Sepenggal wiracarita Hindu kuno bertajuk Mahabharata dengan kisah pamuncaknya, Bharatayudha.
Sebuah perang besar di antara keluarga sedarah, wangsa Bharata, yang terpisah karena keangkaramurkaan dan budi luhur, Korawa di sisi kiiri, dan Pandawa di sisi kanan.
Bharataytudha bak simbol dari pertentangan abadi dalam kehidupan umat manusia di dunia, bagi mereka pemuja nikmat keduniawian, yang bahkan ingin menantang kodrat ke-Ilahi-an, kadewatan yang maha agung, melawan pihak yang menjunjung kebenaran dan keadilan, kekasih Tuhan, Hyang Widhi Wasa, penguasa dunia.
Kisahnya yang penuh intrik, kebencian dan kedengkian, serta keserakahan, di satu pihak, harus berhadapan dengan tangan-tangan kebenaran yang diturunkan oleh para Dewata Gung, melalui para ksatria yang lurus budi.
Tembang megatruh, adalah tembang kematian, yang melengking getir dan amat pahit, mengiringi kematian para pendosa, yang harus kalah oleh kebenaran dan budi luhur. Pun pula kematian para ksatria pembela kebenaran yang harus merelakan menjadi tumbal bagi keabadian kebenaran dan keadilan.
Ini adalah sebuah puisi-puisi panjang, yang coba aku tulis, untuk mengenalkan kalian pada sebuah cerita yang melegenda, menjadi sebuah contoh dan bayang-bayang (dan karena itu disebut wayang) mengenai bagaimana hidup manusia tergelar di muka bumi ini.
Semoga kita bisa memaknainya, akan sebuah kisah adhi-luhung, yang ditinggalkan oleh para winasis, pujangga-pujangga yang memiliki keluhuran budi, dalam menyampaikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran, keadilan, dan kepantasan.
Semoga ada gunanya,
Edi Purwono
Catatan :
Seluruh puisi-puisi Simfoni Megatruh di Padang Kurusetra bisa diintip di category Bharatayudha.
Posted by Bro Neo on August 25, 2009 at 10:25 pm
setuju om, megatruh memang tembang yang nglangut, menyayat hati, getir, pedih…
megatruh = megat – ruh
salam saya