enggan berberak maju. Terlalu berlama-lama di depan cermin tetap tak memberikan arti apa pun untuk perjalanan hidup kita di depan. Masa lalu adalah sebuah cerita belaka.</p>
<p>Sama sekali menafikan masa lalu pun juga tak boleh terjadi. Masa lalu adalah sebuah rangkaian cerita panjang, penuh dengan catatan keberhasilan dan keagalan, jatuh bangun, yang bukan tidak mungkin akan memberikan warna tertentu terhadap perjalanan hidup kita di masa yang akan datang. Masa lalu adalah sesuatu yang sudah pernah terjadi dalam hidup kita, yang kita bisa mempercayainya. Sementara masa depan masih belum lagi datang, bekum ada cerita-ceritanya, dan entah apa pula yang akan terjadi kemudian. Masih akan kita rencanakan.</p>
<p>Masa lalu memang tak boleh dilupakan begitu saja, tetapi jangan membuatnya menjadi penyebab terkendalanya langkah-langkah masa depan kita. Masa lalu hanya kita perlukan agar kita lebih hati-hati dalam mengayun langkah, bukan sesuatu yang harus kita bawa-bawa sehingga membuat beban kita menjadi lebih berat ketika hendak melanjutkan langkah. Merindukan masa lalu juga tak pernah ada gunanya, sebab semuanya sudah berubah. Jika pun bukan diri kita yang berubah, kondisi sekitar pun juga sudah banyak berbeda. Padahal, kejadian masa lalu yang kita rindukan itu terbangun bukan karena peristiwa itu sendiri, namun juga karena ada banyak pengaruh lain yang menyertainya. Kerinduan mendatangkan masa lalu terlalu berat untuk bisa dilakukan, sebab kita harus mengembalikan semua keadaan sama seperti ketika kejadian masa lalu itu terjadi. Sementara banyak hal berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya.</p>
<p>Terpana dan terikat pada masa lalu tak ubahnya kita menggadaikan sisa kehidupan kita pada sebuah kemustahilan, sehingga akan terbuang sayang semua milik kita yang berharga saat ini. Keberhasilan dan kegagalan tak lebih dari sebuah catatan, yang hanya berarti sebagai sebuah referensi, namun tak bisa berubah menjadi kenyataan.</p>
<p>Jika kemarin adalah masa lalu, perubahan cara pandang seperti apakah yang harus aku lakukan, Nonno? Bukankah masa lalu tak bisa kita abaikan begitu saja? Bukankah masa lalu adalah juga bagian dari sejarah kita sendiri? Jika kita tak boleh menengoki sejarah kita sendiri, jangan-jangan kita malah tersesat dibuatnya?</p>
<p>Permata kecilku. Tak ada larangan untuk menatap masa lalu. Bagaimana pun masa lalu merupakan penggalan dari kehidupan yang sedang kita jalani. Bahkan masa lalu itu pula yang sudah berhasil menempatkan kita pada sebuah posisi yang kita diami saat ini. Apakah keu berada dan disebut pemenang, atau pecundang. Semua predikat yang kau miliki, bagaimana pun, adalah berdasarkan peran yang kita kerjakan di masa lalu. Namun terikat dengan masa lalu, lalu hanya terpaku kagum atau mengeluhkan masa lalu, bukan hal yang patut kita panjang-panjangkan, demi untuk sebuah predikat baru bagi semua hal yang kita lakukan hari ini, dan hari-hari berikutnya. Predikat itu tak bisa kita minta dari sebuah masa lalu, tetapi lebih tergantung kepada apa yang akan kau lakukan pada langkahmu berikutnya, ketika masa lalu lewat.</p>
<p>Menafikan masa lalu juga bukan hal yang bijak. Masa lalu tak ubahnya sebagai sebuah buku pelajaran, yang terbuka setiap saat untuk kita pelajaari ketika kita butuhkan. Buku pelajaran itu merupakan kumpulan peristiwa yang pernah terjadi. Di situ kita bisa melihat catatan-catatan pengalaman yang pernah terjadi dan berlangsung secara nyata. Kita perlu mempercayainya. Jika begini, maka akan begitu. Tetapi kalau dibegitukan, terbukti begini. Secara relatif kita bisa menggunakan sebagai pedoman. Agar tak salah arah, dan tersesat. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, lebih-lebih esok, yang terbentang panjang di depan. Namun catatan masa lalu yang kita miliki telah melatih kita agar tampil dalam kewaspadaan, kesiapan untuk menghadapi berbagai hal, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.</p>
<p>Permata kecilku. Malam sudah larut. Tidurlah. Semoga esok jauh lebih baik dan mudah kau lewati, karena kau telah menjalani harimu kali ini sampai selesai. Apa yang terjadi siang tadi tak harus membuatmu berhenti melangkah meneruskan perjalanan. Pesta, bagaimana pun sudah usai. Rintihan kedukaan pun, tak akan mengembalikan semua apa yang hilang. Esok kita berusaha lagi, dengan penuh semangat, dan &#8230; semoga berhasil.</p>
<p>(Permata kecil itu bangun, memeluk Nonnno-nya, dan menciuminya dengan deras. Di telinga Nonno-nya ia berbisik perlahan, &#8216;Nonno, semoga esok masih akan datang menyambangi kita berdua. Ya .. berdua, Nonno, dan aku&#8217;. Lalu ia rebahkan diri, tersenyum, membiarkan Nonno0nya menutup pintu, setelah sebuah selimut ditutupkan oleh Nonno di tubuhnya. &#8216;Selamat malam, Nonno. Pagi esok aku harus masih ketemu Nonno. Ijinkan permintaan sederhana ini, Tuhan&#8217;, bisiknya.</p>
<p>Selamat malam, Permata &#8230;&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=42&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/07/kemarin-itu-adalah-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tukang Masak!</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/02/tukang-masak/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/02/tukang-masak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 02:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Purwono]]></category>
		<category><![CDATA[Hobi]]></category>
		<category><![CDATA[Masak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Edi Purwono adalah sulung dari sepuluh bersaudara, dengan jarak usia antara 2-3 tahun. Maka antara Edi Purwono si sulung dengan Endang Hari Luhkitasari, si bungsu, mencapai selisih 25 tahun. Si bungsu itu seumur dengan sulung dari Edi Purwono, Asti Fitria Damayanti (Pipit). Wajar, dalam kehidupannya semasa kecil dan remaja, maka Edi Purwono, harus lebih banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=38&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Edi Purwono adalah sulung dari sepuluh bersaudara, dengan jarak usia antara 2-3 tahun. Maka antara Edi Purwono si sulung dengan Endang Hari Luhkitasari, si bungsu, mencapai selisih 25 tahun. Si bungsu itu seumur dengan sulung dari Edi Purwono, Asti Fitria Damayanti (Pipit). Wajar, dalam kehidupannya semasa kecil dan remaja, maka Edi Purwono, harus lebih banyak berusaha agar mampu mengurus dirinya sendiri, dan membantu kedua orangtuanya, almarhum Soejono dan almarhumah Soeharijatoen, untuk ikut menjaga adik-adiknya yang banyak. Edi Purwono jelas nggak ingin lebih memberati kedua orangtuanya yang sudah repot dengan adik-adik yang jumlahnya banyak dan masih membutuhkan bantuan dibanding menolong dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti Edi Purwono cerita sebelumnya, yang mirip anak ayam yang besar di luar sarang sejak ditetaskan, maka sejak dini ia sudah sangat terbiasa mengurus keperluannya sendiri. Sejak kelas 4 SR (Sekolah Rakyat, sekarang SD, Sekolah Dasar) dia sudah tak perlu bantuan orangtuanya, seperti untuk belajar, cari sekolah, mengurus surat-surat yang diperlukan, mencuci dan menyetrika baju, bahkan tak cuma keperluannya sendiri, tetapi juga keluarga. Bahkan sampai mereparasi sepeda, nambal ban, dan mengecatnya, supaya kelihatan baru. Dan sesuai topik, tukang <span style="background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:#c4f1f4;background-position:initial initial;">masak</span>, juga mempersiapkan makanan. Salah satu &#8216;kegenitan&#8217; yang dimiliki oleh Edi Purwono kecil, sampai remaja, dan mungkin sampai jadi embah, eyang, adalah berusaha mengambil alih semua yang mungkin untuk ditangani. Yang lain silahkan menikmati saja. Kalau bisa &#8230;&#8230;..<span id="more-38"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Karena berkeinginan kuat untuk melayani keluarga, adik-adik dan orangtua serta seisi rumah lainnya (sekitar 6 orang lagi adik dan keponakan bapak dan ibu yang dititipkan untuk dibesarkan di rumah kami), maka kalau sekedar menanak nasi, membuat nasi goreng, atau masakan gampang lainnya, selalu Edi Purwono berusaha mengambil alih perannya. Dengan penuh kebanggaan ia melihat para penikmat layanannya yang merasa pas dan berselera. Kebanggaan untuk melayani dengan baik itulah kredo pribadi yang tertanam sejak kecil, remaja, dan berbuah lebat ketika dewasa dan embah-embah. Semangat melayani dan membaikkan orang yang dilayani itulah yang membuat Edi Purwono bersemangat untuk menyongsong hidup, seberat apa pun yang akan terjadi dan ia hadapi. Pelatihan dan semangat ingin melayani itulah yang melatih otak kanan Edi Purwono, untuk berusaha agar mampu melepaskan diri dari semua sergapan jebakan yang menghalangi hidupnya. Sebagai tambahan, shio Macan dan zodiak<br />
Taurus yang melekat di tubuhnya, kalau membaca ramalan horoskop, bernafaspun akan ia nomor duakan, jika ia harus mendahulkan orang lain yang membutuhkan dirinya. Waduh &#8230;.. bernafas kok nomor dua, sih &#8230; ?</p>
<p style="text-align:justify;">Rasa keinginan tahunya yang terlalu besar, mengenai berbagai hal, agar lebih bisa mempersiapkan sebuah medan dan kualitas pelayanannya kepada yang memerlukan, dan ingin memperbaiki keenakan pihak-pihak yang ingin dan bisa ia layani, maka hampir tak ada hal-hal yang terus digalinya, sepanjang bahwa itu adalah &#8216;ilmu katon&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai jenis kebisaan pun ia kuasai, meski dalam taraf dasar, tak ahli-ahli benar, namun setidaknya untuk sekedar bertahan diri, survival, bisa ia kuasai. Bahkan muncul pula kreasi-kreasi baru, yang tujuannya adalah tetap mampu memberikan pelayanan yang lumayan baik, dengan effort serta biaya murah. Maklum, dengan orang tua yang cuma tentara, mulai dari pangkat rendah, maka kehidupan serba terbatas adalah sudah menjadi kebiasaannya sepanjang hidup. Setiap ada persoalan yang dihadapkan kepadanya, maka otak kanannya segera mencari solusi, bagaimana agar hemat. Sebab hanya dengan hemat itulah ia bisa merealisasikan kebutuhan itu. Kalau harus mahal, nyerahlah dia. Itu kelemahannya, yaitu kalau sudah harus mengeluarkan biaya besar!</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali ia datang makan ke tempat-tempat makan, yang populer dan banyak pengunjungnya, maka yang segera berputar di otak Edi Purwono adalah selalu ingin meng-ATM-kannya. ATM? Ya, Amati, Tiru dan Modifikasi! Jika mereka bisa, kenapa aku &#8216;why not&#8217;?</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satunya adalah ketika ia makan pangsit mie di sebuah depot, bernama Palapa, yang saat itu seperti wabah yang mampu membuka cabang di berbagai sudut kota di Surabaya. Dengan gayanya, Edi Purwono pun sok-kenal-sok-dekatt, dengan boss depot, yang sedang mempersaipan diri meramu bahan-bahan untuk disajikan sebagai pangsit mie. Gaya yang biasa ia lakukan ialah menunjukkan wajah kekaguman! Dengan modal wajah kagum tersebut, maka lawan bicaranya sdah akan tersanjung. Lagak itu telah mampu menghipnotis lawan bicara, untuk kemudian mengeluarkan semua rahasia yang coba dikorek oleh Edi Purwono! Kena dia!</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah semua info mengenai pangsit mie diterima, maka sebelum pulang Edi Purwono menyempatkan diri mampir ke supermarket yang sedang menjelang tutup, berbelanja semua kebutuhan bikin pangsit mie. Dan sampai di rumah, seisi rumah sudah pada masuk ke kamar tidur, maka Edi Purwono sibuk di dapur! Dan setelah pangsit mie siap disantap, sudah disajikan rapi di meja makan, dibangunkanlah anak-anaknya, untuk dipaksa mencicipi masakan ayahnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Anak-anak Edi Purwono adalah komentator kuliner yang sangat baik. Edi Purwono membiasakan untuk banyak makan di tempat-tempat yang khas, yang artinya enak dan&#8230; murah! Kemampuan keuangannya yang terbatas tak pernah bisa mengajak ke tempat makan yang mahal (belakangan, setelah mereka berpenghasilan sendiri, justru mereka sendiri yang pergi ke tempat-tempat makan yang mahal, dan ayahnya, cuma kebagian diceritain saja &#8230;..).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai komentator kuliner, maka yang Edi Purwono tunggu, adalah komentar mereka. Dengan berharap-harap cemas Edi Purwono menunggu apa komentar mereka setelah dipaksa menikmati masakan ayahnya. Sebuah kebahagiaan besar, dan menambah kepercayaan diri, adalah ketika mereka merasa enak. Enak, dad&#8230;.!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi sekedar bisa, dan mampu menyajikan secara enak, bukan tujuan utama dari Edi Purwono yang selalu ketakutan melarat, dan ingin mencari uang demi mendukung keluarga, adalah bahwa semua kebisaan itu harus dapat menghasilkan uang. Jangan heran, dalam 2-3 hari kemudian Edi Purwono pun memproklamirkan diri sebagai penjual pangsit mie. Ada yang dibawa ke kantor untuk dijajakan di kantin kantor, atau disetorkan ke supermarket! Selain juga menerima pesanan melalui telepon dari para tetangga, menyediakan untuk keperluan arisan ibu-ibu, dan lain sebagainya. Sering pula terjadi, ketika ia sedang ada di kantor, menerima telepon dari rumah, karena ada pesanan untuk arisan, di mana para ibu-ibu peserta arisan menambahkan pesan ketika memesan makanan, &#8216;yang <span style="background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:#c4f1f4;background-position:initial initial;">masak</span> harus pak Edi lho!. Terpaksalah pulang sebentar, <span style="background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:#c4f1f4;background-position:initial initial;">masak</span>, lalu balik ke kantor lagi!</p>
<p style="text-align:justify;">Yang lain adalah ayam goreng. Di kota Pandaan, sekitar 40 kilometer selatan Surabaya, menuju ke kota Malang, ada tempat makan ayam goreng Pak Soleh. Lokasinya masih harus menyusuri jalan desa ke arah Timur Pandaan, lalu masuk kejalan desa berkilo-kilometer lagi ke dalam. Pokoknya tempat itu sangat remote (jangan pergi sendiri, kalau gak ingin kesasar, mending ajak aku &#8230; he.. he.. he..).</p>
<p style="text-align:justify;">Di tempat makan pak Soleh itu yang makan bukan main banyak. Banyak rombongan menggunakan bis pariwisata yang panjang berdatangan. Kalau sudah begitu, meja-meja makan yang berbentuk gubuk dan lesehan akan seperti pasar yang hiruk pikuk. Makan jadi kikuk, karena ketika kita makan, di sekitar tempat kita makan sudah dirubung banyak orang, yang antri untuk menggantikan tempat yang sedang kita gunakan makan. Mereka seperti menonton kami yang sedang makan! Coba, risih, nggak? Padahal risih, kan? Toh begitu hal yang sama juga akan kami lakukan ketika terlambat datang dan tak menemukan pondok (gubuk) kosong! (sekarang warung itu makin luas, dengan menempati lapangan desa beberap puluh meter dari lokasinya semula yang pekarangan rumah pak Soleh, toh masih ramai sekali, dengan ritual yang juga sama &#8216;nonton orang makan&#8217;!).<br />
Siapa tak tertarik? Bisa di-ATM, kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, lidah Edi Purwono punya kelebihan untuk mampu memperkirakan, kira-kira bumbu-bumbu apa saja yang ia rasakan ketika mencicipi makanan. Dengan ketakjuban melihat kelarisan dan enaknya makan ayam goreng pak Soleh, maka ia pun sudah segera tahu, bagaimana menghasilkan masakan seperti itu. Bahkan, unsur &#8216;M&#8217;-nya pun ia kembangkan melalui otak kanannya, agar lebih enak, dan &#8230; seperti biasa .. lebih murah!</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, segeralah Edi Purwono meracik ramuan bumbu yang diperlukan untuk mencoba meng-T-kan ayam goreng pak Soleh. Dan nyatanya&#8230;. berhasil! Salah satu pujian yang membuatnya makin &#8216;pede&#8217; adalah pujian yang datang dari buliknya, yang bilang, &#8216;yo.. masih enak ayam buatanmu, le&#8230;.! Padahal ia juga salah satu penikmat ayam goreng pak Soleh tadinya!<br />
Wuah&#8230; rasanya ya seperti ketika Edi Purwono dikereni, digodblessi, dan diinspiringi ketika tampil di blog! Bahagia sekali, sebab ia mampu menghadirkan, sekali lagi, bentuk layanan publik yang tak mengecewakan!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan seperti cerita pangsit mie, yang akhirnya mengantarkannya menjadi penjual pangsit mie, maka ayam goreng yang berhasil ia ATM-kan itu juga mendorong ia menjadi penjual ayam goreng. Sayang, semuanya masih belum berbentuk depot atau warung, cuma delivery order saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, kemampuan <span style="background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:#c4f1f4;background-position:initial initial;">masak</span> Edi Purwono bukan cuma dua macam itu tadi, tetapi sudah banyak. Mau kepiting asem manis, atau udang, yang bahkan kuahnya yang asem manis itu masih jadi rebutan anak-anak dan menantunya, sampai dibawa ke kantor, meski sudah nggak ada lagi kepiting atau udangnya? Bakso? Goreng-gorengannya? Siomay dan batagor? Bahkan yang inipun Edi Purwono sempat menggunakan Kijangnya untuk menjajakan jualan siomay dan batagornya di pinggir jalan, tiap Sabtu dan Minggu pagi! Jangan tanya kalau cuma sekedar chinese food, sea food, steak, bahkan hingga kue-kue seperti onde-onde, ote-ote porong, minuman sari dele, semua telah dicoba buat! Atau nasi tim ayam jamur?</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu original recipe dari Edi Purwono adalah martabak mie. Kenapa mie? Ya, kalau pakai daging, pertama mahal, kedua dia kan nggak bisa jalan sendiri ke supermarket beli daging cincang? Mau coba bikin martabak mie? Begini:</p>
<p style="text-align:justify;">Kalian mesti sedia wajan teflon, diameter 25-30 centimeter. Untuk bikin kulit martabak, biar gak gampang lengket. Bikinlah adonan untuk kulit, coba saja sekitar 150-200 gram teping beras dan jumlah yang sama tepung terigu. Beri garam sedikit, lalu beri air agar encer, yang kalau dituang di wajan bisa langsung melebar dan tipis. Sekali lagi, jangan terlalu asin.</p>
<p style="text-align:justify;">Isinya, gunakan mie instan. Ambil saja mie-nya, lalu lemaskan seperti kalau <span style="background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:#c4f1f4;background-position:initial initial;">masak</span> mie instan. Rajang bawang bombay dan bawang pre (bawang daun) tipis-tipis. Campur dengan mie yang sudah lemes, kocok telur tiga butir, dan beri bumbu gulai yang beli jadi saja. Aduk sampai rata.</p>
<p style="text-align:justify;">Siap-siap bikin kulit. Panaskan wajan, jangan terlalu panas, olesi dengan minyak tipis-tipis saja. Lalu tuangkan adonan kulit, puter-puter wajan sampai rata. Setelah itu ambil sesendok isi, yang mie dan telur tadi. Ratakan seluas 10 centimeter persegi. Lalu lipat kulit membentuk segi empat. Balik-balik, biar rada kering. Angkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulangi lagi membuat kulit martabak, beri isi lagi, tapi jangan dilipat dulu. Tetapi ambil martabak yang sebelumnya, letakkan di atas sebaran mie yang terbentang, lalu di atasnya lagi tebari dengan adonan mie lagi, baru dilipat, Bolak-balik, agar sedikit matang.</p>
<p style="text-align:justify;">Terakhir, tuangi wajan (kalau bisa yang lain) dengan minyak cukup banyak, lalu gorenglah martabak yang sudah jadi sampai kulitnya kering. Sudah. Silahkan makan!</p>
<p style="text-align:justify;">Kebisaan <span style="background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:#c4f1f4;background-position:initial initial;">masak</span> itulah yang kini akan aku coba manfaatkan untuk mulai buka warung pangsit setelah lebaran ini. Tempat sudah disewa, tinggal cari pembantu yang akan banyak datang setelah lebaran usai. Saran serupa juga dilakukan kepada Pipiet, karena rupanya ia juga sering meniru serba apa yang bisa dimasak oleh ayahnya selama ini. Tiap pagi ia sudah bawa makanan yang dijual di kantin kantornya, dan usai lebaran ini pula ia juga akan membuka warung di garasi rumahnya. Ia akan juduli warungnya dengan nama Kike&#8217;s Rumah Mie, Ki adalah Kiki dan Ke adalah Keke, dua bidadari kecil kekasih Nonno. Agar rencananya tak melempem, maka Edi Purwono sudah mendesain banner dan kartu-nama untuk promoso, tinggal dicetak. Tiap hari ditanya, &#8216;sudah dicetak?&#8217;. Dari ayahnya ia telah terprovokasi untuk segera pensiun dini, dan membuka usaha sendiri (berdasarkan pengalaman ayahnya yang terlalu loyal, dan akhirnya berhenti bekerja, dipensiun dengan amat terpaksa, tanpa memiliki<br />
apa-apa sebagai hasil kerjanya berpuluh-puluh tahun lamanya).</p>
<p style="text-align:justify;">Warung pangsit adalah langkah pertama. Langkah berikut, seperti pernah Edi Purwono bilang, dia mau &#8216;bisnis angin&#8217;! Apa itu? Bisnis angin adalah istilah dari Edi Purwono untuk berbisnis roti. Sebab dari secuil adonan akan menghasilkan roti yang menggelembung besar yang bisa dijual cukup untung. Padahal, di tengah roti itu kan cuma angin? Lipat-lipat lho marginnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Ada lagi yang lain? Sampai akhir 2009 ini masih yang dua itu dulu. Kalau modal sudah terhimpun lagi pasti ada rencana-rencana lainnya! Jangan lupa, yang ada dalam rencana Edi Purwono bukan sekedar buka warung semata, tetapi juga jurus-jurus pamungkas pemasarannya! Otak kanannya seperti tak hendak berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Salamku!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=38&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/09/02/tukang-masak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku, Edi Purwono : Tabloid yang Terhenti</title>
		<link>http://edipurwono.wordpress.com/2009/08/31/aku-edi-purwono-tabloid-yang-terhenti/</link>
		<comments>http://edipurwono.wordpress.com/2009/08/31/aku-edi-purwono-tabloid-yang-terhenti/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 06:38:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipurwono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipurwono.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Tabloid IT yang aku pegang di urusan keredaksiannya itu menjadi sebuah tabloid yang cukup membuat nyali beberapa penerbit media komputer lain yang berbentuk majalah rada jerih (cemas). Sebagai bentuk yang tabloid seperti itu dengan mudah ia bisa dipasarkan tak ubahnya koran-koran biasa, yang bisa murah. Beda dengan majalah yang harus rada eksklusif en&#8230;. mahal. Mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=35&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tabloid IT yang aku pegang di urusan keredaksiannya itu menjadi sebuah tabloid yang cukup membuat nyali beberapa penerbit media komputer lain yang berbentuk majalah rada jerih (cemas). Sebagai bentuk yang tabloid seperti itu dengan mudah ia bisa dipasarkan tak ubahnya koran-koran biasa, yang bisa murah. Beda dengan majalah yang harus rada eksklusif en&#8230;. mahal. Mana tak pantas pula kalau majalah terbit mingguan, kecuali majalah berita. Akan sedikit elit kalau terbitnya bulanan. Kan mahal? Nanti kalau keseringan muncul duit pembacanya kan cepet abis?</p>
<p style="text-align:justify;">Format tabloid sangat menguntungkan. Bisa terbit secara mingguan, dam dengan demikian mampu memuat perkembangan-perkembangan terakhir dunia IT yang beberapa hari lalu terjadi. Sementara kalau bulanan, persiapannya sendiri sudah hampir sebulan, maka mereka ketinggalan dengan perkembangan terbaru dua bulan yang lalu. Dan karena sudah terlanjur ketinggalan, maka biasanya mereka membuat tulisan yang diusahakan lengkap. Padahal untuk lengkap sama sekali, mesti menunggu berita-berita 1-2 bulan lagi. Sementara aku, di tabloidku, main tabrak lari saja. Jika kurang lengkap, ya tunggu minggu depan di edisi berikut. Kan nggak terlalu lama kalau mau penasaran, bukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Beda yang lain, adalah bahwa di kebanyakan media IT lain mengandalkan para penulis yang &#8216;hanya&#8217; berpengetahuan komputer. Fresh-fresh graduare dari sekolah IT yang belum cukup pengalamannya di implementasi. Mereka gampang kagum dan terkesima oleh kemajuan teknologi tertentu, yang menurut mereka hebat, sementara di tataran implementasi masih belum ketahuan. Masih nunggu teknologi tersebut benar-benar mateng dan teruji. Pun pula tak mudah bagi organisasi-organisasi bisnis untuk pindah platform. Mereka takut sistem informasi yang sudah jadi andalan kegiatan bisnis mereka terganggu, yang membuat kegiatan bisnis menjadi rada tersendat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara, aku sebagai pemimpin redaksi tabloid IT-ku, sudah hampir 20-tahun malang melintang sebagai konsultan sistem komputerisasi di banyak perusahaan besar merupakan jaminan bahwa aku bakal tahu persisi mengenai apa sebenarnya informasi It yang dibutuhkan oleh para praktisi. Selain aku juga perlu menyampaikan perkembangan terbaru di bidang IT, aku juga bisa menuliskan mengenai opiniku tentang manfaat, resiko, dan berbagai hal lain terkait perkembangan tersebut dan hubungannya dengan implementasi pengolahan data di berbagai &#8216;user&#8217; komputer. Sebagai konsultan IT pula maka aku punya keberanian tinggi (kan aku Edi Purwono?) untuk tampil di berbagai seminar. Bahkan aku pernah jadi host sebuah acara tetap TVRI Surabaya, mengenai IT. Makin moncer saja tabloidku jadinya&#8230;.! Belum lagi aku juga banyak diminta mengajar, sebagai dosen, di sejumlah perguruan tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti aku pernah cerita sebelumnya, di tabloid IT yang aku kelola itu aku cuma ngurusin soal keredaksiannya saja. Menjamin bahwa bahan-bahan sudah siap naik cetak pada waktunya. Kalau libur lebaran malah bisa-bisa dalam seminggu harus bisa menerbitkan tiga edisi sekaligus. Karena percetakan akan tutup, para agen juga tutup, dan pengasong pada mudik.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena aku berpengalaman menjadi redaksi tunggal, maka aku hampir tak kesulitan mempersiapkan tabloid tersebut, meski harus digeber seperti rapelan tadi. Bahkan para anak-buah penulisku pun tak perlu ikut gemetar harus mengejar deadline. Biarpun mereka tak mengirimkan tulisannya, aku tak mempersoalkan. Tau-tau sudah terbit. Eh&#8230; begitu itu, mereka cuma bilang, &#8216;e.. kok sudah terbit ya&#8230; Padahal aku belum nulis apa-apa&#8230;&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Tabloid yang aku kelola tersebut merupakan kerjasama modal, antara bossku yang memang bergerak di bisnis IT, dengan kelompok media terkemuka dan terbesar di Surabaya. Dari pihak bossku, kami bertanggungjawab soal keredaksian, sementara dari mereka soal pemasaran, pencetakan, promosi dan iklan. Katanya mereka jago-jago di urusan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuh tahun sudah tabloidku terbit, tanpa pernah kesulitan jadwal terbit, dan content keredaksiannya. Sampai suatu saat ada kabar menyambar bak geledek, tabloid tidak bisa lagi dicetak. Perintah boss pihak &#8216;sana&#8217; yang memerintahkan hal tersebut. Kenapa? Tabloid ternyata punya hutang kepada percetakan milik pihak &#8216;sana&#8217; tadi cukup besar. Harus dilunasi!</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itulah aku baru diajak bicara di luar urusan keredaksian. Sebab tak cuma tabloid dihentikan cetaknya, juga para awak tabloid pun tak diberi gaji. Pokok berhenti, begitu saja! Aku sih masih punya gaji dari bossku di mana aku bekerja, tidak dari tabloid. Tapi bagi mereka yang cuma melulu bekerja di tabloid IT?</p>
<p>Usut punya usut, aku baru tahu bahwa selama ini telah terjadi penyelewengan di urusan non-keredaksian. Tagihan iklan ditilep sama bagian iklan. Demikian juga di urusan distribusi-sirkulasi-langganan. Tagihan tak disetor ke kantor. Lalu yang pegang urusan internal pun banyak bikin penggelapan. Misalnya tiba-tiba ada tagihan servis komputer, beli ina-ini, entertain klien yang tak jelas. Gimana tidak, semuanya di satu tangan, ya pegang duit, ya ngurusi keperluan kantor. Aku mana tahu? Padahal aku sudah mengusahakan sehemat dan sepelit mungkin. Rasanya aku seperti disabotase mentah-mentah. Ditelikung dan dibokong habis. Dikhianati secara terang benderang! Tabloid yang sudah merupakan separuh nafasku, begitu saja harus lepas! Justru oleh kalangan sendiri!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam beberapa bulan, teman-teman redaksi masih bertahan. Rata-rata mereka masih bujangan, dan masih terima kiriman orang tua mereka, karena masih kuliah. Sekali-sekali mereka masih mampir ke kantorku, sekedar silaturahmi denganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu aku kebetulan punya penghasilan tambahan dari sejumlah proyek pengembangan komputerisasi dan konsultasi komputer. Sehingga meski cuma sedikit, kecil-kecilan, para mantan redaksiku masih bisa aku sangoni, setidaknya separuh dari gaji mereka sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak tahan melihat masa depan mantan redaksiku yang begitu saja diklemprakkan oleh boss membuat aku punya gagasan, untuk menerbitkan majalah IT sendiri. Karena duit tak banyak, maka majalah itu kami rencanakan terbit bulanan saja. Mereka setuju, dan pindahlah &#8216;kantor&#8217; mereka ke rumahku. Sempat muncul hampir setengah tahun, enam edisi, tiba-tiba tabloid IT yang semula dipingsankan oleh boss &#8216;sana&#8217; berencana terbit lagi. Boss &#8216;sana&#8217; menggandeng investor lain, sehingga para awak penulis yang semula kerja di rumahku, direkrut lagi. Aku? Tidak termasuk. Sebab aku kan memang punya kerjaan di bossku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibatnya, majalah IT yang terbit dari rumahku itu pun mengulang sejarah awal penerbitan tabloid-ku dulu. Cuma ada Edi Purwono. Majalah sudah punya pasar, pembaca dan pelanggan sudah meliputi Indonesia Raya, masa harus berhenti. No way, kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Untung cuma bulanan, maka aku masih punya waktu yang sangat berlebih untuk menerbitkannya sendiri. Ya nulis, ya nge-layout, ya bawa ke percetakan, ya nggendong ke sana-sini untuk promosi, cari iklan, nganter ke agen, kirim ke pelanggan, semuanya aku lakukan secara paripurna. Di boks redaksi, agar tidak terlihat melompong, maka aku isikan nama-nama seperti Edi Purwono, Edi Pribadi, Masedi Sorangan, nama anak-anakkua yang kala itu masih SD, termasuk anak ketigaku yang almarhum (aku beri dia jabatan koresponden luar negeri!),</p>
<p style="text-align:justify;">Majalah itu sempat terbit setahun, dengan segala jerih payah yang super melelahkan. Lalu tiba-tiba badai krisis moneter menghantam dunia. Proyek-proyek komputerisasi dan konsultasi banyak distop. Perusahaan lebih berkonsentrasi untuk menyelamatkan diri dari sergapan badai krismon (krisdayanti montok?) tersebut. Maka sumber penghasilanku menciut. Penjualan majalah juga berkurang, sementara harga-harga naik lima kal lipat. Ya harga kertas, ongkos cetak, angkutan, dan lain-lainnya. Maka dengan gagah berani aku putuskan menghentikan penerbitan pribadiku tersebut! Agen-agen, terutama luar Surabaya, karena tak aku kirimi majalah baru, duit penjualan edisi lalu pun tak mereka kirimkan. Komplit bin sempurna en.. paripurna sudah!</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai hari ini aku masih suka penasaran untuk punya atau terlibat dalam urusan media. Sayang, belum pernah ketemu sama pemodal. kalau saja ada, aku berani menjamin kalau mampu menghadirkan media yang pasti menguntungkan, laku, dan diminati. Semua rahasia pemasaran, distribusi, dan trik-trik soal media sudah dalam genggaman. Soal content, tak perlu ragu. Silahkan mau model apa. Mau majalah wanita, boleh! Majalah IT dan teknologi? Tak soal. Majalah berita dan bisnis, wuah&#8230; aku jago juga, kok!</p>
<p style="text-align:justify;">Cuma penerbitan media memang sebuah bisnis yang bermodal gajah, namun dengan keuntungan tikus di awal-awalnya. Perlu dayatahan cukup. Kalau mau jadi gede, aku yakin bisa melakukannya. Tak soal dengan makin surutnya kapasitas penglihatanku. Asal ada yang menuntun aku, atau mengantarkanku, semuanya pasti bisa diatasi. Otak ini adalah otak milik Edi Purwono, yang sudah sangat teruji dan terlatih menghadapi berbagai cobaan berat. Otak ini selalu bisa menghadirkan solusi-solusi yang mampu menembus persoalan apa pun. Insya Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Salamku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edipurwono.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edipurwono.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edipurwono.wordpress.com&amp;blog=9158017&amp;post=35&amp;subd=edipurwono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edipurwono.wordpress.com/2009/08/31/aku-edi-purwono-tabloid-yang-terhenti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ee9ca72ec29b08742b43d2a650b596dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edipurwono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
